INILAH.COM. Jakarta - Artikel "Mempertanyakan Komitmen Keturunan China" yang didisiminasikan INILAH.COM pada Sabtu 28 Juli 2012, mendapat berbagai macam reaksi. Tulisan itu juga diposting di media jejaring sosial Facebook dan Twitter.
Sebagai penulis saya berterima kasih kepada semua kalangan yang sudah memberi tanggapan. Yang paling diapresiasi adalah tanggapan wartawati senior Nanik S Deyang. Sebab Mbak yang cerdas dan produktif ini secara khusus memuat kembali artikel tersebut di akun pribadi Facebook-nya dengan intro yang menegaskan, sangat marah kepada saya.
Saya tertarik memberi tanggapan once for all atas semua reaksi tersebut. Sebab kalau saya diam, dikira saya takut. Saya perlu memberi tanggapan, sebab kebenaran milik semua orang, bukan monopoli orang yang fasih berkoar-koar.
Kekeliruan terbesar yang dibuat Mbak Nanik adalah dia tidak membaca dengan 'hati' tulisan tersebut. Dia lupa menggunakan nalar intelektualnya. Saya paham dia marah karena sebagai pendukung Jokowi-Ahok, dia juga punya agenda dan kewajiban tertentu. Sayangnya ia berlindung di balik predikat sebagai wartawan independen.
Dia coba kesankan saya yang mengobarkan semangat rasialis (SARA) tanpa dia mau memahami hal itu sudah saya wanti-wanti di bagian awal tulisan tersebut. Mbak Nanik seolah mahaguru tentang sensitifitas SARA. Padahal jauh sebelum dia berkecimpung di dunia pers, saya sudah lebih dulu berguru dan diindoktrinasi oleh Pangkopkamtib, Menpen dan pejabat-pejabat Orde Baru tentang bagaimana pekerja pers harus menghindari penulisan soal SARA.
Mbak Nanik tidak punya apa yang disebut "double minority problem" seperti saya yang rentan dengan SARA. Ia tidak pernah mengalami perusahaan pers tempat dia bekerja ditutup oleh penguasa. Dia tidak pernah meliput peristiwa yang kalau sedikit saja kesalahan yang kita buat sebagai pekerja pers, kesalahan itu dapat menghancurkan masa depan sebuah perusahaan pers.
Hasilnya, dia tidak punya tingkat sensitifitas yang tinggi terhadap soal yang betul-betul peka. Dan dengan bekal yang minim itu, ia membuat kesimpulan tentang artikel tersebut.
Dia juga lupa, pers bisa saja menegakkan SARA. Tetapi saat ini, siapa yang bisa mengendalikan informasi yang melanggar SARA, ketika semua pemilik akun Facebook, Twitter dan BBM menyebarkannya secara bebas tanpa tanggung jawab.
Nah perspektif itulah yang tidak dicermati Mbak Nanik. Dan media INILAH.COM menurunkan tulisan itu atas pertimbangan rasa tanggung jawab yang tinggi-menghadapi audiens yang sedang bereforia oleh kebebasan tanpa bertanggung jawab.
Pembobolan bank pemerintah oleh Eddi Tanzil, kaburnya Hendra Rahardja dan Sanyoto Tanuwidjaja, atau Murdaya Poo yang dipecat oleh PDIP, pemeriksaan terhadap isteri Murdaya oleh KPK yang saya sajikan dalam tulisan itu, merupakan fakta.
Penyebutan Hary Tanoe bos MNC -yang terkesan sangat percaya diri karena sudah sukses dalam memenangi semua pertarungannya, bukan persepsi yang dipaksakan. Sanyoto, bos PT Great River yang saya sebut dalam artikel, merupakan sahabat main golf bersama (bekas) Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Edward Lee. Kami bertiga sering main di lapangan golf Cengkareng atau Bumi Serpong Damai (BSD).
Betapa kagetnya, baru pekan sebelumnya kami bertiga main golf di BSD, tiba-tiba muncul berita dia sudah melarikan diri setelah mendapat tambahan kredit dari sebuah bank pemerintah. Jujur, saya malu dan menyesal punya sahabat seperti itu.
Terlebih lagi dalam sebuah perbincangan empat mata sebelumnya ia memberi wacana, bagaimana caranya dibuat pencitraan bahwa warga keturunan tidak semata-mata berpikir untuk memperkaya diri sendiri. Mereka juga punya tanggung jawab sosial, katanya.
