AKHIR-akhir ini media massa memberitakan soal sulitnya bahan baku kedelai untuk pembuatan tahu tempe. Bahkan para produsen tahu tempe pun mengancam mogok.
Kalau itu terjadi tentu akan menambah kesulitan masyarakat kecil yang selama ini tak mampu membeli daging karena harganya yang melonjak. Menu tahu dan tempe menjadi andalan karena selain murah dan mudah didapat, masyarakat sudah tahu kandungan giji yang baik yang terkandung dari makanan jenis ini.
Sehingga tentu akan sangat terpukul jika komoditas ini kemudian hilang di pasaran. Saat ini saja tempe dan tahu harganya sudah tinggi dengan ukuran yang diperkecil, lebih tipis bahkan di beberapa tempat sulit di dapat.
Ironisnya makanan yang banyak dikomsumsi kalangan menengah ke bawah ini, pasokan bahan bakunya sangat ditentukan oleh asing. Seperti kita tahu, bahan baku tahu tempe yang kedelai diimpor dari luar negeri. Ketika terjadi lonjakan harga komoditas dunia akibat gonjang-ganjing krisis tentu akan sangat dirasakan dampaknya bagi bahan baku kedelai.
Jadi sudah menjadi tugas wajib pemerintah untuk memberikan solusi dalam persoalan tahu tempe ini agar masyarakat kecil tidak terkena dampaknya. Kabarnya pemerintah akan memberlakukan bea masuk nol persen untuk komoditas kedelai. Namun tentunya juga harus diiringi dengan pengawasan terhadap importer nakal yang mempermainkan harga dan mengeruk keuntungan besar dari komoditas bahan pokok warga miskin ini.
RRamadhan
Karawaci, Tangerang.