INILAH.COM, Beijing - Dengan latar belakang krisis ekonomi dalam dan luar negeri, mahasiswa di China akan menghadapi tekanan sulitnya mencari pekerjaan dalam waktu dekat.
Jumlah lulusan perguruan tinggi China dalam pertumbuhan konstan, itu adalah 5,6 juta pada 2008, 6,1 juta pada 2009, 6.3 juta di 2010 dan 7, 6 juta pada 2011. Demikian menurut Kementerian Pendidikan China.
Pengamat akademis mengritik perguruan tinggi yang telah merekrut siswa terlalu banyak, yang harus disalahkan untuk masalah sulitnya ketersediaan lapangan pekerjaan bagi para lulusannya.
Namun, Huang Teng, seorang wakil Kongres Rakyat Nasional dan juga presiden Xian International University dan ketua Dewan Pengawas dari universitas ini, memiliki pandangan yang berbeda. Dia menunjukkan bahwa masalah ketenagakerjaan merupakan masalah kompleks yang melibatkan berbagai aspek dan bidang, dan tidak perlu terburu-buru untuk menarik kesimpulan.
Huang mengatakan bahwa, dibandingkan dengan negara maju, mahasiswa China bukan terlalu banyak, tetapi terlalu sedikit. Menurut rumus untuk menghitung kasar rasio jumlah mahasiswa yang terdaftar di pendidikan tinggi, di Amerika Serikat lebih dari 80 persen, beberapa negara Eropa lebih dari 90 persen, dan negara-negara Asia seperti Singapura, India, dan Korea Selatan di atas 40 persen. China hanya 22 persen kursi diisi para mahasiswa.
Apa ini artinya bagi China? Ini berarti bahwa dari setiap 100 orang yang berusia antara 18 dan 22 (usia umumnya para mahasiswa di dunia) di China hanya 22 adalah mahasiswa, termasuk semua jenis pendidikan tinggi, sperti Pendidikan untuk Orang Dewasa dan Universitas Terbuka (TV University).
Perlu juga diingat, populasi China itu empat kali lipat populasi Amerika Serikat. Negara-negara maju umumnya sudah lama kaya, sedangkan China masih tergolong negara sedang berkembang dan termasuk negara industri “setengah jalan”. China terkenal sebagai dapur kotor dunia dengan industri manufaktur yang maju pesat dan mereka membutuhkan buruh murah meski tidak harus berpendidikan tinggi.