Kamis, 23 Oktober 2014 | 06:54 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Penghargaan HAM SBY
Inilah Fakta Toleransi Beragama di Indonesia
Headline
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Ramadhan Pohan - IST
Oleh: Fadhly Dzikry
web - Rabu, 29 Mei 2013 | 12:13 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Ramadhan Pohan berpendapat apabila Indonesia menolak penganugerahan sebagai bangsa yang toleran berarti membenarkan anggapan bahwa kita tidak toleransi terhadap penganut agama minoritas.

"Presiden SBY layak dan seyogyanya menerima apresiasi internasional itu. Menolaknya berarti membenarkan bahwa penganut minoritas agama tertekan, terintimidasi, dan tidak berkembang di Tanah Air," kata Ramadhan, di Jakarta kepada INILAH.COM, Rabu (29/5/2013).

Faktanya, lanjut dia, rumah ibadah, utamanya gereja, vihara, pura, terus bertambah fantastis jumlahnya sejak beberapa tahun terakhir. Tengok saja Data Pusat Kerukunan Beragama Kementerian Agama jumlah gereja Khatolik bertambah 153% dan gereja Protestan menaik 131%. Vihara 368%, pura Hindu naik 475%.

"Rumah ibadah Islam, bertambah hanya 63%. Jadi, di mana kesulitan dan tertekannya minoritas," tegasnya.

Ramadhan mengakui bahwa ada kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Namun dirinya mengimbau agar hal tersebut dijadikan koreksi bersama.

"Ada memang kasuistis seperti GKI Yasmin, ini PR (pekerjaan rumah) bersama kita. Kita jangan justru menutup mata atas gambar besar kemajuan rumah-rumah ibadah minoritas. Begitu juga isu-isu Ahmadiyah dan Syiah, juga merupakan PR bersama kita," katanya.

Soal berkembangnya pro kontra penganugerahan WSA (World Statesment Award) 2013 kepada SBY, ujar Ramadhan, harus dibaca dalam kacamata demokrasi dan kebebasan opini. "Pekerjaan-pekerjaan rumah yang masih ada, harus dituntaskan bersama. Keluar, sikap kita sama, dukung," tambahnya.

Sebelumnya, dalam lawatannya ke Amerika Serikat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diagendakan akan menerima penghargaan dari WSA. Penghargaan tersebut diberikan karena bangsa Indonesia dinilai dapat menegakkan kehidupan kerukunan umat beragama secara damai dan toleran, dan juga mampu menegakkan hak azasi manusia (HAM) serta melindungi kaum minoritas di Indonesia.

Rencana tersebut mendapat reaksi keras dari beberapa tokoh dan aktivis. Mereka menilai pemerintahan SBY telah gagal dalam beberapa hal tersebut dan tidak dapat menegakkan hukum yang adil di Indonesia.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung penghargaan terhadap Indonesia melalui SBY. MUI menilai penolak penghargaan tersebut hanya segelintir orang dan meminta jangan didengarkan. [yeh]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
trias
Rabu, 29 Mei 2013 | 12:55 WIB
bila tetap menerima penghargaan itu...berarti kita semua matanya sudah dibutakan oleh kesombongan.....
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA POPULER