Rabu, 22 Mei 2013 | 11:52 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Mengincar APBD DKI Rp36,023 Triliun
Headline
Inilah.com/Ardhy Fernando
Opini: Arief Rahman
web - Selasa, 10 Juli 2012 | 22:10 WIB

PILKADA DKI Jakarta tinggal dalam hitungan jam. Enam pasangan calon gubernur dan wakil gubernur akan memperebutkan suara 6.962.345 warga Jakarta, Rabu (11/7) besok. Semua pasangan berdebar-debar menunggu detik-detik yang menentukan dimulai ketika fajar terbit esok hari.

Sebelum melangkahkan kaki ke TPS untuk menentukan nasib ibukota Jakarta lima tahun ke depan, ada baiknya kita memantapkan pilihan dengan mengetahui secara persis para calon yang bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta.

Enam pasangan calon itu adalah Fauzi Bowo-Nahcrowi Ramli, Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini, Faisal Basri-Biem Benyamin, Hendardji Soepandji-A Riza Patria, Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama,dan Alex Noerdin-Nono Sampono.

Gubernur Jakarta Fauzi Bowo, lebih dikenal dengan sebutan Foke, berpasangan dengan Nachrowi Ramli, Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta. Pasangan incumbent ini dinilai banyak pihak masih sangat berpeluang untuk kembali memimpin DKI Jakarta.

Dari beberapa survei yang digelar, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) masih dipilih oleh lebih dari 40 persen warga Jakarta. Bahkan survei yang dilakukan Jaringan Suara Indonesia (JSI), pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli masih meraup dukungan sebesar 49,6 persen.

Perolehan Foke-Nara tersebut mengindikasikan, pasangan ini bisa saja memenangi kontestasi gubernur DKI Jakarta satu putaran saja. Peluang untuk meraih 50 persen plus satu, lebih besar dibandingkan dengan kandidat lain, karena tren dukungan terhadap Foke-Nara terus naik.

Adapun pasangan lain, menurut survei JSI, pasangan Jokowi-Ahok mendapat dukungan 15,8 persen responden, Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini 6,4 persen, Alex Noerdin-Nono Sampono 4,3 persen, Faisal Basri-Biem T Benjamin sebanyak 1,9 persen, dan Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria sebanyak 1,0 persen. Sisanya menjawab tidak tahu dan rahasia sebesar 21,1 persen.

Masih moncernya Fauzi Bowo dalam Pilkada 2012 ini, lebih disebabkan oleh kinerja pemerintahan provinsi DKI Jakarta yang dirasakan oleh masyarakat. Persoalan klise seperti banjir turun drastis dari sisi luas, tinggi dan lamanya genangan air. Apalagi setelah beroperasinya Banjir Kanal Timur dan Barat, dampaknya sangat dirasakan oleh warga Jakarta.

Beberapa profesional yang ditemui penulis, melihat ada blue print yang jelas dari pembangunan Jakarta selama kepemimpinan Foke. Maklum lah Fauzi Bowo merupakan sarjana arsitektur bidang Perencanaan Kota dan Wilayah dari Technische Universitt Braunschweig Jerman dan tamat 1976 sebagai Diplom-Ingenieur. Lalu menyelesaikan program Doktor-Ingenieur dari Technische Universitt Kaiserslautern bidang perencanaan pada tahun 2000.

Foke juga mendampingi Sutiyoso saat menjadi wakil gubernur DKI setelah sebelumnya berkarir sebagai PNS di Pemprov DKI Jakarta. Bersama Sutiyoso yang dikenal sebagai gubernur yang sukses, menorehkan prestasi dan peninggalan prestisius untuk mengurangi kemacetan Jakarta, yaitu jaringan bus TransJakarta.

Agaknya itulah yang membuat masyarakat Jakarta masih memilih Fauzi Bowo sebagai personal yang amat paham dan tahu seluk beluk Jakarta. Masyarakat percaya Jakarta sebagai sebuah kota megapolitan dunia layak dipegang oleh Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli.

Jakarta bukan lagi sebuah kota yang bersaing di level nasional seperti Semarang, Solo, Makassar, Palembang, Medan atau Surabaya. Jakarta tengah bersaing dalam konteks global dengan kota-kota besar di seluruh penjuru dunia. Sebutlah seperti Singapura, Kuala Lumpur, Sydney, Bangkok, Beijing,London, Paris bahkan New York sekalipun. Ini lah kelasnya Jakarta. Konsekuensinya, pemimpin Jakarta seyogyanya memiliki kualitas dan kapasitas yang mendunia pula.

Sistem pemilihan langsung mulai kepala daerah kabupaten/kota, provinsi hingga pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung, sebenarnya bisa memunculkan kaderisasi kepemimpinan politik yang berjenjang. Bupati atau walikota yang sukses mempimpin, diharapkan bisa meningkat karirnya menjadi gubernur atau wakil gubernur.

Selanjutnya bagi gubernur yang kinerja dan prestasinya sangat bagus akan mendapatkan peluang untuk menjadi calon presiden dan wakil presiden. Inilah jenjang pengkaderan politik yang sistematis dan memungkinkan akan lahir pemimpin yang matang dan mumpuni.

Bagaimana dengan Alex Noerdin? Gubernur Sumatera Selatan ini memang kader terbaik yang dimiliki Golkar. Dianggap sukses sebagai gubernur Sumsel meski dengan setumpuk persoalan hukum, Alex Noerdin sepertinya hendak meninggalkan tugas dan tanggung jawabnya di Sumatera Selatan.

Sebenarnya Alex Noerdin bila sedikit bersabar, mungkin akan diincar oleh calon-calon presiden dalam Pilpres 2014. Tapi rupanya dalam pikiran Alex, Jakarta lebih ‘manis’ bila dibandingkan Sumatera Selatan. Dengan wilayah yang tak terlalu luas, penduduk hanya 10 juta jiwa serta kekuatan APBD DKI Jakarta menyentuh angka Rp36,023 triliun.

Jumlah ini lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan APBD Provinsi Sumatera Selatan yang hanya Rp3,5 triliun dan 30 kali lipat lebih dibanding APBD Solo 2011 lalu yang baru menyentuh Rp1,05 triliun. Belum lagi peran Jakarta sebagai pusat bisnis dan kekuasaan di Indonesia, hitung-hitungan di atas kertas tadi tak ada apa-apanya dibanding realitas Jakarta.

Ada pun calon-calon independen dalam Pilkada DKI ini, bisa dikatakan masih sulit untuk menembus ketatnya persaingan politik di Jakarta. Bagi pasangan Hendardji Soepandji-A Riza Patria dan Faisal Basri-Biem Banyamin, kalau pun memenangi Pilkada DKI Jakarta masih butuh waktu guna menata konstelasi politik.

Sebagai calon independen yang tak diusung partai, mereka akan butuh waktu setidaknya dua tahun untuk beradaptasi dengan kekuatan parpol di DPRD. Alih-alih ‘tancap gas’ melaksanakan program pembangunan, mereka bakal dibelit problem politik.

Harapan barangkali masih ada buat pasangan Hidayat Nurwahid dan Didik J Rachbini. Pasangan ini diusung partai yang cukup solid dan militan, PKS. Keduanya juga figur yang punya kapabilitas dan kualitas tak meragukan.

Hidayat merupakan mantan Presiden PKS dan mantan Ketua MPR RI. Sedangkan Didik J Rachbini dikenal sebagai intelektual dan ekonom di negeri ini. Tapi mampukah mereka memenangi hati rakyat besok pagi?

Arief Rahman, ST, MM.

Pemerhati poltik dan media

@Arief_Rahman98

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.