Pada 1998, bersamaan dengan kerusuhan dan huru-hara yang menumbangkan kekuasaan Orde Baru, Pak Sumartono Hadinoto, 56, seorang pengusaha asli Solo terpaksa melarikan diri dari tempat usahanya melalui lubang di dinding setelah massa datang dan menyerang lokasi usahanya, yang kemudian dijarah lalu dibakar.
Sumartono hanyalah satu di antara banyak etnis Indo-Cina yang menjadi korban pada periode kelam sejarah republik ini.
Meskipun apa yang telah dialami benar-benar traumatis, tidak lantas membuatnya terus mengasihani diri dan membiarkan hidupnya terus berkubang dalam kesedihan dan kepahitan.
Malah pada saat saya berjumpa dengannya pada 2009, ia telah membangun kembali kehidupan dan bisnisnya. Dia kemudian juga muncul sebagai pemimpin dan advokat yang tak kenal lelah untuk masyarakat demi memperkuat hubungan antar-ras di negaranya.
Selain keterlibatannya di Palang Merah Indonesia, ia juga mendirikan organisasi Solo Bersama Selamanya (SBS) pada 2010, yang memfokuskan untuk pemberian bantuan kemanusiaan kepada korban erupsi Gunung Merapi.
Mengamati keburukan retorika sepanjang pemilihan Gubernur Jakarta putaran kedua dengan rujukan yang jamak disebut isu SARA (suku, agama, ras dan antar-golongan, contohnya mempolitisasi ras dan agama) telah mengingatkan saya kepada Pak Sumartono.
Saat itu saya berkeinginan mendapatkan makna berbeda kepada seorang yang mengalami kekerasan pada Era Reformasi dan SARA yang belakangan bergejolak. Apakah dia berpikir bahwa kejadian serupa bersifat berulang-ulang? Apakah Indonesia belum juga berubah? Apakah perbedaan masih dipandang sebagai hal yang sengit dan diperdebatkan?
Tidak diduga, Pak Sumartono dengan tegas dan optimis berujar.
"Karim, 1998 adalah masa yang sangat berbeda. Orang-orang memiliki harapan yang kecil pada masa itu. Mereka terprovokasi dan termanipulasi namun rakyat Indonesia saat ini memiliki banyak pilihan - baik dari segi peluang ekonomi maupun politik."
"Kita juga bangga kepada Walikota kita, Pak Joko Widodo ("Jokowi"). Dialah perencana kebangkitan Solo setelah kerusuhan besar dan bertahun-tahun terabaikan."
Bercengkrama dengan Pak Sumartono yang mengalami langsung tragedi tersebut namun tetap optimis, saya tidak bisa berbuat banyak namun merasa apa yang dikatakannya adalah benar dalam hal itu. Upaya yang dipaksakan untuk membuat masyarakat berfikir secara tertutup tentang ras dan agama juga tidak mencerminkan suasana kedaerahan sama sekali.
Masyarakat ingin tahu siapa kandidat yang bisa mendengarkan dan merubah kehidupan mereka dengan kalimat ‘apa untungnya buat saya?’ yang kemudian berhembuslah isu-isu tentang identitas.
Malah upaya yang terus-menerus dalam mengangkat isu-isu tersebut muncul di tengah masyarakat adalah garisbawah atas kelemahan yang melekat pada orang-orang yang tidak memiliki hal berguna untuk dibicarakan.
Ini tak ubahnya terlihat sebagai intrik keputusasaan dari elit politik yang kehilangan sensitifitas dan ketrampilan untuk menggerakkan massa dari kalangan rakyat jelata, yang kebanyakan ingin melupakan masa lalu.
Sebagai intelektual yang disegani, Azyumardi Azra mengatakan kepada saya, "Saya melihat bahwa SARA tidak akan bisa efektif untuk menstimulasi warga Jakarta. Orang-orang sekarang cerdas. Mereka tahu provokasi ketika mereka melihatnya. Disamping itu, populasi kota Jakarta sekarang telah bercampur dan warga Betawi tidak lagi menjadi mayoritas.
Namun demikian, kita perlu menyadari bahwa menjaga hubungan ras dan agama -dalam masyarakat-merupakan proses yang berkesinambungan. SARA bukanlah hal baru yang bisa kita selesaikan secara konklusif. Namun lebih dari itu adalah sebuah tantangan yang akan terus ada di setiap generasi seterusnya, yaitu generasi yang membutuhkan formula baru kepemimpinan, keberanian dan visi ke depan.
Dalam banyak hal, isu SARA yang muncul di tengah kota Jakarta ini bisa dipandang baik dalam kaitannya mengingatkan rakyat Indonesia bahawa isu ini seharusnya ditangani oleh Republik.
Dalam hal yang sama, masyarakat telah mengetahui siapa politisi layak mereka dapatkan dan jika umpan ras dan agama tidak lagi mendapat tempat di Indonesia, kemudian itu akan menurun pada pemilih yang menolak untuk memberikan suara mereka kepada pendukung umpan tersebut. Ini sama seperti perlunya dua orang untuk menari tango! [mor]