Sabtu, 29 November 2014 | 06:53 WIB
Follow Us: Facebook twitter
14 Daerah di Sumbar Terapkan Kurikulum 2013
Headline
Kurikulum 2013 - (Foto : istimewa)
Oleh: Haluan Padang
web - Selasa, 16 Juli 2013 | 04:05 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Padang - Dari 19 kabupaten dan kota di Sumbar, baru 14 daerah yang siap menerapkan kurikulum 2013 pada 277 sekolah. Sementara Kota Padang baru akan melaksanakan kurikulum 2013 ini setelah Idul Fitri.

Kurikulum 2013 serentak diluncurkan di 14 kabupaten dan kota di Sumbar, Senin (15/7) kemarin. Peluncuran dilakukan Direktur Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Surya Dharma di Aula SMP N 1 Padang.

Secara nasional, kurikulkum 2013 dilaksanakan pada 6.000 lebih sekolah di jenjang SD, SMP, SMA dan SMK. Sebanyak 61.17074 guru telah menerima pelatihan ,572 orang instruktur nasional, 4. 740 orang guru inti dan 55.762 guru sasaran.

Sedangkan untuk Sumbar, kurikulum 2013 diterapkan di 277 sekolah, terdiri atas 163 untuk tingkat SD, 66 untuk tingkat SMP, 34 untuk tingkat SMA, dan 14 untuk tingkat SMK. Semetara lima daerah lainnya tidak melaksanakan yaitu Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, dan Kabupaten Solok Selatan.

Khusus untuk Kota Padang, kurikulum 2013, mulai dilaksanakan usai Hari Raya Idul Fitri, karena saat ini sedang berlangsung Pesantren Ramadan di Kota Padang.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Padang Indang Dewata, sedikitnya 41 sekolah di Padang akan mulai melaksanakan kurikulim 2013.

“Persiapan sudah dilakukan baik dari segi SDM maupun hal-hal teknis lainnya, termasuk juga sudah mempersiapkan kurikulum untuk muatan lokal,” katanya.

Meski banyak yang mengkhawatirkan pelaksanaan kurikulum 2013 di Padang terlambat pelaksanaannya, namun Indang Dewata membantahnya. Menurutnya, pelaksanaan kurikulum 2013 di Padang tidak akan terlambat dari kabupaten dan kota lainnya.

Karena kota dan kabupaten lainnya, kata Indang, juga akan mulai menerapkan kurikulum ini secara efektif seusai lebaran. Di awal tahun ajaran baru ini, siswa masih disibukkan dengan kegiatan masa orientasi siswa (MOS).

“Kita sendiri, sudah melaksanakan kegiatan MOS sebelum Ramadan. Pelaksanaan kurikulum pun sudah dirancang sedemikian rupa sehingga tidak terlambat,” katanya, Senin (15/7) di SMPN 1 Padang.

Hal ini juga didukung oleh Ketua LPMP Sumbar Jamaris Jamna. Menurutnya, daerah diberikan otonomi untuk pelaksanaan kurikulum 2013 ini. Lainnya, sifat kurikulum 2013 ini lebih fleksibel, tidak terlalu terikat dengan waktu.

Jamaris Jamna mengatakan bahwa para guru di Sumbar sudah siap untuk melaksanakan kurikulum ini. Para guru sasaran yang sudah dilatih sebanyak 2.247 diharapakan bisa menularkan ilmu yang telah didapat kepada guru lainnya.

Terkait buku, beberapa sekolah masih belum menerima kiriman buku pegangan bagi siswa. Di SMPN 1 Padang saja misalnya, buku untuk Matematika dan Prakarya masih kurang 16 buah. Kemudian di SMAN 3 Padang, Dritayani, Humas SMAN 3 Padang mengatakan, baru tiga mata pelajaran buku yang sudah datang. Sisanya masih menunggu.

Minimal 30 Persen

Direktur Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Surya Dharma mengatakan, kurikulum 2013 ini diharapkan sudah dapat dilaksanakan minimal 30 persen dari jumlah sekolah yang ada di setiap kabupaten dan kota. Namun begitu untuk pelaksanaannya tergantung dari kesiapan kabupaten dan kota masing-masing.

“Jika ada yang dapat melaksanakan lebih dari 30 persen diperbolehkan,” katanya.

Kurikulum 2013 yang merupakan kelanjutan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi ini, baru akan diterapkan menyeluruh pada tahun 2015 mendatang.

