Dunia pendidikan Indonesia antara apa yang diidealkan dangan realitas di dunia sering berbeda.
Nilai-nilai ideal tersebut telah disosialisasikan dan ditransferkan pada peserta didik, seiring dengan itu kekerasan-pun sering terjadi dalam dunia pendidikan, yang mengembangkan nilai-nilai normatif ideal tersebut.
Memang tak seorang pun menginginkan terjadinya tindak kekerasan, apalagi di lembaga pendidikan yang sepatutnya menyelesaikan masalah secara edukatif. Tetapi mengapa masih dijumpai perilaku kekerasan?
Apakah ada sesuatu yang salah ataukah memeng demikian rapuhkah dunia pendidikan di Indonesia, sehingga kekerasan sering terjadi, cenderung selalu meningkat, baik itu kekerasan guru terhadap murid, perkelahian antar pelajarn, perkelahian antar mahasiswa, kekerasan terjadi dalam kegiatan siswa dan mahasiswa, seperti Masa Orientasi Siswa (MOS) dan Masa Perkenalan Mahasiswa?
Bahkan Presiden SBY melarang keras sekolah-sekolah yang melakukan kekerasan dalam masa orientasi, karena dampaknya negatif lebih besar dari dampak posistifnya. Kekerasan dalam dunia pendidikan harus di stop, karena tidak sesuai visi dan misi pendidikan.
Untuk melaksanakan pendidikan tanpa kekerasan diperlukan penanaman nilai-nilai, perilaku prasosial, mendisiplinkan peserta didik dengan cara positif, mengajari cara-cara menyelesaikan masalah.
Konflik tanpa kekerasan dengan diikuti pedoman yang jelas, mengikat bagi guru dan peserta didik. Harus dilakukan kontrol terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan siswa dan mahasiswa yang berpotensi kekerasan baik fisik maupun verbal.
Kegiatan siswa maupun mahasiswa yang berindikasi, berpotensi kekerasan, harus dihentikan dan diberikan sanksi yang tegas.
Tiara Indahsari
Jl. Candi Prambanan 3 Blok B No. 149
Perumahan Duren Jaya Bekasi Timur, Bekasi
tiaraindahsari10@yahoo.co.id