Sabtu, 19 April 2014 | 11:19 WIB
Follow Us: Facebook twitter
RI Diam Terhadap Konflik Suriah, Ada Apa?
Headline
IST
Oleh: Derek Manangka
web - Rabu, 6 Februari 2013 | 11:30 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Perang saudara Suriah yang pecah sejak Januari 2011, telah menelan ribuan nyawa tak berdosa. Dari waktu ke waktu situasi di salah satu negara Arab itu terus bereskalasi.

Perang saudara di kawasan Timur Tengah ini, cukup menyita perhatian dunia. Tercermin dari banyaknya pihak yang terlibat disana. Ada Iran, Rusia, Amerika Serikat dan Israel serta tentu saja PBB.

Jika dipetakan secara umum, kekuatan di atas terbagi atas dua kekuatan utama. Rezim yang berkuasa di Suriah, pimpinan Presiden Bashar Al-Assad, didukung oleh Iran dan Rusia.

Sementara kekuatan oposisi yang ingin menjatuhkan Assad, didukung Amerika Serikat, Israel, sejumlah negara Eropa Barat, serta beberapa negara Islam di Timur Tengah (Arab Saudi dan Qatar) serta negara Islam dari Persia (Turki).

PBB juga terlibat atau melibatkan diri dalam upaya mendamaikan perang saudara di Suriah. Tapi sebagaimana biasa, keberpihakan PBB ke rezim yang berkuasa, justru lebih ke pihak Amerika Serikat atau setidaknya terkesan setengah hati.

Jatuh tidaknya Presiden Assad, sesungguhnya tidak lagi menjadi isu utama. Sebab kalau Assad dikeroyok oleh berbagai kekuatan, nasibnya dan negaranya kemungkinan besar akan sama dengan Muammar Khadafy (Lybia) dan Ben Ali (Tunisia).

Tetapi yang paling dikuatirkan, jika perang saudara Suriah berlarut, konflik itu akan sama dengan persoalan Palestina-Israel. Setengah abad pun tidak selesai. Bahkan bukan mustahil, pecahannya akan lebih dahsyat dan dapat menganggu keseimbangan perdamaian dunia. Sebab letak geografis Suriah sangat dekat dengan Palestina.

Tanpa banyak diulas, sesungguhnya dalam perspektif diplomasi, perang saudara Suriah memiliki kesamaan dengan perang Palestina-Israel. Yang menimbulkan pertanyaan, kendati terdapat kesamaan dan para diplomat kita tentang soal ini, tetapi langkah diplomasi Indonesia, tidak terdengar sama sekali.

Demikian pula intelektual Indonesia yang paham dengan konflik Suriah, tidak sedikit. Tetapi khusus dalam persoalan sekarang, tak satupun yang mau "berteriak". Singkatnya para pemimpin kita baik yang formal maupun infomal tak satupun yang mau "berkeringat".

Semua diam, semua cari aman. Seakan dampak negatif dari perang Suriah bagi Indonesia tidak ada sama sekali. Seolah perang saudara memang hanya masalah internal, rakyat Suriah.

Kalangan pemerintah maupun masyarakat umum yang diwakili para pegiat perdamaian, diam seribu bahasa seakan perang saudara Suriah hanya masalah perebutan kekuasaan yang diakibatkan oleh ketidak puasan masyarak terhadap elit yang korup.

Akibatnya tidak ada upaya diplomasi maksimal begitu pula tak ada pengerahan relawan oleh pegiat perdamaian untuk membantu wanita dan anak-anak serta orang-orang renta yang menjadi korban dari perang Syria.

Satu hal lagi yang penting dianstisipasi, konflik Suriah, jika terus bereskalasi, dalam arti dukungan asing terhadap pihak oposisi terus menguat, hal ini dapat menyebabkan meletusnya perang terbuka antara Israel dan Iran.

Penyebabnya, Iran dan Israel sudah dalam posisi "siaga". Kalau yang tidak dikehendaki oleh Iran, diganggu oleh Israel, negara pimpinan Ahmadinejad ini akan langsung bereaksi.

Iran sejak awal sudah secara terang-terangan menyatakan, jika ada yang mengganggu Suriah, negara itu tidak akan diam. Peringatan Iran itu, secara implisit maupun eksplisit jelas ditujukan kepada Israel.

Sementara pekan lalu, Israel pun secara sengaja sudah menyerang salah satu wilayah Suriah. Sekalipun serangan itu tidak secara terbuka diakui oleh Israel, tetapi para intelejen dari berbagai kalangan mengakui adanya serangan tersebut. Sekalipun serangan itu kabarnya hanya ditujukan kepada sebuah rombongan, tetapi rombongan yang dimaksud adalah kelompok yang didukung Iran.

Rombongan itu dikabarkan sedang membawa suplai senjata dari Iran menuju Lebanon Selatan. Di Lebanon, Iran mendukung kelompok Hisbullah yang sudah puluhan tahun terlibat perang dengan Israel. Jadi serangan tersebut dapat diartikan sebagai gangguan Israel terhadap Iran.

Antara Suriah dan Israel sendiri terdapat konflik wilayah yaitu Dataran Tinggi Golan. Di perbatasan itu, Israel memantau setiap gerak Suriah, khususnya yang menuju ke Libanon Selatan, tempat dimana kelompok Hisbullah bermarkas.

Suriah yang berbatasan langsung dengan Israel, pada 1967 terlibat dalam peperangan sengit. Dalam perang itu Israel berhasil merebut Dataran Tinggi Golan. Kawasan yang merupakan salah satu daerah tersubur di wilayah Timur Tengah itu karena ada pepohonan seperti di daerah tropis serta menjadi pusat pengembangan berbagai produk pertanian, hingga sekarang tetap dikuasai Israel.

Israel sekalipun mendapatkannya melalui perang, tetapi belakangan mengklaim Dataran Tinggi Golan sebagai salah satu wilayah yang memiliki status "Tanah Perjanjian" atau tanah yang dijanjikan sang Pencipta kepada Israel.

Untuk memperkuat status itu, Israel mengerahkan sejumlah arkeolog, menggali berbagai tanah dan bebatuan sebagai alat bukti bahwa Dataran Tinggi Golan dulunya, ribuan tahun sebelumnya merupakan salah satu pusat pemukiman bangsa Yahudi. Sehingga dalam konteks perdebatan, cara Israel mengklaim kepemilikan Dataran Tinggi Golan, nyaris sama dengan apa yang dilakukannya atas wilayah Palestina.

Timbul pertanyaan, apa yang menyebabkan Indonesia diam seribu bahasa dalam menghadapi konflik Suriah? Padahal sesuai amanat konstitusi bahwa Indonesia harus berperan aktif dalam menciptakan dan menjaga perdamaian dunia.

Apakah para pelaksana kebijakan di kalangan birokrat sudah melupakan amanat konstitusi atau semata-mata keterbatasan kemampuan atau karena kualitas kepemimpinan Indonesia di forum internasional semakin tergerus? Semoga tidak demikian. [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
tshace
Rabu, 6 Februari 2013 | 11:46 WIB
SDeperti biasa para pemimpin di indo baru berkomentar, teriak2, menghujat, dll apabila israel terlibat. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menarik simpati rakyat.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.