INILAH.COM, Sinai - Bentrokan di Semenanjung Sinai Mesir makin berkecamuk Kamis (9/8/2012) antara tentara Mesir dan kelompok militan yang menguasai wilayah tersebut sejak pengulingan Hosni Mubarak.
Bentrokan itu menandai pengerahan militer Mesir terbesar di Semenanjung Sinai sejak 1979. Sekitar 60 tank, 15 kendaraan lapis baja pengangkut pasukan, peluru kendali dan ratusan tentara dikirim ke Al-Arish, kota utama di Sinai Utara, pada Kamis kemarin, untuk mendukung pergerakan pasukan yang menggempur kelompok militan Islam.
Pengerahan tentara Mesir ini diyakini menjadi yang terbesar sejak ditandatanganinya perjanjian Camp David antara Palestina dan Israel pada masa pemerintahan Jimmy Carter pada 1979. Salah satu butir perjanjian Camp David terpenting adalah diperlukan persetujuan kedua pihak sebelum menggelar pasukan di kedua sisi perbatasan. Kondisi ini bisa menciptakan demiliterisasi di Semenanjung Sinai.
Serangan kelompok militan menyasar lima pos pemeriksaan di Sinai pada Rabu kemarin, mendorong tentara Mesir mengerahkan helikopter Apache. Nil TV melaporkan serangan udara ini menewaskan sedikitnya 20 orang militan. Ini untuk pertama kalinya Mesir telah mengerahkan angkatan udara di Sinai sejak perang Yom Kippur pada 1973.
Militer juga mulai menutup beberapa terowongan illegal (dari total 1.200 terowongan) yang bisa menembus perbatasan Mesir dan Jalur Gaza. Operasi pemulihan keamanan ini dilakukan sebagai reaksi cepat tentara Mesir atas serangan yang dilakukan kelompok militan bersenjata dan bertutup kepala. Serangan ini menewaskan 16 orang tentara penjaga perbatasan, sebelum kelompok militan ini menyelinap melintasi perbatasan Israel.
Kemarin intelijen Mesir meminta Perdana Menteri Hamas Ismail Haniyeh menyerahkan tiga anggota sayap paramiliter Hamas Izz ad-Din al-Qassam yang memberikan bantuan tidak langsung kepada militan di Sinai, tulis koran Mesir al-Quds.
Mossad dilaporkan telah mengirim daftar sembilan orang militan yang diduga terkait dengan serangan hari Minggu kepada Intelijen Mesir. Kesembilan tersangka militan, kata Mossad, berafiliasi dengan "Tentara Tauhid dan Jihad di Palestina," tulis koran Israel Haaretz, mengutip Mohammed Abu Mousa Marzook, wakil ketua Biro Politik Hamas.
Hamas adalah singkatan dari Harakat al-Muqawwatul Islamiyyah yang secar harfiah berarti Gerakan Pertahanan Islam. Marzook ngotot, bahwa Mossad-lah yang bertanggung jawab atas serangan itu. Sementara Israel menyatakan serangan awal pekan ini dilakukan oleh kaum Ikhwanul Muslimin Mesir.
Ikhwanul Muslimin menuduh Mossad berupaya menggagalkan Revolusi Mesir sejak awal. Sementara Israel tetap menganggap Hamas-lah yang menjadi dalang penyerangan, sebuah tuduhan yang disangkal Hamas.
Presiden Mesir Mohammed Mursi mengatakan mereka yang berada dibalik serangan hari Minggu bakal membayar mahal. Morsi, yang merupakan anggota lama dari Ikhwanul Muslimin, belum secara terbuka menyalahkan Mossad atas serangan terhadap pos-pos perbatasan Sinai Utara.
Dalam sebuah langkah yang menegaskan otoritasnya, Mursi kabarnya telah memaksa direktur Badan Intelijen Mesir mengundurkan diri dan juga telah memecat gubernur Utara Sinai. Karena secara konstitusional militer berada di luar jangkauan Mursi, maka Ketua Hakim Agung Dewan Milter Mesir Marsekal Mohammed Tantawi memecat kepala Polisi Militer Mesir Hamdy Badeen.
Angkatan bersenjata Mesir meminta penduduk setempat dan suku-suku Badui di Sinai untuk membantu pasukan keamanan memulihkan ketertiban di wilayah tersebut. Respon tegas Mursi dan penguasa militer menunjukkan kewenangan Mesir telah bisa mengontrol situasi keamanan yang memburuk di wilayah ini.
Banyak analis yang mengaitkan kehadiran Islam militan yang tumbuh di Sinai dengan kevakuman keamanan setelah penggulingan mantan presiden Hosni Mubarak tahun lalu.
Segera setelah kekerasan meletup, militer Mesir menggelar "Operasi Elang" pada Agustus 2011 untuk kembali mengontrol di Sinai. Militer mengerahkan 2.500 personil dan 250 kendaraan lapis baja ke Sinai, seperti ditulis koran Mesir Al-Ahram. [mdr]