INILAH.COM, Damaskus - Serangan tentara pemerintah Suriah Kamis (12/7/2012) di desa Tremseh yang mengakibatkan banyak orang terbunuh, menurut penelitian para peninjau PBB, ternyata ditujukan untuk menumpas pemberontak dan aktivis antipemerintah yang bersembunyi di desa itu.
Para peninaju PBB tiba di desa Tremseh pada hari Sabtu (14/7/2012), tutur wanita juru bicara misi PBB di Suriah, Sausan Ghoseh. Semula mereka ditolak masuk ke desa itu oleh tentara Suriah. Mereka melihat darah menggenang dan selongsong peluru tercecer di mana-mana, serta rumah dan sekolah yang dibakar.
“Serangan ini ditujukan kepada kelompok dan rumah-rumah tertentu, terutama tentara yang membelot dan para aktivis antipemerintah. Berbagai senjata digunakan, termasuk artileri, senjata otomatis dan senjata sejenis pistol,” ujar Sausan Ghoseh.
Pernyataan Ghoseh tak mengidentifikasi serangan Kamis malam itu atau jumlah korban yang meningal. Para aktivis antipemerintah mengatakan korban sekitar 100 sampai 200 orang yang terbunuh. Ghoseh bilang para pengamat akan kembali ke Tremseh pada Minggu (15/7/2012) untuk melanjutkan investigasi.
Insiden Tremseh ini memicu teriakan dunia terhadap rezim Presiden Bashar al-Assad, yang membuat sekjen PBB Ban Ki-moon harus membuat keputusan penting yang bisa menghentikan pertumpahan darah.
Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam penggunaan kekerasan yang makin gila di Suriah ini. Kubu oposisi di Suriah mengatakan sudah 17.000 orang yang terbunuh sejak pemberontakan mulai berkobar pada Maret tahun lalu.
“Pembantaian kejam ini merupakan upaya genosida, yang tak manusiawi, yang bisa melengserkan tirani yang tangannya berlumuran darah , cepat atau lambat. Rakyat Suriah yang akan menang,” kata Erdogan berapi-api.
Menurut para aktivis, desa Tremseh dikepung tentara, diserang helikopter bersenjata dan tank-tank dan sebuah keluarga disapu oleh berondongan milisi pro pemerintah. Detail serangan yang muncul belakangan, menunjukkan bahwa yang mati kebanyakan lelaki penduduk desa Tremseh yang berusaha melindungi desanya dan puluhan pemberontak bersenjata.
Penduduk mengatakan mayat-mayat teronggok tak terhitung di persawahan sekitar desa yang tidak bisa dimasuki orang karena dijaga ketat oleh tentara.
Sampai sejauh ini belum diketahui apa alasan pemerintah melakukan serangan di desa Tremseh. Versi pemerintah mengatakan serangan ini dilakukan oleh geng dan teroris bersenjata alias kubu oposisi. Kata pemerintah, ada 50 orang terbunuh dan tiga tetara Suriah tewas.
Pembunuhan ini menambah macet pembicaraan mengenai resolusi Suriah.Dubes AS untuk PBB Susan Rice, di Twitter-nya mengatakan, ”Pembantaian ini secara dramatis menggambarkan pentingnya Dewan Keamanan PBB menghukum pemerintah Suriah.”
Negara-negara barat mengusulkan resolusi yang akan mengenakan sanksi rejim Bashar al-Assad. Inggris, Prancis, AS, Jerman dan Portugal sudah mengajukan sebuah resolusi yang memberi waktu 10 hari kepada al-Assad untuk tudak memakai senjata berat, sesuai dengan rencana perdamaian yang digagas oleh utusan khusus PBB-Liga Arab Kofi Annan, atau sanksi yang akan bicara.
Para peninjau PBB juga akan diberikan perpanjangan mandat selama 45 hari, karena mandat yang sekarang segera berakhir pada 20 Juli, saat bulan puasa dimulai. Rusia menolak semua sanksi yang tidak bisa diterima dan malah mengusulkan resolusi agar mandat untuk peninjau PBB diperpanjang sampai 90 hari. (Disarikan dari berbagai sumber/tjs]