INILAH.COM, Damaskus – Seorang penyiar televisi milik pemerintah Suriah bernama Mohammed al-Saeed dimangsa nyawanya oleh sekelompok militan, menurut informasi dari Pengamat Hak-hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris.
Al-Saeed diculik pada 19 Juli yang lalu. Front Al-Nusra, kelompok militan yang kurang dikenal di Suriah menyatakan sebagai yang bertanggung jawab atas penculikan itu. Mereka mengunggah pernyataannya pada 4 Agustus kemarin ke forum internet yang terkait dengan Al Qaeda.
“Para pahlawan Ghouta barat di provinsi Damaskus (yang anti Basar al-Assad) memenjarakan presenter shabih (milisi pro-rezim al-Assad) pada 19 Juli. Presenter itu kemudian dibunuh setelah diinterogasi,” tulis laporan AFP. Pernyataan itu terkesan telanjang dan dingin.
Foto al-Saeed yang duduk membelakangi tembok tampak ketakutan . “Mungkin ini pelajaran bagi mereka yang mendukung rezim,” tulis pernyataan kelompok militan Islam yang gampang menghalalkan darah mahluk ciptaan Tuhan itu.
Menurut portal berita Rusia rt.com, tindakan barbar dan brutal dilakukan oleh salah satu kelompok pemerontak. Menurut reporter perempuan rt.com yang bernama Oksana Boyko pembunuhan wartawan televisi Suriah ini mirip kejadian yang dialami oleh Hala Misrati di Libya.
Hala diperlakukan buruk dan diperkosa pemberontak Libya. Misrati akhirnya dilepaskan. Ia cukup beruntung, tidak dibunuh. Kalau di Suriah, “mereka gampang sekali membunuh,” tutur Oksana Boyko. “Seluruh Front Nusra menghendaki perbaikan nasib kaum Suni di Suriah,” ujar reporter cewe ini lagi.
Sementara itu, koresponden rt.com juga melaporkan, dua orang wartawan atau lebih diculik pada hari Sabtu. Salah satu yang diculik, Talal Jinbakly, bekerja sebagai kamerawan televisi pemerintah Suriah. Yang lainnya, Mohammad Ali Hussein, bekerja pada sebuah saluran televisi pendidikan Suriah. Namun, sejauh ini belum ada komentar resmi dan lebih detail.
Juga pada Sabtu kemarin, pemberontak Suriah berusaha merebut radio penyiaran milik pemerintah dan kompleks TV di Aleppo. Bendera pemberontak dilaporkan telah dipasang di atas gedung.
Serangan terhadap stasiun TV Al-Ikhbaria yang pro-pemerintah di kota Drousha, di selatan Damaskus, memangsa tujuh wartawan dan empat penjaga keamanan tewas pada 27 Juni. Salah satu bangunan di kompleks itu hampir dihancurkan.
Penyerangan dan pembunuhan terhadap para wartawan ini menandakan kebrutalan kaum milisi anti pemerintah yang memang bertingkah liar. Konflik Suriah akan bertambah parah bila ditarik menjadi konflik sektarian sesama Islam yang beda mazhab pemikiran. Kelompok Shiah yang minoritas di Suriah diwakili kubu Bashar al-Assad yang sesungguhnya berasal dari Irak, sedangkan mayoritas rakyat Suriah bermazhab Suni. [mdr]