Kamis, 24 Juli 2014 | 15:24 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Mega: Jokowi Bukan Boneka Saya
Headline
Oleh: Abdullah Mubarok
web - Senin, 31 Maret 2014 | 17:39 WIB
Berita Terkait

INILAHCOM, Manado - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri 'menyihir' ribuan massa saat berkampanye di Lapangan Sario, Kota Manado, Sulawesi Utara, Senin (31/3/2014) sore.

Dengan pidato berapi-api serta intonasi suara yang khas, Mega membakar semangat massa dan kader partai berlambang banteng moncong putih itu.

Di bawah cuaca yang mendung, Lapangan Sario yang sudah memerah sejak siang hari semakin bergelora manakala Mega yang mengenakan celana panjang hitam dan baju kemeja merah putih, memulai orasi politiknya.

Di awal orasi, Mega kembali mengungkit kekecewaannya ketika jagoannya kalah di pemilihan gubernur Sulut. "Waktu pilgub, hati saya hancur. Bendera merah (PDIP) tergulung, tidak lagi dengan megahnya berkibar," kata Mega.

Namun sekarang sudah tidak lagi. Mega mengaku telah mendengarkan keinginan rakyat Indonesia soal siapa yang akan dijadikan calon presiden dari PDI Perjuangan. Selama beberapa bulan, Mega mengaku telah melakukan 'sounding', melihat segala sisi hingga akhirnya keluarlah sebuah keputusan penting.

"Akhirnya pada 14 Maret (2014) itulah saya memberikan sebuah keputusan penting baik untuk partai maupun rakyat Indonesia. Saya lihat seorang bernama Ir. Joko Widodo, yang saya lihat dia akan bisa menjadi presiden di republik ini," ujar Mega.

Teriakan dari massa semakin membahana ketika mendengar nama sang capres diucapkan oleh Megawati. Ia menegaskan alasan memilih Jokowi bukan karena Gubernur DKI Jakarta itu kini petugas PDI Perjuangan.

"Tapi yang namanya jadi pemimpin di Republik Indonesia ini harus datang dari yang namanya nasib dan takdir," ujar Mega.

Ia pun mencontohkan ketika Bung Karno bisa memimpin dan menyatukan negeri ini. Padahal saat itu di Sulawesi Utara, di Aceh, Maluku, Irian maupun Jawa, semuanya sama-sama mengusir penjajah.

"Tapi karena tidak bersatu jadi kesatuan maka gagal, 350 tahun kita dijajah. Ketika muncul seorang pemimpin yang ditakdirkan Allah SWT memimpin rakyat Indonesia, maka 17 Agustus 1945 kita dapat memutuskan rantai penjajahan dan kita jadi merdeka," kata Mega.

Di hadapan massa, Mega kembali bertanya apakah mau mendukung Jokowi menjadi presiden 2014. Sontak saja, pertanyaan itu dijawab mau oleh massa. "Beliau (Jokowi) kirim salam. Sekarang sedang di Jatim, jalan dari satu tempat ke tempat lain mencari dukungan," kata Mega.

"Bu, salam saya untuk masyarakat Sulut. Tolong bantu saya," timpal Mega menirukan ucapan Jokowi. Mega pun optimistis PDI Perjuangan bisa meraih kemenangan di pileg 9 April 2014.

Sejak resmi mendapat mandat sebagai calon presiden dari PDI Perjuangan, serangan kepada Joko Widodo semakin bertubi-tubi. "Sekarang banyak yang coba menghalangi," kata Mega.

Mega mengajak masyarakat Sulut untuk memenangkan PDI Perjuangan di pemilihan legislatif 9 April 2014. Dengan kemenangan itu atau meraih minimal 20 persen, maka bisa mengusung capres sendiri.

"Saya ingin buktikan di Sulut, saya minta bantu, kalau Pak Jokowi ingin jadi di ronde kedua (pilpres)," kata Mega.

Menurutnya, tanpa menang di pileg atau meraih minimal 20 persen, maka harus mencari gabungan dengan partai lain atau koalisi.

"Kalau kita lakukan suatu tingkat gabungan, maka Pak Jokowi tidak akan berdiri dengan tegak sendiri. Karena seornag presiden harus tentukan sikap sendiri," ungkap Mega.

Dalam kesempatan itu Mega menepis tudingan Jokowi merupakan capres bonekanya. "Beliau kalau jadi presiden, presiden boneka? Bonekanya siapa. Bukan berarti dia boneka saya?" kata Mega.

Menurutnya, Jokowi merupakan kader partainya. Pilihan jatuh kepada Jokowi karena bekas Wali Kota Solo itu adalah orang yang punya prinsip, keyakinan dan bagaimana mensejahterakan rakyat.

"Saya sebagai ketua umum partai tidak sembarangan pilih seseorang sebagai presiden yang tidak bisa mensejahterakan rakyatnya," kata dia.

Usai kampanye, Wakil Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristianto, Eriko Sutarduga dan Bendahara Umum PDI Perjuangan menyatakan tidak ada perintah kepada Jokowi untuk menjadi boneka.

"Tidak ada perintah Jokowi jadi boneka. Pada surat perintah empat perjuangan itu tidak ada perintah seperti itu," kata Hasto.

Menurut Hasto, perintah sudah jelas dan tidak ada untuk kepentingan siapapun. "Semua untuk kepentingan bangsa dan negara serta dedikasikan hidupmu untuk rakyat. Itu sangat clear," ujarnya. [rok]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA POPULER