Kita semua menyaksikan pertunjukan Amerika dalam mempersiapkan pemilihan umum yang terjadi tiap empat tahun sekali, beberapa minggu lalu.
Meski konvensi di Tampa dan Charlotte mungkin nampak tak tersentuh oleh kita, kedua pelaku konvensi (Demokrat dan Republikan) memiliki dampak besar bagi Asia Tenggara.
Perbedaan antara calon presiden dari Demokrat Barack Obama dengan partai serta penantangnya, pengusaha –yang beralih menjadi politisi Mitt Romney dengan partai Republikan kelihatan tidak terlalu mencolok.
Partai Republikan (yang juga dikenal dengan “Grand Old Party” (GOP) ) nampaknya tersandera oleh kelompok ekstrimis “Tea Party”: terdiri dari pria dan wanita, didominasi kulit putih yang memiliki luapan kemarahan dan kekecewaan, saat ini telah menaikkan tingkat perubahan sosial Amerika yang jauh dari kesimbangan.
Sementara itu, partai Demokrat sedang berkendara dalam gelombang yang akan terjadi di masa depan: beragam etnis dan kemajemukan, yang dikemas dalam Hispanik (seperti walikota muda San Antonio Julian Castro), Asia-Amerika, dan Afro-Amerika (Ibu Negara Michelle Obama).
Riset dari Washington Post pada akhir Agustus ini menunjukkan bahwa 92% orang-orang GOP adalah berasal dari kulit putih, dibandingkan yang hanya 58% kulit putih di Partai Demokrat.
Sebaliknya, pada November 2011 para ekonom telah memprediksikan bahwa pada tahun 2050, penyebaran orang-orang latin dalam populasi akan bergerak tumbuh dari 15% ke 30%, sedangkan Afro-Amerika dan Asia-Amerika akan naik dari 19% menjadi 24%.
Hal ini juga dapat terbaca dalam pidato: Obama dan pendahulunya Bill Clinton yang telah membuat audien terpesona, bahkan seluruh negara bisa terpesona juga atas pokok-pokok kerja yang akan diusung pada masa keduanya berada di Gedung Putih.
Dua orang (Obama dan Clinton) ini seperti ahli yang baru dalam segala hal, membuat ribuan orang terpesona meskipun dalam kenyataannya – ekonomi terperosok dalam resesi dibarengi dengan pengangguran tertinggi dalam sejarah – akan cukup jika digunakan untuk memperkuat kemenangan Romney.
Bagaimanapun, baik Obama maupun Clinton – merupakan komunikator yang ulung, menciptakan pokok-pokok kerja yang diingat secara luas bagi Partai Demokrat, menjadi satu bukti dari kekuatan retorika mereka.
Sangat berbeda jika dibandingkan dengan melejitnya penampilan Obama, Mitt Romney dengan beretorika di atas mimbar gereja menjadi sangat membosankan, pernyataan yang bertele-tele dan kita dapat melihat tantangan mendasar sedang dihadapi oleh orang-orang Republikan.
Obama mampu bersinergi dan menginspirasi di mana Romney hanya memberikan informasi dan monoton, penyampaian pidatonya yang kurang mengesankan semakin memperkuat keraguan banyak pihak akan kepentingan bisnis dan kecurangan pajaknya. Kendati hal ini telah dibenarkan secara keseluruhan oleh pelayanan ekonomi pemerintahan yang terakhir.
Bagi warga di Asia Tenggara, Obama memiliki peran penting.
Pertama, lahir dan dibesarkan di Hawaii, Obama menjadi presiden pertama dari era pasifik. Lebih lagi, hubungaan personal yang didapatkan dari Ibu dan ayah tirinya yang asli Indonesia, mengilhaminya dalam memiliki hubungan emosional yang dalam untuk jadi bagian dari kita di kancah dunia.
Sekadar tambahan, adakah saya satu-satunya orang yang melihat kemiripan antara Walikota Solo, Pak Jokowi dan Barack Obama: keduanya berpostur tubuh tinggi, kurus tegak, dengan paras cendekia.
Di bawah kepemimpinan Obama, Amerika Serikat berhasil merangkul secara kukuh negara-negara di belahan Asia. Ini bukan sebuah tren yang telah lewat, memunculkan kembali kenangan-kenangan naf sang presiden pada masa kecilnya. “Real Politic” sedang berjalan sekarang, bersamaan dengan Washington yang menyesuaikan kembali kebijakan luar negerinya untuk selaras dengan realitas ekonomi Asia Pasifik yang berkembang pesat.
Sebagaimana yang pernah dinyatakan oleh Menteri Pertahanan AS Leon Panetta dalam Dialog Pertahanan Shangri-La tahun ini:
“Pada abad ini… Amerika Serikat mengakui bahwasannya kemakmuran dan keamanan kita tergantung kepada Asia-Pasifik….Tujuan utama kami adalah untuk bekerja sama dengan semua negara di kawasan ini untuk menghadapi tentangan-tantangan ke depan bersama-sama, serta memajukan perdamaian, kemakmuran, dan keamanan bagi semua bangsa di kawasan Asia-Pasifik.”
Kita harus menyadari bahwa apapun yang terjadi di bulan November, Demokrat telah berinisiatif untuk menyatakan bahwa keterlibatan Amerika dengan Asia tidak hanya dalam jangka pendek saja. Romney bisa saja memosisikan dirinya untuk terus menghadapi Cina, tetapi dia harus mengakui bahwa kekuatan ekonomi, militer dan program politiknya telah berbicara secara tidak langsung untuk memperdalam aliansi dengan kekuatan regional di Pasifik.
Meskipun Romney telah bersikukuh menyatakan bahwa Rusia merupakan tantangan terbesar Amerika, namun siapapun yang akan menjadi sekretaris dari Republikan akan tetap meneruskan landasan kerja yang sudah dibuat oleh Hillary Clinton sebelumnya.
Oleh karenanya, Amerika saat ini tidak mungkin menutup diri dari semua kawasan termasuk kawasan Asia Tenggara yang sekarang lebih banyak mendapat perhatian dari semua penjuru, sebab Asia Tenggara tidak lagi dipandang sebagai kemunduran dunia. Sebaliknya kita adalah permainan “utama” dengan Laut Cina Selatan sebagai lapangan bermainnya.
Dunia yang terlihat sangat besar sekarang jauh nampak lebih kecil. [mor]