Rabu, 19 Juni 2013 | 17:21 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Tutup  
Fenomena Jokowi
Headline
Syafiq Basri Assegaff
Oleh: Syafiq Basri Assegaff
web - Jumat, 13 Juli 2012 | 11:27 WIB
Berita Terkait

Pendukung Jokowi boleh lega. Hasil hitungan cepat Pemilihan Gubernur DKI oleh sebuah suratkabar Jakarta menunjukkan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (alias Ahok) berhasil meraih 42,59%, mengalahkan pasangan Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara) yang mengantongi 34,32% suara.

Bila hasil perhitungan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) kelak diumumkan,dan hasilnya tidak jauh beda dengan ‘quick count’ yang diselenggarakansecara ‘bertanggungjawab’ dan jujur itu, maka itu seolah merontokkan klaimkesahihan beberapa penelitian sebelumnya.

Sehari sebelum Pilgub DKI (11 Juli) itu saja, umpamanya, salah satu lembagasurvei, Jaringan Suara Indonesia (JSI), mengatakan bahwa pasangan Foke-Nara masih meraup dukungan sebesar 49,6%, sementara pasangan Jokowi-Ahok ‘hanya’ mendapat dukungan 15,8% responden.

Walaupun prosentase ‘quick count’ tidak akan persis sama dengan hasil resmi KPU, tetapi biasanya perhitungan statistika itu tidak meleset dari siapa yang memenangkan pemilihan terkait.

Walhasil, sekarang walikota Solo itu bersama pasangannya Ahok bolehbersiap-siap, masuk ke putaran kedua.

Jokowi dan Ahok memang tidak sibuk dengan politik pencitraan yang temporer dan seringkali kosmetis belaka – melainkan justru membangun nama baik secara berkarakter, berkesinambungan (jangka panjang), sederhana, ‘egaliter’, inklusif, dan bersahabat dengan tulus (bukan dibuat-buat) dengan rakyat.

Perlu dicatat, ketika kita bicara ‘rakyat’, maka itu bukan saja ‘wong cilik’ seperti pedagang kaki lima – yang di Solo merasa sangat di-‘manusia’-kan oleh Jokowi – pedagang warteg, buruh, atau ‘rakyat kecil’ lainnya, melainkan juga mereka yang berada di lapisan kelas menengah dan atas.

Barangkali karena itu pula, bahkan di Kelurahan Gondangdia, Menteng,Jakarta Pusat -- yang merupakan kelurahan tempat tinggal Foke -- punJokowi berhasil meraup suara terbanyak, jauh di atas Foke.

Menurut Ketua KPPS Kelurahan Gondangdia Nano Sukatno, di Gondandia itusecara total Jokowi memperoleh 1.073 suara, diikuti Foke dengan 620 suara,sementara suara sisanya diperebutkan keempat pasangan calon gubernur lain.

Boleh jadi keberhasilan Jokowi dan Ahok itu mengejutkan sekaligus mengecewakan sementara politikus partai dan peneliti bayaran; karenaselama ini mereka meremehkan ‘pendatang’ seperti Jokowi yang dianggap tidak mengerti mengurus Jakarta dan tidakk akan mendapat simpati masyarakat ibukota.

Barangkali mereka lupa bahwa rakyat – sekali lagi di sini termasuk kelasmenengah dan ‘the haves’ telah makin kritis dan bosan dengan janji-janjisaat kampanye yang seringkali tidak terbukti setelah mereka terpilih.

Sampai di sini, kita jadi ingat pada lelucon yang ramai beredar lewat SMSdan BBM belakangan ini yang mengatakan: beda Pil KB dan Pilkada (dan pemilulainnya) adalah, kalau Pil KB lupa maka akan ‘jadi’, sedangkan Pilkadakalau sudah ‘jadi’ biasanya lupa (pada pemilihnya).

Nah, rupanya kedua pasangan Jokowi dan Ahok tidak dipersepsi demikian.Minimal itu yang ada di benak banyak orang bahwa, setelah ‘jadi’ merekatidak akan lupa pada pemilihnya.

Belum bisa dibuktikan memang, apakah keduanya kelak akan berhasil membenahi Jakarta secara lebih baik ketimbang Foke. Tetapi rakyat telah melihat sinyal-sinyal dan bukti ‘track record’ perjalanan sejarah keduanya selama ini.

