INILAH.COM, Dili – Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao dipastikan kembali memimpin pemerintahan di negeri itu setelah partainya memenangi pemilu. Xanana harus kembali membangun kabinet koalisi karena partainya gagal meraih kemenangan mayoritas.
Dari 65 kursi, partai pimpinan Xanana, yakni Partai Nasional Kongres untuk Rekonstruksi Timor (CNRT) yang berhaluan kiri-tengah, memenangi 30 kursi atau kurang dua lagi untuk menguasai mayoritas. Sedangkan kelompok opisisi yang berhaluan kiri, Fretilin pimpinan Mari Alkatiri, memenangi 24 kursi. Partai lainnya, Partai Demokrasi yang berkoalisi dengan Xanana akan mendapatkan delapan kursi. Sedangkan Frente-Mudanca akan mendapatkan dua kursi.
Kampanye pemilu lebih banyak diwarnai masalah ekonomi. Kedua partai besar itu sama-sama berjanji akan memanfaatkan dana dari hasil penjualan minyak sebesar US$10,5 miliar untuk kesejahteraan rakyat. Sebagai negara termiskin di Asia ini, Timor Leste sangat bergantung pada hasil minyak dan gas di laut Timor.
Sementara itu, pada pemilu presiden yang berlangsung dua putaran Maret-April lalu, mantan pemimpin gerilya Jos Maria Vasconcelos, atau yang lebih dikenal sebagai Taur Matan Ruak, terpilih menjadi presiden dan dilantik pada 20 Mei 2012, menggantikan Ramos Horta.
PBB menyambut baik pemilu yang berlangsung aman itu. Hasil pemilu ini akan menguji negeri itu apakah masih membutuhkan pendampingan dari pasukan penjaga keamanan PBB atau tidak. PBB akan menarik pasukan mereka apabila pemilu berlansung aman.
Timor Leste merdeka pada 2002 setelah tiga tahun berada dalam pemerintahan PBB. Saat ini, negara yang pernah dikuasai Indonesia itu masih didampingi oleh pasukan penjaga perdamaian PBB yang datang pada 2006 untuk menengani pertikaian antarkelompok warga.
PBB menilai kerusuhan dan pertikaian warga terjadi akibat adanya kesenjangan ekonomi dan kemiskinan serta banyaknya pengangguran. [tjs]