Kamis, 23 Mei 2013 | 12:21 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Waktu yang Menentukan Bagi ASEAN
Headline
facebook
Oleh: Karim Raslan
web - Selasa, 24 Juli 2012 | 17:36 WIB

Di tengah ekonomi global yang semakin suram, ada satu kawasan yang tetap bersinar yaitu Asia Tenggara.

Didukung olehdemanddomestik yang naik pesat, dan jugaboomingsumber daya alam, kesepuluh negara yang terletak di antara China, India dan Australia ini mengalami pertumbuhan yang stabil – walaupun jalannya tidak selalu mulus – contohnya dengan defisit dagang yang meningkat dan fluktuasi mata uang yang susah diprediksi.

Namun, ada satu hal – atau dua hal buruk yang terjadi. Sebagai organisasi regional yang sudah lama tidak dianggap,Association of Southeast Asian Nations(ASEAN) telah menjadi target lobi tingkat tinggi dari pejabat-pejabat Amerika Serikat dan China.

Minggu lalu di Phnom Penh, dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN, atau yang bisa disebut sebagai “Great Game” yang baru, kali ini perseteruan memperebutkan superioritas dan keuntungan yang sudah lama terjadi antara Washington dan Beijing, mencapai puncaknya ketika kedua kubu itu berseteru tanpa mempedulikan tuan rumah mereka.

Ketegangan dan kemarahan yang terjadi antara kedua pihak ini begitu intens, hingga ASEAN – dalam sebuah tindakan tak terduga – tidak bisa menghasilkan kata sepakat di akhir pertemuan.

Yang menjadi obyek perseteruan ini tentu saja masalah Laut China Selatan. Isu-isu yang diperdebatkan sangat kompleks dan serius, dengan embel-embel masalah teritori, dendam historis dan kekuatan politik yang saling bertumpukan.

China mengaku sebagian besar dari Laut China Selatan adalah milik mereka, yang berarti mencakup semua yang berada dalam wilayah “sembilan titik” itu.

Sayangnya, keangkuhan teritorial China ini berbenturan dengan klaim terpisah dari Vietnam, Malaysia dan Filipina, termasuk klaim akan wilayah kepulauan Spratly yang kaya sumber daya alam. Laut China Selatan dilaporkan menyimpan 213 miliar barel minyak dan dua kuadriliun cubic feetgas alam.

Tidak heran kalau China selalu cepat mengklaim haknya atas wilayah tersebut, termasuk bentrok dengan Vietnam di tahun 1974 memperebutkan kepulauan Paracel. Negara RRC ini hampir saja mengulangi bentrokan yang sama dengan Filipina awal tahun ini, ketika kapal-kapal Angkatan Laut kedua negara berhadapan di Scarborough Shoal.

Amerika Serikat yang lebih percaya diri dan terfokus pada Asia dalam niat mereka untuk menancapkan pengaruh mereka, telah memberikan dukungan pada bekas koloni mereka. Pengerahan pasukan di Australia dan perbaikan hubungan dengan Burma dan Vietnam, dua negara tetangga China, telah menciptakan situasi yang dapat meledak sewaktu-waktu.

Dalam banyak hal, sikap ASEAN yang sulit mengambil keputusan bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Itu adalah tanda bahwa kumpulan negara ini tidak terlalu kuat, terutama bila menyangkutgeo-strategydan kebijakan bersama.

Yang menyedihkan adalah, selama ini kita sudah telanjur jalan sendiri-sendiri, dan kini kita menanggung konsekuensinya.

Keengganan Kamboja untuk ikut mendukung pernyataan bersama di Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) menunjukkan ketergantungan mereka pada China untuk bantuan pembangunan. Begitu juga Vietnam dan Filipina, yang harus menyeimbangkan antipati historis mereka pada China, yang mempunyai kekuatan ekonomi dan militer yang luar biasa besar.

Malaysia dan Singapura harus berhati-hati dalam berurusan dengan China, karena mereka punya isu keseimbangan etnis di negara mereka masing-masing. Indonesia, walaupun tidak punya kepentingan langsung di perseteruan ini, juga melihat ini sebagai kesempatan untuk memperlihatkancredentialkepemimpinannya di Asia Tenggara. Presiden SBY telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa untuk mengadakan kunjungan ke ASEAN sebagai usaha terakhir untuk kompromi.

Sengketa Laut China Selatan merepresentasikan kesempatan historis bagi Asia Tenggara. Para pemimpin kita sekarang sedang dihadapkan pada sebuah pilihan: mereka bersatu dan memenuhi janji ASEAN agar negara-negara mereka tidak dijadikan pion oleh negara-negara raksasa, atau sekali lagi menjadi korban taktik pecah belah raksasa-raksasa ini.

Segala pujian tentang integrasi dan kerjasama regional hanya akan jadi suara-suara kosong saja kalau Asia Tenggara tidak bisa punya satu suara dan membela diri sendiri. Tapi mungkin ini terdengar terlalu idealistik.

Mungkin kata-kata Lord Palmerston ada benarnya: “Sebuah bangsa tidak pernah punya teman yang abadi, juga musuh abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi.” Tapi apapun kasusnya, masalah Laut China Selatan ini adalah situasi yang menentukan nasib ASEAN. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.