Dia juga menjelaskan, sekolah mana yang dijadikan percontohan ditentukan oleh Kementerian Pendidikan Nasional bersama Dinas Pendidikan setempat.

Mengenai buku pelajaran Surya juga mengatakan, untuk pegangan guru, saat ini telah sampai ke tangan para guru sasasaran pada saat dilakukan pelatihan, sementara buku pegangan siswa yang dicetak oleh beberapa percetakan menang tender, juga telah dikirim langsung ke sekolah-sekolah.

Surya mengatakan, ada empat hal yang mendasari perubahan kurikulum tersebut. Yaitu kompentensi, materi, proses pembelajaran dan penilaian. Dimana empat hal tersebut, walau sudah baik, namun ada beberapa hal yang perlu di perbaiki sehingga perlu rekonstruksi ulang.”Untuk kompetensi misalnya, akan lebih menitik beratkan pada tiga hal, yaitu sikap, keterampilan dan perilaku,” jelasnya.

Surya juga menambahkan, untuk materi, perlu ada perbaikan. Karena selama ini dinilai masih ada kerancuan dalam pemberian materi pelajaran. Misalnya, ada pelajaran yang mestinya harus diajarkan namun justru tidak diajarkan, dan sebaliknya yang harusnya tidak diajarkan malah diajarkan.

“Contohnya untuk pelajaran tingkat SMP mengenai pembacaan data harusnya diajarkan, namun tidak ada, dan untuk tingkat SD masalah parlemen atau lembaga tinggi negara harusnya belum diajarkan, namun malah diberikan,” jelasnya.

Untuk itu, untuk proses pembelajaran pada kurikulum 2013, di tingkat SD bukan lagi fokus pada mata pelajaran, namun pada tematik integratif, tidak lagi terpisah-pisah dan baru pada tingkat SMP dan SMA untuk pembelajarannya dikelompokkan per mata pelajaran.

Kemudian untuk penilai, tidak lagi hanya berdasarkan nilai test, namun juga bagaimana prosesnya. Sebab selama ini, untuk penilaian hanya dilihat dari outputnya prosesnya tidak. Selain itu, untuk penilaian nanti juga akan dilihat dari portofolio atau karya apa yang telah siswa kerjakan.”Jadi hal-hal itulah yang harus mendapatkan perhatian,” tandasnya

Siswa Diminta Aktif

Salah seorang guru yang sudah mempelajari kurikulum 2013, Doris Yelniwetis yang merupakan guru IPA di SMPN 1 Padang menyebutkan, melalui kurikulum 2013 ini, siswa diminta untuk lebih aktif. Kemudian dalam setiap materi ataupun kompetensi dasar yang diberikan, ada empat kompetensi inti yang harus dipenuhi.

“Yaitu, nilai religius, sikap dan social, pengetahuan, dan keterampilan,” katanya.

Kemudian, tambah Doris, metode pembelajaran yang akan diberikan kepada siswa adalah melalui metode saintifik. Artinya, siswa diminta untuk mengamati terlebih dahulu, kemudian timbul pertanyaan, penalaran, dan kesimpulan.

Terkait jam mengajar, Doris mengatakan untuk IPA di SMP terjadi penambahan jam satu jam. Jadinya dalam satu minggu, mata pelajaran IPA diajarkan lima jam. Satu jam penambahan ini merupakan IPA terpadu. Mata pelajaran fisika, kimia, dan biologi akan tergabung dalam satu pembelajaran.

Nardimar, salah seorang guru Matematika di SMPN 1 Padang, juga mengaku jika dibaca dengan teliti, tidak aka nada kesulitan dalam menerapkan kurikulum 2013 ini.

“Guru harus banyak belajar di rumah. Namun waktu berbicara guru hanya sekitar 20 persen. Sisanya, siswa akan lebih banyak berbicara dan aktif dalam kegiatan kelompok,” jelasnya.

Perubahan esensial dalam kurikulum 2013 adalah sebagai berikut, seperti tertuang dalam buku panduan implementasi kurikulum 2013. Dulunya penerapan tematik integraif untuk kelas 1-3 SD, sekarang sampai kelas 4 SD. Kemudian, untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), yang dulunya merupakan mata pelaran tersendiri, sekarang merupakan sarana pembelajaran dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain.

Kemudian, untuk Bahasa Indonesia yang dulunya sebagai pengetahuan, sekarang menjadi alat komunikasi. Untuk SMA, penjurusan dulunya kelas XI, sekarang ada mata pelajaran wajib, peminatan, antar minat dan pendalaman minat.

