Minggu, 26 Oktober 2014 | 09:51 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Wow! Angka Perceraian di Sumbar Meningkat
Headline
ilustrasi
Oleh: Haluan Padang
web - Senin, 3 Desember 2012 | 04:31 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Padang - Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI 2011, angka perceraian di Sumatera Barat, masuk dalam urutan 2 besar nasional, yaitu sekitar 2,53 persen berdasarkan jumlah perceraian yang dilaporkan. Menurut pakar sosiologi dari Universitas Andalas, Jendrius, alasan perceraian tidak lagi karena kesulitan ekonomi.

Dirinya mencontohkan, dalam diskusi singkat dengan salah seorang penjual di lingkungan kampus Unand, alasan istri ingin bercerai muncul karena suami yang tidak bertanggung jawab, kondisi suami yang tidak sesuai dengan keinginan, dan lainnya. Alasan ekonomi barangkali menjadi alasan yang kesekian kalinya.

Kesulitan ekonomi ternyata juga tidak selalu menjadi penyebab kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Menurut Jendrius, kasus KDRT di Sumbar cedrung mmeningkat. Kasus KDRT tidak harus selalu diterjemahkan dengan kekerasan fisik dalam rumah tangga. Bisa juga KDRT secara psikis atau mental. Hal inilah yang terjadi di Sumbar, perempuan sebagai peegang ekonomi terbesar mengalami tekanan mental dalam keluarga. Perempuan sebagai pemegang harta pusaka, kadang harus mengalah ketika tanah atau sawah digadaikan untuk keperluan yang tidak patut.

LPP Rendah

Migrasi merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP). LPP di Sumatera Barat saat ini, berada di bawah LPP nasional, yaitu sekitar 1,34 persen dengan jumlah penduduk sekitar 4,8 juta jiwa. Sementara secara nasional mencapai 1,49 persen.

Jendrius, mengatakan, LPP di Sumbar dipengaruhi budaya merantau orang Minangkabau. “Hal inilah yang menyebabkan angkanya rendah. Jika tidak ada budaya seperti ini, bisa saja laju LPP berada di atas angka nasional,” katanya, saat menjadi pemateri dalam pertemuan Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IKPB) di ruang pertemuan BKKBN Sumbar.

Katanya lagi, budaya merantau ini juga mempengaruhi posisi perempuan sebagai kepala Rumah Tangga (RT). Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI 2011, di Sumbar tercatat perempuan sebagai Kepala (RT) sebanyak 16,78 persen. Atau berada dalam peringkat 5 besar nasional.

Disamping budaya merantau, adanya kepemilikan harta pusaka di tangan perempuan juga turut mempengaruhi angka tersebut. “Kita masih beruntung, meskipun suami pergi merantau istri dan anaknya tidak terabaikan. Berbeda dengan daerah lain, bisa saja nasib istri dan anaknya diabaikan begitu saja. Ini karena kuatnya status perempuan di Minangkabau,” jelasya.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA POPULER