Kamis, 17 April 2014 | 16:57 WIB
Follow Us: Facebook twitter
PAS dan PKS
Headline
Oleh:
web - Selasa, 29 Juni 2010 | 11:18 WIB
HILMI Aminuddin, ketua Dewan Penasehat Partai Keadilan Sejahtera(PKS) yang sangat berpengaruh, secara mengejutkan mengundang Ariel dan Luna Maya yang sedang terjerat kasus pornografi bergabung dengan partainya.

PKS memang penuh kejutan belakangan ini. Dalam musyawarah nasional (munas) partai yang baru saja selesai diadakan di Ritz Carlton yang mewah, terjadi gebrakan yang membawa PKS ke posisi lebih netral. Partai ini mengembangkan basis pendukungnya di luar batas kaum Muslim konservatif.

PKS menyetujui penerimaan anggota non-Muslim. Di tengah masalah jalur Gaza yang dipenuhi sentimen, tindakan PKS mengundang Duta Besar Amerika, Cameron Hume, juga cukup mengherankan.

Banyak pengamat menganggap strategi PKS cuma sebagai taktik political marketing. Benar saja, kini segala ingar-bingar ini mulai memudar dan PKS tampak kehilangan momentumnya.

Dalam pemilu legislatif 2009, PKS hanya mengumpulkan 7,8% suara, jauh di bawah angka yang mereka targetkan, 20%.

Tapi, bila kita menengok sejenak ke PAS (Pan-Malaysian Islamic Party) di seberang Selat Malaka sana, kita akan menemukan hal yang cukup mirip dengan PKS.

Kebetulan, PAS juga baru saja menuntaskan pertemuan tahunannya. Dalam pertemuan itu, penerimaan anggota non-Muslim juga menjadi masalah cukup penting.

Saat ini PAS berada dalam koalisi oposisi dengan partai yang didominasi kaum sosialis dan non-Muslim, DAP (juga dengan PKR, partai Anwar Ibrahim). Aliansi ini telah mempercepat gerakan PAS memasuki arus utama kancah politik, dan kini PAS harus mengurusi dengan berbagai macam masalah nasional.

Menariknya, PAS (dengan basis ulamanya yang begitu kuat) telah menjadi lebih pluralistik dan akomodatif dibandingkan musuh utamanya, partai nasionalis UMNO yang sedang berkuasa.

Sebagai contoh, PAS telah menerima kata 'Allah' digunakan warga Malaysia non-muslim sebuah masalah sensitif yang telah memicu serangkaian insiden pemboman gereja yang terjadi tahun ini.

Tetapi masih belum jelas apakah perubahan ke arah moderat ini cukup untuk membuat PAS lebih kuat? Kedua partai Islamis ini menghadapi tantangan serupa.

Namun begitu, posisi PAS sedikit lebih kuat dari PKS. Dalam Pemilu 2008, partai ulama ini, dengan basis rural-nya yang kuat, memenangkan suara ekstra 5%, sementara setahun kemudian, PKS hanya mampu mengantungi kenaikan 0,4% suara. Tentunya konservatisme Malaysia yang lebih besar sedikit banyak ada pengaruh di sini.

Rasanya adil juga bila dibilang para pengamat cukup dibuat terkesan dengan PAS dan PKS yang relatif lebih disiplin, apalagi dibandingkan dengan partai-partai arus utama yang rentan korupsi dan kolusi.

Walau begitu, reputasi bersih yang digembar-gemborkan ini mulai goyah ketika kenyataan saat memegang tampuk kekuasaan menuntut banyak kompromi sebagai konsekuensinya. Di Malaysia, persepsi baik tentang PAS dinodai oleh lamanya periode PAS memerintah negara bagian Kelantan yang terbelakang secara ekonomi.

Partai-partai Islamis juga menghadapi tantangan belajar satu suara. PAS perlu merekonsiliasi fraksi-fraksinya; terutama para ulama dan para Erdogan (teknokrat moderat), yang telah membantu memodernisasi partai.

Tugas PKS adalah mengontrol para pemimpin seperti Tifatul Sembiring, seorang menteri kabinet telah mengundang kritik atas sejumlah pernyataan publiknya.

