Sabtu, 25 Mei 2013 | 22:12 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Om Liem dan Nilai Sebuah Persahabatan
Headline
ist
Oleh: Derek Manangka
web - Rabu, 27 Juni 2012 | 07:27 WIB

"Ayahnya dulu pernah membantu ayah saya. Kini giliran saya sebagai anak, membantu anak sahabat ayah saya.”

Demikian potongan cerita seorang pengusaha tentang bagaimana sikap Anthoni Salim, putera taipan Liem Sioe Liong, alias Om Liem terhadap Bambang Tri, putera mantan Presiden Soeharto.

Orang yang mengenal keluarga Om Liem, mempunyai kesan tersendiri terhadap taipan yang meninggal 10 Juni 2012, di Singapura itu. Yaitu Om Liem merupakan sosok yang selalu menghargai persahabatan. Hasilnya membuahkan hubungan langgeng nyaris tanpa cacat.

Hubungan seperti itulah yang terjadi antara Om Liem dengan Soeharto. Om Liem mengenal Soeharto ketika yang terakhir ini masih berpangkat kolonel. Tapi perkenalan itu berlanjut hingga Soeharto menjadi jenderal sekaligus Presiden RI selama 32 tahun (1966 - 1998).

Om Liem, atawa Sudono Salim, taipan terbesar yang pernah dimiliki Indonesia, sudah berpulang dan jenazahnya telah dikebumikan di Singapura 18 Juni 2012. Sebagai seorang taipan, cukup banyak sisi yang bisa ditulis ataupun dipelajari dari almarhum.

Kisah kerberhasilan bisnisnya - yang dimulai dari ‘’modal dengkul’ sampai akhirnya menjadi konglomerasi terbesar di Indonesia. Terakhir total perusahaan yang berada di bawah Salim Group sebanyak 485 buah.

Keberhasilannya itu jelas merupakan kisah menarik. Apalagi ditengarai keberhasilan itu antara lain berkat adanya bantuan dari pihak penguasa.

Kiat kesuksesannya, bisa jadi bahan pelajaran bagi institut bisnis dan manajemen yang menawarkan gelar Master of Business Administration (MBA).

Sebab di berbagai negara berkembang, fenomena seperti hubungan Om Liem dengan pihak penguasa, juga terjadi.

Tapi yang sangat berharga sebetulnya adalah cara Om Liem menata dan memelihara sebuah persahabatan. Om Liem mampu membangun persahabatan, memanfaatkan dan menjaganya dengan baik sehingga persahabatan itu berakhir dengan happy ending.

Persahabatannya dengan Kolonel Soeharto jelas merupakan cerita tak ada tandingan dan tergantikan. Om Liem membuktikan bahwa ia mampu membuat seorang Soeharto tidak permah berubah.

Loyalitas mereka sesama sahabat, setingkat. Sehingga ketika Soeharto menjadi Presiden RI selama 32 tahun (1966 -1998), hubungan Om Liem dengan penguasa Orde Baru itu justru tidak berubah. Soeharto tidak lupa sama Om Liem, sebaliknya Om Liem "tidak mentang-mentang".

Hubungan persahabatan Om Liem - Soeharto menguat, membentuk sebuah piramid kepercayaan yang kokoh dan tetap produktif serta bermanfaat bagi banyak orang.

Selama 32 tahun Presiden Soeharto memimpin Indonesia, tidak pernah terdengar hubungannya dengan Om Liem memburuk. Sejumlah perusahaan di bawah bendera Salim Group, pun nyaris tak pernah membuat masalah dengan pemerintah.

Uniknya selama Pak Harto berkuasa yang ditampilkan Om Liem kepada masyarakat adalah sikap yang terukur.

Orang di luar meributkan Om Liem banyak mendapat fasilitas dari pemerintahan Soeharto. Tapi Om Liem tidak pernah menanggapinya. Dan hal yang menarik sebetulnya, Om Liem tidak pernah memamerkan kedekatannya dengan Presiden Soeharto.