Dantrack recorditulah yang dibutuhkan setiap kali orang hendak membangun ‘reputasi’ jangka panjang. Di benak masyarakat berhasil terciptasebuah ‘bekas’ positif Jokowi (dan Ahok) – bagaikan jutaan tetes air di atas batu selama bertahun-tahun – yang sulit untuk dienyahkan begitu saja, apalagi untuk dihapus dalam waktu singkat (dalam masa kampanye) oleh pesaing mereka.

Harus diakui bahwa Foke pun juga punya track record, meski mungkintidak dipersepsi sehebat Jokowi. Sebagai petahana, dan bekas Wakil Gubernurpada era Sutiyoso dulu, gubernur Dr.Ing.Fauzi Bowo -- yang dikenal dengankumisnya yang gagah -- itu memang telah berusaha melakukan beberapaperubahan di ibukota.

Arsitek bidang perencanaan kota lulusan Jerman itu, antara lain, telahberupaya menyelesaikan masalah banjir di Jakarta dengan mengoperasikanBanjir Kanal Timur, sehingga tak heran bila ia dan pasangannya (NachrowiRamli) memperoleh sekitar 34 % suara.

Kita belum tahu, apakah reputasi Foke itu bisa mengalahkan nama baik Jokowidi putaran kedua nanti. Yang jelas, kita boleh menduga bahwa tak banyakperubahan akan terjadi kalau hanya mengandalkan program *instant*, secara‘ngebut’, guna merebut simpati lewat tebaran pesona pencitraan belaka.

Kalau pun kedua pesaing sama-sama menggebrak Jakarta dan ‘ngebut’ untukmendongkrak perolehan suara pada putaran kedua mendatang, mungkin tambahan suara dari situ tidak akan terlalu signifikan.

Artinya, jika nanti Jokowi dan Ahok berhasil memenangi putaran kedua, makaitu juga bukan karena hasil ‘*crash program’* dua bulan mendatang (Agustushingga September) ini saja – melainkan lagi-lagi karena reputasi merekaberhasil menarik suara baru dari para pemilih, yang pada putaran pertamakemarin memberikan suara pada empat pasangan calon lainnya.

Demikian pula halnya dengan Foke dan Nara. Jika nanti mereka berdua yangmengungguli Jokowi-Ahok pada putaran kedua, maka hal itu kemungkinan besar berkat kepercayaan ‘pemilih baru’ terhadap reputasi mereka.

Tetapi, bila melihat pendapat sementara pengamat, Foke bakalan sulitmengalahkan Jokowi. Di luar program seperti Banjir Kanal itu, masyarakatJakarta tidak melihat –artinya tidak mempersepsi -- adanya perubahan yangsangat signifikan dan bisa dibanggakan selama lima tahun terakhir.

Kemudian, nama Partai Demokrat sendiri, yang mengusung Foke dan Nara,belakangan juga dipersepsi kurang baik akibat kasus korupsi yang melandabeberapa tokohnya.

Sementara itu, kita mencatat bahwa ada keberanian luar biasa pada pribadiJokowi yang dikenal bersih, dan secara sangat sederhana dan sakmadyoberani menggelandang untuk berlaga ‘away’ di Jakarta.

Dari sisi komunikasi, Jokowi telah membuktikan cara terbaik menyusunbata-demi-bata bangunan sebuah ‘nama baik’, sebuah reputasi -- sehingga iatelah ‘memenangkan hati’ masyarakat luas sejak bertahun silam, ketika iamemimpin Solo, ketika ia mendukung program mobil Esemka, dan ketika iaselalu bicara ‘dengan’ – dan bukan ‘kepada’ – rakyat.

Dalam dunia public relations, pengelolaan nama baik yang dilakukan Jokowiitu biasa disebut dengan reputation management– yang harus dibedakandengan image managementyang sifatnya hanya sementara dan tambal-sulam.

Ibarat seorang pedagang, maka Jokowi dan Ahok boleh dibilang berhasil‘menaklukkan’ hati para pembeli, membuat mereka menjadi cinta, loyal danterpuaskan.

Nanti, setelah produk dipakai – artinya Jokowi menjadi Gubernur DKI – parapemilihnya akan melihat dan kembali membuktikan, apakah ada ‘layanan purna jual’ yang bagus, sehingga kepuasan pembeli meningkat – dan reputasi sang pedagang pun semakin moncer.

Konsultan komunikasi, dan dosen komunikasi di Universitas Paramadina,Jakarta. Twitter: @sbasria. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.