INILAH.COM, Berlin - Sekelompok figur terkemuka oposisi Suriah sedang mengambil kursus mengenai pemerintahan di Berlin, Jerman. Kursus ini dibiayai sebagian oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, sehingga bila rezim Bashar al-Assad jatuh, mereka sudah siap menjalankan pemerintahan yang demokratis.
Menurut situsweb RT di Moskow, kelompok yang mengambil kurus di Berlin terdiri dari 40 orang, termasuk para jenderal yang membelot dan kelompok Ikhwanul Muslimin. Mereka belajar ilmu ekonomi, hukum, keamanan dan bidang-bidang lain mengenai pemerintahan, yang bakal diperlukan dalam pemerintahan transisi Suriah.
“Kami menciptakan kerangka yang memungkinkan para partisipan dari Suriah bisa memfokuskan diri pada berbagai tantangan yang akan dipelajari dalam kursus mengenai berbagai masalah,” ujar Steven Heydemann, penasihat senior Institute of Peace Amerika Serikat kepada televisi ABC, menjelaskan program tersebut.
Kabarnya pelatihan ini juga akan dilengkapi dengan kunjungan kepada otoritas Jerman yang bertanggungjawab atas dokumen-dokumen Stasi, menurut berita yang disiarkan koran Israel, Haareetz. Polisi rahasia pada era Uni Sovyet telah dibubarkan dan beberapa perwiranya dilengserkan setelah reunifikasi Jerman.
Pengalaman ini mungkin berguna bagi para pemberontak Suriah, sehingga mereka sudah dilengkapi dengan pengetahuan bagaimana caranya berurusan dengan berbagai dinas rahasia yang saat ini ada di Suriah.
Baik AS maupun Jerman tidak ada yang terlibat secara langsung dalam program rahasia yang diberi judul “Dukungan bagi transisi demokratis di Suriah” itu. Pihak Jerman tetap mendapat informasi serta menyediakan dukungan logistik, sementara AS menyediakan sebagian dana melalui Kementerian Luar Negeri.
Para beking lain program pelatihan ini adalah Institute of Peace Amerika Serikat, Institute for International and Security Affairs Jerman, Kementerian Luar Negeri Swiss serta LSM Belanda dan Jerman.
Organizer pelatihan ini menekankan upaya mereka ini bukanlah bermaksud mendepak pemerintahan Bashar al-Assad, namun lebih menerapkan skenario saat kapan penggulingan itu terjadi. Sebelumnya para pejabat AS dan Eropa mengatakan Presiden Bashar al-Assad tak punya lagi masa depan di Suriah dan mestinya ia harus mundur. [mdr]