Tapi tantangan terbesar bagi kedua partai ini adalah 'penghijauan' politik Indonesia. Intinya, berbagai masalah seputar kaum Muslim (serta pendukungnya) telah masuk ke arus utama. Semua partai besar bahkan PDI-P yang sangat sekuler, sudah ikut mengurusi masalah dan perjuangan Islami, seperti sayap Islam dari partai Soekarno, Baitul Muslimin.

Terpilihnya Anas Urbaningrum sebagai ketua Partai Demokrat adalah titik tonggak yang sangat penting. Pertama, terpilihnya Anas telah meningkatkan kredensi Islamis dari partai SBY ini, karena dia mempunyai koneksi kuat dengan Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah, yang telah bertahun-tahun dibangunnya sejak menjadi aktivis di jaringan mahasiswa, HMI.

Kedua, sosok Anas juga mensinyalkan masuknya aktivis mahasiswa Islam ke dalam arus utama politik, sama seperti ketika Anwar Ibrahim dibawa ke dalam UMNO oleh Dr Mahathir pada 1980-an.
Tapi, bagi PAS dan PKS, ini berarti kebutuhan akan partai-partai yang benar-benar Islam untuk memperjuangkan masalah-masalah Islam menjadi semakin sedikit.

Hanya waktu yang akan menentukan apakah eksperimen sentris mereka ini akan berhasil. Tapi satu hal yang pasti, semua orang menyambut baik evolusi mereka ini, bahkan pun tanpa kehadiran selebriti di partai mereka.

Sebuah iklan TV yang menunjukkan para pekerja PKS menyemir Pancasila dan rencana pendukung PAS untuk berdemonstrasi menentang perjudian dengan memakai kaos sepakbola, menjadi contoh kesamaan strategi yang menarik dari kedua partai, dengan menggunakan budaya populer sebagai sarana untuk menyebarluaskan pesan-pesan mereka.

Mungkin kita sedang menyaksikan tibanya era Islam politis yang populis di kawasan kita. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
7 Komentar
amin
Kamis, 1 Juli 2010 | 22:36 WIB
kita sedang melihat islam brevolusi menyesuaian jaman terakhir dibumi ini. ia akan sesuai dengan kondisi indonesia.
MYS
Kamis, 1 Juli 2010 | 11:38 WIB
Rasanya tak pernah ada Hilmi Aminuddin mengundang Ariel dan Luna Maya untuk masuk PKS. Yang ada adalah mempersilahkan siapa saja yang ingin masuk PKS termasuk Ariel dan Luma Maya sebagai konsekuensi partai terbuka. Kalau mau membuat opini yang "bagus" dikitlah.
Ageng
Rabu, 30 Juni 2010 | 13:01 WIB
wadauw, baru mambaca kalimat pertama saja sudah salah dalam mengeja nama partai apalagi kalimat selanjutnya tentang analisis partai.
beye
Rabu, 30 Juni 2010 | 12:55 WIB
ya beginilah kader2 dakwah memaknai pekerjaan mereka dg tekun dan tajam melihat zaman (dg tdk mengubah substansi dakwah dan 'aqidah dakwah itu sdr). Mngkn org bingun...tapi tentu berbeda orang yang sekedar mengkritik dg aktivis2 dakwah ini yg bekerja lsg di akar rumput melihat kebutuhan rakyat.
Ahmad Latif
Rabu, 30 Juni 2010 | 07:02 WIB
Mohon kalau buat tulisan di CEK dulu. PKS adalah Partai Keadilan Sejahtera bukan Partai Kesejahteraan Rakyat.
budi
Rabu, 30 Juni 2010 | 04:58 WIB
maaf redaksi inilah.com...itu partai kesejahteraan rakyat apa itu partai baru atau kurang teliti mengetiknya?...mohon agar teliti dahulu per paragraf sebelum publikasi agar tak ada kesalah pahaman...terimakasih
pipin
Selasa, 29 Juni 2010 | 13:00 WIB
BUKAN KETUA DEWAN PENASEHAT BUNG TAPI KETUA MAJELIS SYURO PARTAI KEADILAN SEJAHTERA BUKAN PARTAI KESEJAHTERAAN RAKYAT, MOHON ANDA KOREKSI TERIMA KASIH
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.