Kamis, 17 April 2014 | 14:30 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Masa Depan Suram Ibukota Palestina
Headline
Jerusalem ibukota yang terpecah belah di antara dua komunitas yang saling bermusuhan. - atlastours.ne
Oleh: Teguh Rachmanto
web - Kamis, 3 April 2008 | 23:58 WIB
INILAH.COM, Jerusalem Israel dan Palestina saat ini kembali melakukan perundingan damai. Salah satunya membahas masa depan Jerusalem, kota yang sama-sama diklaim sebagai kota suci kedua bangsa ini. Masih layakkah Jerusalem dijadikan ibukota sebuah negara?
Jika melihat kondisi saat ini yang terpecah belah di antara dua komunitas yang saling bermusuhan, sepertinya belum pantas Jerusalem dijadikan sebagai ibukota sebuah negara. Mengapa demikian?
Sulit dibayangkan sebuah ibukota negara terisolasi oleh wilayah dan dikelilingi oleh permukiman yang dihuni penduduk yang menjadi seteru abadi warga di ibukota itu. Apa yang akan terjadi jika hal itu tetap berlanjut? Dapat dipastikan pemerintahan negara itu bagai sansak hidup, menjadi bulan-bulanan jika suatu saat konflik bersenjata pecah di antara kedua bangsa itu.
Begitulah kondisi Jerusalem jika nanti resmi menjadi ibukota Palestina merdeka pascaperundingan damai.
Itulah skenario yang dirancang Israel jika terpaksa Jerusalem, yang diklaim sepenuhnya milik negeri Yahudi itu, sebagian diserahkan kepada Palestina sebagai ibukota negaranya.
Didasarkan pada tidak relanya Israel menyerahkan kembali Jerusalem, kota yang dicaploknya pada perang Arab-Israel 1967 lalu, ke Palestina, negeri Zionis itu membangun dan memperluas permukiman Yahudi dan semakin menggusur rumah-rumah milik warga Arab.
Ini pula yang terjadi pada rumah warga Arab di Jerusalem. Alat-alat berat Israel menghancurkan rumah milik Shadi Hamdan di perkampungan Arab di Jerusalem, Kamis (3/4). Dan tak butuh waktu lama, rumah itu pun ambruk dan rata dengan tanah.
Pembongkaran perumahan warga Arab itu mencerminkan betapa peliknya isu yang dibahas dalam perundingan damai Israel-Palestina terkait saling klaim Jerusalem.
Dalam perundingan itu memang sudah disetujui pembagian kota suci kuno itu, yang dihuni 476.000 kaum Yahudi dan 250.000 bangsa Arab, tapi kedua pihak belum memutuskannya. Ini menjadi isu paling panas dalam pembicaraan damai kedua negara itu sejak November tahun lalu atas prakarsa Amerika Serikat.
Bangsa Palestina menginginkan pendirian ibukota di Jerusalem timur, wilayah yang dicaplok Israel sejak 41 tahun lalu. Sementara Israel mengklaim keseluruhan kota itu, tapi memberikan sinyal akan memberikan sebagian yang dihuni bangsa Arab.
Upaya untuk sedikit demi sedikit menyingkirkan bangsa Arab dari Jerusalem itu dilakukan Israel sejak 2004. Negara Yahudi ini telah membangun lebih dari 300 rumah di perkampungan Arab di Jerusalem, dan anehnya pendirian bangunan itu dilakukan tanpa izin. Tetapi sejumlah pengamat mengatakan izin membangun itu tak mungkin ada dan pembongkaran ini sebenarnya bagian dari kebijakan lama negeri Zionis itu untuk membatasi pertumbuhan penduduk Palestina di kota sengketa itu.
Ini pula yang ditentang kelompok Hamas. Itulah mengapa penguasa di Jalur Gaza itu selama ini tak pernah mau berunding dengan Israel, karena mereka tahu di balik pembicaraan itu, sikap licik Yahudi akan selalu muncul.
Kondisi ini yang menjadi pemikiran Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Ia mau berunding dengan Israel karena ia ingin cita-cita mendirikan negara Palestina merdeka segera terwujud. Padahal sebenarnya ia tahu bahwa dalam setiap kesempatan Yahudi itu pasti akan 'menggunting dalam lipatan'.
Itulah yang terjadi sekarang ini. Di tengah upaya membangun kembali pembicaraan damai, Israel justru menggusur rumah-rumah warga Arab di Jerusalem. Mereka juga tetap memperluas pembangunan permukiman Yahudi, meskipun Washington telah menekan mereka untuk menghentikan pembangunan itu jika tetap ingin melakukan perundingan.
Sikap licik Tel Aviv itu tak hanya ditentang bangsa Palestina dan dunia, tapi kecaman juga datang dari dalam negeri. Rabbi Arik Ascherman dari Rabbis for Human Rights, kelompok yang menentang pembongkaran, mengatakan Israel telah melanggar HAM warga Arab di Jerusalem dengan menghancurkan tempat tinggal mereka.
"Bangsa Israel dan Palestina memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan izin membangun. Mereka telah melanggar HAM karena pembongkaran ini dilakukan dengan sengaja dan dengan tujuan diskriminasi."
Padahal, di sepanjang wilayah Jerusalem Timur, ribuan warga Arab berada dalam ketakutan. Mereka selalu was-was rumah yang mereka tinggali akan digusur.
Sementara Israel menggambarkan tindakan pembongkaran itu sebagai masalah teknis. Pembongkaran itu dilakukan terhadap rumah-rumah yang tak memiliki izin mendirikan bangunan di sepanjang Jerusalem. Dan, itu dilakukan terhadap rumah siapa saja, baik warga Arab maupun warga Yahudi. Tapi dalam praktiknya, petugas penggusuran lebih suka membongkar rumah warga Arab ketimbang di permukiman Yahudi.
Kalau sudah begini, masih layakkah perundingan damai itu dilanjutkan? [I4]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.