Sembari rakyat Indonesia saat ini mulai berpikir tentang perubahan peta politik dan menerka-nerka siapa yang akan menduduki Istana Negara setelah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengakhiri masa jabatannya pada tahun 2014, sangat menarik jika kita coba melihat-lihat contoh pemimpin-pemimpin di Asia yang berhasil mentransformasikan nilai kebangsaan negara masing-masing.
Tidak banyak daftar pemimpin yang sempurna tercatat dalam sejarah. Dan sayangnya, banyak dari mereka (pemimpin laki-laki dan perempuan) yang telah memimpin negara-negara kita masih memiliki ketidaksempurnaan.
Sebagai contoh, dalam kasus Jawaharlal Nehru, ide-ide dan retorika yang dimiliki mereka di masanya mungkin sangat segar dan brilian namun kinerja mereka di pemerintahan sering mengecewakan, bahkan terkesan buruk.
Pada tanggapan saya, Deng Xiaoping adalah pemimpin paling menonjol di antara semua pemimpin-pemimpin di Asia dalam abad terakhir ini. Baru-baru ini, profilnya telah menjadi subyek biografi yang diterbitkan oleh pengamat veteran Asia dan akademisi Ezra Vogel, bertajuk Deng Xiaoping and Transformation of China.
Pencapaian keberhasilan Deng yang membedakannya dengan pemimpin-pemimpin lain di Asia selama abad terakhir ini besar kemungkinan berasal dari usaha kerasnya untuk meringankan kemiskinan global.
Berdasarkan data Bloomberg, lebih dari 250 juta rakyat China mampu keluar dari kemiskinan pada masa kepemimpinannya. Seperti yang pernah Mao Zedong gambarkan "jarum di dalam bola kapas", anak kelahiran Provinsi Szechuan ini menanjak naik menjadi ketua Politburo dalam Partai Komunis China (Chinese Communist Party/CCP) setelah menempuh perjalanan yang sangat sukar dan lama - termasuk juga selama dua periode ketika Deng dikesampingkan, dibuang, dan difitnah secara terbuka.
Namun, pada tahun 1978 ketika dia kembali memegang kuasa, China - yang telah mengalami kepesatan karena Revolusi Kebudayaan - menempatkannya pada surut terendah.
Ezra Vogel menuliskan situasi pada saat itu: "Rata-rata pendapatan per kapita petani China, yang terdiri 80% daripada populasi, hanya menjadi USD40 per tahun waktu itu.
Jumlah padi yang dihasilkan per petani telah jatuh di bawah seperti yang telah terjadi pada tahun 1957.
Meskipun demikian, China benar-benar beruntung telah memiliki seorang pemimpin seperti Deng pada fase kritis sebab pada akhir tahun 1970-an, Deng telah mengumpulkan pengalaman lebih dari lima puluh tahun di dalam Partai Komunis China, militer, diplomasi tingkat-tinggi, dan tingkat pemerintahan.
Deng bukanlah orang baru, yang mendorong masuk ke pemerintahan tanpa pengalaman dalam membuat keputusan atau kekuatan nyata. Dia sama sekali tidak kelihatan seperti pilihan pertama Mao, Hua Guofeng yang tidak berpengalaman dan kurang imajinatif yang telah berhasil ia gantikan pada pencapaian puncak terakhirnya.
Sebaliknya, Deng adalah sosok yang cerdik, tekun dan benar-benar pragmatis. Lebih-lebih tragedi kehidupan keluarganya selama Revolusi Kebudayaan - anak lelakinya Deng Pufang telah dibuat lumpuh akibat serangkaian penganiayaan oleh Pengawal Merah - membuat keinginannya justru semakin kuat untuk menstabilkan dan menguatkan China.
Dalam hal lain, Deng beruntung karena sejak dini telah bersentuhan dengan pemimpin-pemimpin luar biasa. Sembari belajar di Perancis pada pertengahan tahun 1920-an, ia telah menjalin persahabatan dengan Zhou Enlai, sahabatnya yang sangat menghormati Deng.
Di tahun-tahun ketika komunis melawan Kuomintang, Deng mengambil peran penting dalam militer - memimpin orang-orang untuk perang, memotivasi, mengkordinasi dan mengelola ratusan dari ribuan tentara yang ada, memenuhi kebutuhan mereka dan menghubungkan mereka dengan warga lokal.
Keberhasilannya yang tak mudah dilupakan adalah ketika Kampanye Huaihai pada tahun 1948, setelah itu Komunis mampu melewati sungai Yangtze dengan bebas dan karenanya melemahkan semangat Kuomintang.
Sementara Deng banyak dikenal atas prestasi-prestasinya di bidang ekonomi, pengalamannya "lapangan" sebagai militer melengkapi mentalnya untuk memimpin di bawah tekanan.
Ia sangat mengerti letak pentingnya ketegasan dan kedisiplinan. Setelah bertindak, ia pasti tidak akan mundur. Ia juga mengakui pentingnya pengelolaan administrasi yang rinci - terutama saat ia berhasil mengatasi rintangan besar dalam bidang infrastruktur dan logistik, memecahkan masalah ketidakefisienan pusat kereta api Xuzhou di tahun 1970-an.
Keterbukaan Deng dan keyakinannya mengartikan bahwa ia siap memimpin China kembali ke dalam kancah global. Dia tidak punya sesuatu yang dikeramatkan dan tidak takut salah - tragedi mengerikan di Lapangan Tiananmen satu-satunya noda dalam catatan sejarahnya.
Mungkin ini adalah contoh kepemimpinan yang Indonesia harus cari: inovatif, tekun, dan selalu bersedia untuk memutuskan diri dari kekolotan. [mor]