INILAH.COM, Paris – Pesawat Airbus A330 milik maskapai Air France 447 terbang dari Rio de Janeiro, Brasil menuju Paris, Prancis pada 31 Mei 2009. Pesawat itu kemudian jatuh pada 1 Juni 2009 di Samudera Atlantik, menewaskan 228 penumpang dan krew pesawat.
Penyelidikan mengenai penyebab kecelakaan itu sudah selesaikan dilakukan dan kemudian hasil finalnya diumumkan, Kamis (5/7/2012). Penyelidikan oleh Biro Investigasi dan Analisis Prancis tersebut menyimpulkan bahwa pesawat jatuh karena kesalahan pilot dan pilot tidak mampu menangani masalah teknis yang muncul.
Laporan itu, sebagaimana diberitakan CNN, menyebutkan bahwa pilot gagal merespons secara efektif masalah yang terjadi pada sensor kecepatan pesawat atau membetulkan trajektorinya ketika masalah pertama kali muncul.
Ketika bagian dari alat penentu kecepatan pesawat, yakni pitot tubes, tertutup es yang sangat tebal, sistem autopilot terhenti dan pilot tidak tahu harus bagaimana bereaksi terhadap apa yang terjadi. Kegagalan sistem itu mengejutkan krew pesawat.
Krew merespons dengan mengambil alih pesawat, yang mengakibatkan jalur pesawat tidak stabil hingga mengakibatkan kebingungan. Pada menit-menit pertama setelah autopilot terhenti, kegagalan pilot untuk mengetahui situasi dan kerjasama antara krew memicu munculnya masalah lain, termasuk kehilangan totoal kontrol kognitif terhadap situasi.
Pesawat kemudian mengalami stall, dan pesan peringatan berbunyi serta menimbulkan hentakan pada pesawat. Krew pesawat tidak menyadari kalau pesawat dalam keadaan stall sehingga tidak mengambil tindakan manuver untuk mengembalikan posisi pesawat.
Pilot malah mengarahkan hidung pesawat ke atas, bukannya ke bawah. Tidak lama setelah itu pesawat kemudian jatuh di perairan Atlantik. [tjs]