Minggu, 21 Desember 2014 | 06:40 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Malaysia Airlines
Teori Mahasiswa S-1 Stanford Soal Raibnya MH 370
Headline
Andrew Aude, mahasiwa Stanford University dan pesawat tercebur ke laut - (Foto: Riset)
Oleh: Bachtiar Abdullah
web - Jumat, 14 Maret 2014 | 01:41 WIB
Berita Terkait

INILAHCOM, Standford, California – Seorang mahasiswa strata-1 Stanford University, California, berteori mengenai raibnya Malaysia Airlines System (MAS) nomor penerbangan MH 370, yang mendadak merebak bak virus di Web.

Tentu teori mahasiswa itu perlu dibuktikan kebenarannya, meskipun tak boleh dikesamping begitu saja.

Andrew Aude, 20 tahun, yang belajar ilmu komputer, mengatakan kepada The Straits Times, koran Singapura, Kamis (13/3/2014) bahwa ia “pernah berpikir belajar enjiniring Ruang Angkasa” karena ayahnya punya lisesnsi pilot dan ia tumbuh di sekitar dunia penerbangan. Ketika ia masuk sekolah menengah, ia sempat menghadiri peluncuran perdana Boeing 787 dengan ayahnya yang penerbang itu.

Dalam Tumblr yang diunggahnya, Aude mengutip Pedoman Kelaikan Udara untuk Boeing 777 dari Federal Aviation Authority 2013, dan ia melihat kelemahan-kelemahan pesawat tersebut.

Menurut pedoman yang dikutipnya, ada laporan mengenai “retakan pada kulit badan pesawat di bawah adapter antenna satelit komunikasi (satcom)”.

Dari sini, Aude berteori, bahwa MH 370 mengalami masalah yang sama, yang menuntun pada kegagalam komunikasi berbasis satelit, selain juga terjadi perlambatan dekompresi pada pesawat yang membuat para penumpangnya tidak sadar dan para pilotnya mengalami disorientasi.

“Jika dekompresinya cukup lamban, kemungkinan para pilotnya tidak menyadari harus segera memakai topeng oksigen dan sampai akhirnya terlambat,” tulis Aude.

Ia juga mencatat bahwa pesawat Boeing 777 tak secara otomatis memerintahkan penggunaan topeng oksigen kepada para penumpang sampai kabin pesawat turun pada ketinggian 13.500 kaki (4,2 kiklometer).

Kemudian, para penumpang kemungkinan menjadi tidak sadarkan diri bahwa telah terjadi dekompresi yang lambat. Lebih lanjut, MH 370 membuat mata para penumpangnya mengantuk, dan mereka bisa mengalami kekurangan oksigen.

Fungsi autopilot sebenarnya bisa memastikan pesawat menjelajah pada ketinggian tetap sebelum tercebur ke Laut China Timur, Laut Jepang atau Samudra Pasifik, bermil-mil jauhnya dari zona pencarian intensif yang sudah berhari-hari diupayakan.

Ini yang membuat Aude berani menyimpulkan bahwa “kemungkinan besar tidak terjadi dekompresi eksplosif atau disintegrasi berjenjang”.

Teori ini menambah daftar kemungkinan penyebab kecelakaan menjadi yang keempat yang seharusnya dipertimbangkan oleh pakar kecelakaan pesawat terbang, selain kegagalan mekanikal, meledak di udara dan sabotase. Belum satu pun dari keempat teori itu yang didukung oleh bukti konkrit.

Aude menulis, “saya mencermati Pedoman Kelaikan Udara FAA 2013 pada forum PRUNE. Dalam forum tersebut, saya menemukan beberapa sistem radar Boeing 777 bergantung pada Satcom dan GPS. Saya menganggap fakta ini sama dengan ponsel yang berdering sementara pilotnya bergumam saja. Maka saya memberikan penjelasan yang saya ajukan ini.”

PRUNE adalah Professional Pilots Rumour Network, sebuah situs web penerbangan untuk para pilot maskapai penerbangan dan para penggemar penerbangan.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA POPULER