INILAH.COM, New York - Rusia dan China telah menjatuhkan veto atas resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB yang mengancam menerapkan sanksi kepada pemerintah Suriah atas penggunaan kekerasan yang bisa membunuh warga sipil dalam konflik yang kian memanas.
Pemungutan suara para anggota DK PBB dilakukan Kamis (19/7) di markasnya di New York. Sebanyak 11 negara mendukung resolusi DK, dua negara menentang dan dua negara abstain. Resolusi ini ketiga kalinya dimentahkan veto Rusia dan China dalam sembilan bulan ini.
Anggota DK terdiri dari 15 negara, lima negara anggota tetap yang memiliki hak veto terhadap resolusi. “Inggris mengecam veto Rusia dan China,” ujar Mark Lyall Grant, utusan Inggris, yang negaranya memimpin penyusunan resolusi itu. Sementara AS mengecam langkah dua negara yang disebut sebagai “sebuah keputusan yang patut disesalkan”.
“Veto Rusia dan China bisa membuat rezim Bashar al-Assad makin gila,” kata Jay Carney, juru bicara Presiden AS Barack Obama, segera setelah resolusi DK diveto dua negara itu.
Resolusi yang diveto itu akan memperpanjang tugas misi PBB di Suriah selama 45 hari ke depan. Misi ini tidak bekerja efektif jika gencatan senjata yang digagas utusan khusus PBB-Liga Arab Kofi Annan tak pernah bisa dilaksanakan.
Dewan Keamanan masih punya waktu untuk menegosiasikan resolusi lainnya atas keyakinan bahwa tugas misi PBB yang 90 hari akan diperpanjang pada Jumat tengah malam nanti.
Meskipun resolusi tadi menerapkan sanksi non-militer, dalam Bab VII Piagam PBB memungkinkan DK melakukan tindakan-tindakan mulai dari sanksi diplomatik, sanksi ekonomi hingga intervensi militer. Para anggota DK dari negara-negara Barat mengatakan mereka membahas ancaman sanksi terhadap Suriah, bukan intervensi militer.
“Sidang ini membuat DK gusar. Duta Besar Jerman untuk PBB sangat mengecam posisi Rusia, namun agak lunak terhadap komentar Dubes Prancis,” lapor wartawan Al Jazeera di New York.
“Apa yang kami lihat adalah siklus pembicaraan, pemungutan suara, veto yang mengecam dan tidak seorang pun punya rencana jelas yang bisa memotong siklus ini sekarang,” ujar wartawan Al Jazeera Alan Fisher.
Teks resolusi DK didukung oleh AS, Prancis, Jerman dan Portugal. Rusia bilang tidak bisa menerima sanksi sembari menuduh negara-negara Barat menjadi dalang resolusi itu dan yang memang mencari jalan pembuka untuk bisa menekankan sanksi dan keterlibatan militer lebih jauh dalam urusan-urusan dalam negeri Suriah.
“Kalkulasi Barat menggunakan DK untuk rencana mereka yang lebih panjang untuk menekan negara berdaulat tidak akan lolos dari sidang DK,” ujar Vitaly Churkin, dubes Rusia untuk PBB, Kamis kemarin.
Kofi Annan sehari sebelumnya menemui Presiden Vladimir Putin dan Menlu Sergei Lavrov di Kremlin, untuk membujuk mereka agar keras terhadap Suriah. Juru bicara Annan, mengatakan sunhguh sangat kecewa ketika Annan tahu DK pun tak mampu mengakhiri konflik Suriah.
Konflik Suriah sudah bergolak sekitar 16 bulan silam. Banyak pihak yang ingin menyudahi rezim Bashar al-Assad yang membunuh 14 ribu warganya, sebagian besar dibunuh oleh pasukan keamanan. [Dari berbagai sumber]