Lainnya, untuk SMA dan SMK tidak ada kesamaan kompetensi. Sekarang SMA dan SMK memiliki mata pelajaran wajib yang sama, terkait dasar-dasar pengetahuan, keterampilan dan sikap. Selanjutnya, dahulunya penjurusan di SMK sangat rinci, sekarang penjurusan di SMK tidak terlalu rinci (sampai bidang studi). Di dalamnya terdapat pengelompokan peminatan dan pengelompokan.

Lainnya, semua mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan saintifik, yaitu mengamati, menanya, mencoba dan menalar.

Pengamat pendidikan dari UNP, Prof Dr Z Mawardi Effendi menilai, jika ada perubahan kurikulum yang dilakukan oleh pemerintah itu merupakan hal yang biasa. Dirinya menyampaikan, dalam mensosialisasikan kurikulum baru ini kepada seluruh pihak, hendaknya didukung dengan data empiris dari penelitian-penelitian yang dilakukan terhadap pendidikan di Indonesia.

“Jika menyampaikan perubahan kurikulum ini, sebaiknya juga disampaikan juga data-data yang melandasinya. Seperti data penelitian yang menunjukkan bahwa kurikulum lama sudah jelek dan memang harus diganti. Sayangnya ini tidak ditemukan,” kata Didi, sapaan akrab Mawardi Efendi.

Terkait alasan pemerintah mengganti kurikulum, karena pembelajaran di dalam kurikulum lama didominasi peran guru, Didi kurang setuju dengan pendapat tersebut. Menurut Didi, yang juga mantan Rektor UNP, LPTK dalam menyiapkan tenaga pendidikan bukanlah lembaga klasik lagi. LPTK tidak lagi mengajarkan metode ceramah, namun sudah mengajarkan siwa untuk berpikir kreatif.

Hal ini bisa dibuktikan dengan sejumlah siswa yang berhasil meraih medali dalam setiap kejuaraaan nasional maupun internasional.

“Jika dikatakan kurikulum lama tidak mampu melahirkan siswa yang berkompeten, karena kurikulum lama yang salah, saya kurang setuju. Jika ada siswa di daerah, yang tidak mampu bersaing dengan teman-teman lainnya di daerah kota, bukan berarti kurikulum yang salah. Masih banyak variabel lain yang menjadi penyebab,” jelasnya.

Variabel itu misalnya sarana prasarana yang tidak memadai. Lainnya, kompetensi guru yang tidak pernah dibenahi.

Mestinya, kata Didi, bukan kurikulum yang diubah tetapi dikaji dulu apa yang menjadi penyebab kelelamahan siswa. Nanti, setelah itu, baru diperbaiki. Hal inilah yang tidak dilakukan. Selama ini pemerintah hanya menampilkan hasil penelitian di luar negeri dengan membandingkan pendidikan di Indonesia. Sementara dunia pendidikan Indonesia jarang dibahas.

Didi juga menilai, pemerintah tidak konsisten dalam pelaksanaan kurikulum. Pada kurikulum lalu, disepakati pelaksanaan kurikulum bersifat desentralistik. Nyatanya, pada kurikulum 2013 ini, kembali lagi terpusat atau sentralistik.

Terkait pelaksanaan kurikulum yang terbatas, Didi setuju jika dilaksanakan terbatas. Artinya, bisa dievaluasi atau dilihat kurikulum mana yang bagus yang lama atau yang baru.

“Jika disebut ini uji coba, saya kurang setuju. Tapi dalam pelaksanaan kurikulum memang harus ada evaluasi, jika kurikulum ini bagus, ya dilanjutkan, jika buruk ya harus dihentikan,” katanya.

Bagi guru yang merupakan alat pemerintahan, saran Didi, dicoba dulu dan guru tidak boleh ragu dan intinya harus dilaksanakan. Kemudian walaupun kurikulum diubah, pengetahuan dan ketermapilan yang didapat oleh guru tidak akan terbuang.

Pada kesempatan itu, secara simbolis Surya Dharma menyerahkan buku untuk siswa dan buku sebagai pedoman guru.Dalam kesempatan tersebut juga ikut di hadiri ratusan guru Kota Padang Padang dari tingkat SD, SMP, SMA dan SMK beserta beberapa orang siswa, dan juga Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat Syamsulrizal. [gus]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA POPULER