Senin, 21 April 2014 | 12:37 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Indonesia tanpa WIB-WITA-WIT
Oleh: M. Ichsan Loulembah
web - Senin, 31 Maret 2008 | 16:30 WIB
DI Harian Media Indonesia edisi 23 Oktober 2007, saya pernah menulis tentang perlunya mengubah pembagian waktu Indonesia dari tiga Waktu Indonesia bagian Barat (WIB), Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia bagian Timur (WIT) menjadi satu saja.

Setelah artikel tersiar, saya menerima banyak tanggapan. Secara umum, para penanggap mulai dari para politisi, komentator sosial politik, pengusaha, dan kaum professional bersetuju.

Bedanya hanya, sebagian di antara mereka (khususnya para politisi dan orang pemerintah) lebih hati-hati dan mempertimbangkan kapan kebijakan tersebut dilakukan. Walaupun secara umum mereka menganggap soal itu menarik dipertimbangkan.

Seperti diketahui, pada 1950 negeri kita memiliki 6 (enam) wilayah waktu. Masing-masing berbeda 30 menit. Pada 1 Januari 1988 melalui Keppres Nomor 41 tahun 1987, perbedaan waktu tersebut diperlebar menjadi masing-masing 1 jam, dan pembagiannya diperkecil menjadi 3 (tiga) saja, seperti sekarang.

Secara umum kita memperlakukan kenyataan tersebut secara taken for granted. Padahal, jika merujuk sejarah, pembagian waktu tersebut adalah domain kekuasaan. Keputusan politiklah yang menentukan waktu. Bukan para ilmuwan.

Kenyataan lain; beberapa negara-negara tetangga berada pada garis bujur dan lintang yang nyaris sama dengan kita. Malaysia misalnya, tidak membedakan waktu antara wilayah negara jiran itu antara yang berada di semenanjung dan di Kalimantan.

Singapura juga memiliki waktu yang sama dengan Malaysia. Padahal kedua negara tersebut berada pada garis yang hampir sama dengan Sumatera.

Tidak mengherankan jika dalam lingkup ASEAN, sejak 1995 pernah digagas sebuah program bertajuk ASEAN Common Time (ACT). Dengan dasar, mencari kemungkinan menyatukan waktu di antara sesama negara ASEAN. Minimal antaribukota negara-negara di kawasan Asia Tenggara agar tercipta berbagai kegiatan ekonomi, budaya, politik, dan sebagainya.

Sebenarnya, program ini mulai berjalan dan mendapatkan tanggapan posistif dari kepala-kepala negara anggota ASEAN. Namun krisis ekonomi bergelombang yang turut menghantam kawasan ini, menenggelamkan isu tersebut. Tahun 2004, Malaysia meminta program ACT dibicaran kembali.

Kembali ke Indonesia, perubahan parsial sebenarnya pernah terjadi. Bali yang pernah menjadi bagian dari WIB, karena alasan turisme akhirnya digeser menjadi bagian dari WITA. Karena banyak wisatawan yang lebih panjang masa tinggal akhir pekannya di Bali, ketimbang tergopoh-gopoh mengejar penerbangan lanjutan mereka dari Jakarta ke negerinya.

Itu baru dari segi turisme. Pemakaian kebutuhan listrik menjadi tidak lebih boros, karena konsumsi listrik tidak menjadi lebih panjang. Waktu menonton televisi misalnya, menjadi seragam. Waktu utama (prime time) yang sejajar membuat produktivitas anak bangsa dan aktivitas dimulai pada jam yang sama.

Ini juga penting untuk asas keadilan; terutama bagi WITA dan WIT. Sehingga, masyarakat di WITA dan WIT tidak harus menonton acara TV satu-dua jam lebih lambat dari WIB. Padahal mereka lebih dini memulai aktivitas.

Jika perubahan secara parsial - Bali dijadikan WITA saja berpengaruh pada industri pariwisata, karena turis-turis Jepang sebagai penyumbang jumlah wisatawan terbesar. Apalagi jika seluruh wilayah mengalami perubahan?

Sehingga tidak akan terjadi lagi para pengusaha, profesional, politisi, dan pembicara seminar laris harus tergopoh-gopoh ke bandara pada dinihari hanya untuk mengejar penerbangan ke salah satu kota di WITA dan WIT.

Bukankah, Surabaya yang sejajar dengan sebagian Kalimantan, dan hampir sejajar dengan Sulawesi; namun berbeda 1 jam? Menyatukan dengan cara memajukan WIB dan memundurkan WIT akan memperpendek jarak ekonomi dan menyingkat jarak psikologis. Juga sekaligus mengintegrasikan wilayah Republik ini secara total?

Penulis adalah Anggota DPD-RI

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.