Presiden Soeharto pernah mengumpulkan sejumlah konglomerat Indonesia di Tapos, Jawa Barat, peternakan pribadi milik keluarga Cendana.

Om Liem ikut hadir dan mendengarkan semua arahan Presiden Soeharto. Dari rekaman yang disiarkan oleh TVRI pada waktu itu, Om Liem terkesan sangat menjaga jarak dengan Presiden RI.

Selain menjadi pendengar yang baik, Om Liem bersikap serius dalam mengikuti semua wejangan Presiden. Sehingga sulit mempercayai bahwa Om Liem yang sikapnya berjarak dengan Pak Harto, toh mampu meyakinkan Presiden agar membantu semua usahanya.

Om Liem tidak pernah memamerkan kedekatannya dengan Orang Paling Berkuasa di Indonesia itu. Padahal di era jaya-jayanya kekuasaan Presiden Soeharto, tidak sedikit orang yang baru kenal dengan Presiden Soeharto sudah memamerkan kedekatannya dengan Pak Harto.

Banyak pihak mungkin cemburu melihat keberhasilan Om Liem membangun kerajaan bisnis yang diberi nama Salim Group. Cemburu karena para pencemburu beranggapan, keberhasilan itu sebagai akibat dari sebuah kolusinya dengan penguasa Orde Baru.

Yah, memang tidak pernah dibantah oleh Om Liem ataupun keluarganya bahwa semasa hidupnya, Om Liem sangat dekat dengan Jenderal Soeharto dan banyak memperoleh bantuan.

Tetapi sebetulnya kalau cuma soal kedekatan dengan seorang Presiden ataupun menggunakan kedekatan dengan Presiden sebagai sebuah konsep dalam berbisnis, di era Soeharto, tidak hanya Om Liem semata yang melakukannya.

Cukup banyak pebisnis yang berusaha mendekat ke Presiden Soeharto bahkan mencoba menyaingi atau menggeser Om Liem dari sisi Presiden Soeharto.

Di masa jayanya Orde Baru, sejumlah pengusaha sukses juga sempat lahir di Indonesia. Sebutlah Mochtar Riyadi (Lippo), Usman (Danamon Group), Eka Widjaya (Sinar Mas Group), Ciputra (Jaya Group), Prayogo Pangestu (Barito Pacific) dan Mohammad "Bob" Hasan (Bank Umum Nasional).

Dari semua konglomerat itu, yang paling menonjol adalah kedekatan Bob Hasan. Dengan Pak Harto, Bob bisa bermain golf berdua di padang golf Rawamangun, Jakarta Timur.

Bob bahkan bisa mengatur bintang film Hollywood, Silvester Stalone datang ke Indonesia kemudian bermain bersama Pak Harto di Rawamangun. Ketika itu bintang laga tersebut ke Indonesia dalam rangka meresmikan Planet Hollywod.

Terakhir Bob Hasan bahkan membangun lapangan golf yang diperuntukkan bagi Pak Harto dan para sahabat terdekat mereka. Di lapangan golf Matoa, yang terletak di perbatasan Depok dengan Cilandak, Jakarta Selatan.

Bob tidak hanya bermain golf dengan Pak Harto. Tetapi juga ikut memancing ikan. Sebab di tengah lapangan golf Matoa itu, secara khusus dibangun sebuah kolam ikan mas. Sehingga jika agak letih bermain golf, Pak Harto dan Bob Hasan bisa istirahat sejenak di tepian kolam itu atau sekaligus memancing.

Tapi kedekatan Bob Hasan dengan Pak Harto itu, sepertinya tidak bisa mengalahkan kedekatan Om Liem dengan Pak Harto. Nilai dan kualitas persahabatan Om Liem - Pak Harto elegan dan tanpa ceritera miring.

Om Liem mampu membuat hubungan persahabatannya yang baik dengan seseorang yang telah membesarkannya, ia turunkan atau wariskan kepada anak-anaknya.

Sebuah filsafat hidup yang bermoral dan beretika.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.