Selasa, 2 September 2014 | 13:45 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Kejahatan di Jakarta Meningkat, Data Dimanipulasi
Headline
Kejahatan (ilustrasi) - Ist
Oleh: Renny Sundayani
web - Minggu, 31 Maret 2013 | 18:00 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Aksi kejahatan di Jakarta terus saja meningkat baik dari sisi intensitas, kualitas dan kuantitas, khususnya di wilayah Jakarta Timur.

Menurut Koordinator The Jakarta Institute, La Ode Ahmadi, aksi kejahatan mulai dari penjambretan, perampokan dan pencurian kendaraan motor di wilayah Jakarta Timur yang terbilang meningkat ini menghantui masyarakat.

"Perampokan rumah warga terjadi dengan berbagai macam modus. Pelaku masuk dengan berpura pura menawarkan produk, mengaku petugas PLN dan petugas PAM. Mereka pun tak segan-segan mengancam akan membunuh apabila penjaga rumah atau pembantu rumah tangga tersebut mencoba mencari pertolongan," kata La Ode melalui rilisnya, Minggu (31/3/2013).

Bahkan, kata dia, aksi pencurian motor rata-rata terjadi tiga sampai empat motor setiap harinya. Para pelaku pun sudah sangat lihai dalam melakukan aksinya.

"Begitu pula dengan perampasan motor terjadi bisa dua sampai tiga kali per bulan. Modusnya, pelaku yang terdiri dari 3-4 orang dengan menggunakan motor, mengikuti korban, dihentikan di tempat yang sepi selanjutnya dirampas motornya," ujarnya.

Dikatakan La Ode, ironisnya saat melakukan pengecekan ke polsek, kita tidak akan menemukan data kejahatan yang tinggi. Alasannya, telah terjadi manipulasi data laporan warga ke polisi.

"Ini dilakukan agar laporan kejadian kriminalitas di wilayah tersebut terkesan tidak terlalu tinggi. Kita ambil contoh, pada awal September 2012, kawasan Jatinegara dinyatakan sebagai wilayah yang paling rawan terjadinya pencurian kendaraan bermotor, namun tiba-tiba dalam waktu enam bulan dinyatakan tidak rawan lagi," ujarnya.

La Ode menjelaskan, manipulasi seperti ini membuat warga masyarakat menjadi apatis dan tidak percaya dengan polisi. Seperti, kasus penyerangan yang terjadi di Polres Ogan Komering Ulu (OKU) oleh anggota TNI, penyerangan Polsek Barumun tengah oleh warga, merupakan beberapa contoh nyata dari suatu ketidakpuasan dan kekecewaan kepada polisi.

"Tidak mungkin hal yang sampai memakan korban meninggal dan luka serta kerugian yang cukup besar itu terjadi tanpa alasan dan sebab yang jelas," tuturnya.

Dia menjelaskan manipulasi, korupsi dan pungli yang sudah terjadi secara mengakar di dalam tubuh Polri merupakan alasan hilangnya rasa keadilan menjadi sebuah keniscayaan. Warga sudah tidak percaya lagi kalau polisi mampu menyelesaikan masalah keamanan, sehingga meraka pun melakukan penghakiman sendiri terhadap pelaku kejahatan.

"Sebenarnya masih banyak lagi sebetulnya hal-hal yang menyebabkan ketidakpuasan bahkan kekecewaan warga masyarakat terhadap kinerja institusi Polri sehingga sikap reaktif yang muncul dari warga didalam peristiwa-peristiwa tersebut diatas walaupun melanggar hukum menjadi terlihat lumrah," tambahnya. [yeh]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA POPULER