Kemunafikan Sanyoto tidak saya ungkap demi menjaga SARA. Banyak pengalaman empiris yang merusak, saya alami dengan beberapa sahabat keturunan China, tapi saya tidak ungkap.
Tetapi semua itu seperti mengkristal. Hal itu baru terpicu keluar setelah muncul kasus Djoko Chandra, pemilik Mulia Group. Karena menurut saya apa yang dilakukan Djoko Chandra dengan memilih menjadi warga negara Papua Nugini setelah membawa kabur uang sebanyak hampir setengah triliun rupiah dari Indonesia, merusak citra orang China di Indonesia secara keseluruhan.
Seakan membenarkan stigma bahwa bagi orang China yang kaya, masalah kewarga negaraan itu bukan hal yang terpenting. Dengan uang, mereka bisa hidup di negara mana saja. Mereka tidak punya perasaan memiliki terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Bekas bos Bank Bali, tidak perlu disebut namanya, berkeluh kesah kepada saya bagaimana dia kehilangan harta termasuk isteri. Menurut pengakuan yang bersangkutan, uang dan isteri dirampas Djoko Chandra. Tapi sahabatku ini, yang sama-sama anggota perkumpulan golf milik orang China, Olympic Golf, tidak bisa berbuat apa-apa.
Dia kalah dengan Djoko Chandra dari segi materi dan jaringan politik. (Olympic Golf didirikan Au Bintoro, pemilik Olympic Furniture dan ayah dari Miss Indonesia 2005. Di klub ini antara lain bergabung legenda bulutangkis Rudy Hartono ).
Apakah hal ini (bisa) diselami oleh Mbak Nanik? Ketika masih di Media Indonesia, saya pernah menulis tentang lapangan golf PSP, Sentul, Bogor. Oleh humas PSP saya diminta mewawancarai Pak Ali Wardhana, mantan Menteri Keuangan. Karena katanya, bos PSP tidak mau diekspos.
Pak Ali sendiri salah seorang anggota di PSP Sentul tersebut. Sebelum ketemu Pak Ali saya masih sempat berkenalan dengan bos utama PSP Pak Tryono, saat perayaan ulang tahun lapangan golf itu.
Beberapa waktu kemudian, pemilik Bank PSP yang nota bene juga pemilik padang golf itu, melarikan diri ke luar negeri beserta keluarganya. Mereka membawa kabur dana BLBI (Bantuan Bank Likwiditas Bank Indonesia).
Memori ini terpaksa saya ungkap agar Mbak Nanik jangan berusaha mencari simpati kepada masyarakat China tapi mendiskreditkan orang lain (saya). Saya tidak tahu bagaimana hubungan bos PSP itu dengan bekas Menteri Orde Baru. Tapi pastilah pelarian itu menimbulkan aib tersendiri bagi bekas pejabat Orba tersebut.
Disini terlihat dalam kepribadian bos PSP itu ada karakter yang hanya berpikir untuk diri sendiri. Nah apakah perilaku buruk ini harus dilindungi demi SARA?
Bahwasanya Ahok dikaitkan dengan ceritera-ceritera sebelumnya, karena dia manusia biasa yang juga bisa keliru. Jadi patut diberi peringatan. Jangan sampai setelah berkuasa, lalu dia juga bertingkah.
Tentang Ahok yang kutu loncat, juga bukan sebuah fitnah. Dulu PIB (Partai Indonesia Baru) kemudian loncat ke Golkar dan sekarang Gerindra. Saya diperkenalkan oleh Peter Gontha, jauh sebelum banyak orang mengenalnya termasuk Mbak Nanik. Nomor HP-nya pun masih saya simpan.
Lagi pula adalah hak azasi saya berpendapat lain dengan Mbak Nanik yang kebetulan bagian dari Tim Sukses Jokowi-Ahok. Semestinya kita saling menghargai keberadaan kita masing-masing.
Mengaitkan tulisan itu sambil menyitir beberapa ayat dalam kitab suci justru membuat situasinya berubah. Mbak Nanik sendiri lah yang mengobarkan sentimen rasialis dan SARA. Jadi bukan saya yang mewakili INILAH.COM.
Salam,
Derek Manangka