Sabtu, 23 Agustus 2014 | 20:21 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Gorbachev Ungkap Rahasia Glasnost-Perestroika
Headline
Bekas presiden Uni Sovyet terakhir Mikhail Gorbachev - IST
Oleh: Bachtiar Abdullah
web - Senin, 1 April 2013 | 14:02 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Moskow – Bekas presiden Uni Sovyet terakhir Mikhail Gorbachev mengutuk upaya-upaya orang yang menyalahkan dirinya atas terpecahnya Uni Sovyet.
“Saya melihat perlunya desentralisasi dan modernisasi USSR (Uni Sovyet), namun saya menghendaki tetap dipertahankan kesatuan Uni Sovyet. Setiap upaya menyalahkan saya atas runtuhnya Uni Sovyet, itu tidak bertanggung jawab, tak berdasar dan bohong,” ujar Gorbachev ketika memberikan kuliah terbuka atas prakarsa kantor berita Rusia RIA Novosti di Moskow, Sabtu (30/3/2013).
Adalah Gorbachev yang kini berusia 82 tahun, yang mengemukakan ide serangkaian reformasi dalam “glasnost” (keterbukaan) dan “perestroika’ (restrukturisasi) pada tahun 1988. Ia menunjuk Boris Yeltsin-lah yang membuat Uni Sovyet terpecah berantakan. Yeltsin pada bulan Agustus 1991 bahkan pernah merencanakan kudeta namun gagal.
Gorbachev mengatakan kebijakan perestroika, yang dilihatnya sebagai pencapaian terpentingnya, telah membawa angin kebebasan dan demokrasi di Rusia serta Eropa Timur dan Eropa Tengah. Ia bersyukur dengan ditariknya pasukan Uni Sovyet dari Afghanistan pada tahun 1989. Jika tidak ditarik, biaya perang ini akan menjadi beban besar Uni Sovyet.
Menurutnya, gelombang protes akan lebih besar melanda Rusia jika pemimpin Rusia gagal melaksanakan sejumlah langkah reformasi.
“Pemerintah Rusia sudah berhasil menurunkan gelombang protes, tapi masalah-msalah yang dihadapi tetap sama. Jika tidak ada yang berubah, para demonstran akan menaikkan gelombang itu, yang berarti masyarakat Rusia akan melakukan upaya baru melangkah ke demokrasi sesungguhnya,”ujar Gorbachev, menjelaskan arah perubahan negaranya.
Gerakan protes muncul di Rusia setelah pemilihan anggota parlemen pada Desember 2011 namun segera tenggelam setelah Validimir Putin menang telak dalam pemilihan presiden pada bulan Mei 2012.
Gorbachev menyatakan simpatinya kepada gerakan protes di negara beruang putih itu dan rajin mengkritik Putin dalam banyak kesempatan. Ia mengatakan sistem politik Rusia perlu direformasi dan dikembangkan. Kalau tidak, stagnasi bakal tak terelakkan.
“Termin kedua pemerintahan Presiden Putin terbuka bagi kemungkinan mengimplementasikan strategi baru. Tapi kepemimpinannya mengambil jalur lain. Tak ada yang berubah selama kepresiden Dmitry Medvedev,” tambah Gorbachev yang mengkritik dua pemimpin yang bertukar kursi perdana menteri dan presiden itu.
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA POPULER