Minggu, 26 Mei 2013 | 14:22 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Pameran Raden Saleh di Galeri Nasional Jakarta
Headline
Karim Raslan - inilah.com
Oleh: Karim Raslan
web - Selasa, 26 Juni 2012 | 13:27 WIB

Pameran Raden Saleh di Galeri Nasional Jakarta (Galnas) menuai sukses besar. Terkurasi sangat baik dan tertata indah seperti dalam istana, keagungan pameran ini telah membuai imajinasi puluhan ribu orang Indonesia - muda, tua, kaya, miskin, Muslim, Kristen dan Budha.

Biasanya, sejumlah pameran di Galnas hanya dipadati pengunjung pada saat malam pembukaan. Tapi pada pameran Raden Saleh ini, setiap hari orang berdatangan, para pelajar datang berbus-bus untuk menikmati lukisan kanvas yang indah dan kadang flamboyan karya seniman ningrat asal Semarang ini - menampilkan tema-tema eksotis dan orientalis dengan perburuan singa, pasangan priyayi, dan tentu saja, lukisan terkenal panorama penangkapan Pangeran Diponegoro waktu Perang Jawa (1825-1830).

Tapi, dulu Raden Saleh tidak selalu disanjung-sanjung seperti ini. Dalam beberapa dekade setelah kematiannya tahun 1880, dia ditolak dan dihina oleh kritisi yang menuduhnya sebagai pencontek, dengan tema dan gayanya yang ke-Eropa-Eropa-an.

Sejak saat itu, dan dengan makin banyaknya cendekiawan seni, kesadaran akan karya Raden Saleh semakin meningkat, juga akan sejumlah gagasan yang mendasari proses kreatifnya - singkatnya, bagaimana dia memandang proses melukisnya.

Buku-buku catatan dan litografinya juga menunjukkan kedalaman pemikirannya, dan juga keseriusannya dalam memperkenalkan tradisipositivist dan ilmiah ke dalam seni Indonesia.

Raden Saleh, sang pelukis potret besar ini, juga merupakan guru yang ingin agar murid-muridnya memperhatikan dan mengobservasi dunia sekitar mereka sebelum mereka mulai menggambar atau membuat sketsa.

Kurator Amir Sidharta menjelaskan, "Reputasi Raden Saleh telah mengalami revisi yang substansial. Sekarang kita tahu dia adalah seorang pemikir. Seperti yang dikatakan ahli sejarah Peter Carey, pengetahuan politik seniman ini dapat 'dibaca' dari bagaimana dia mengomposisi lukisan Diponegoro - bagaimana dia menyiratkan tiga kemiripan akan dirinya sendiri, untuk menyatakan rasa hormat dan perhatian yang mendalam bagi pahlawan Jawa yang tragis ini."

Pameran bernapas patriotik kental ini diadakan pada momen yang menarik dalam sejarah Indonesia kontemporer. Indonesia lagi-lagi sedang mengalami perubahan dalam identitas dan aktualisasi diri - berubah dari rasa lemah dan menjadi korban terus-menerus, menjadi lebih kokoh dan percaya diri.

Kenangan pahit dari tahun 1998, dan kemerosotan finansial telah digantikan oleh semangat dan dinamisme baru. Rakyat Indonesia kini merasa berani dan percaya diri.

Walaupun masih ada korupsi, dan infrastruktur masih tetap belum memadai, tapi kondisi dan kehidupan rakyat Indonesia secara umum perlahan-lahan menunjukkan perbaikan.

Titik balik yang terbesar adalah Krisis Ekonomi Eropa yang sedang terjadi, dan Pemilu di Yunani akhir minggu lalu. Perhatian rakyat Indonesia terpusat ke kawasan Mediterania, seperti sedang memandang ke cermin - cermin masa lalu, karena kali ini mereka tidak akan terlalu terpengaruh seperti pada 1999.

Kali ini, rakyat Indonesia tahu bahwa mereka relatif aman, dan negara tidak akan mengalami kemerosotan mata uang seperti dulu.

Terlebih lagi, dengan Presiden SBY yang saat ini sedang berada di Mexico untuk pertemuan G20, rakyat Indonesia menyadari bahwa mereka termasuk 'bangsa terpilih' - sekarang mereka duduk di 'meja pilihan' - dan bisa melobi untuk kepentingan mereka sendiri.

Namun hanya memandangi kanvas Raden Saleh sebagai ekspresi kebanggaan menjadi orang Indonesia sama saja dengan meremehkan sang maestro dan karya-karyanya. Lukisan Raden Saleh memang indah dan menggoda, tapi juga punya semangat intelektual yang mencerahkan - dengan elemen sains, filosofi, sejarah dan seni.

Ada dua yang mempengaruhi Raden Saleh dalam berkarya, Royal Courts di Eropa dan rumahnya di Cikini: yang satu adalah Eropa, yang satu lagi Asia.

Pencapaian terbesarnya adalah usahanya menyatukan dua hal itu: "Dua ujung itu berlawanan satu sama lain, keduanya terang dan bersahabat, sehingga meniupkan mantra yang sangat kuat pada jiwaku."

Ironisnya, ketika Indonesia sedang menilik kembali karya-karya Raden Saleh, mereka juga sedang dikonfrontasi oleh tantangan yang serupa - berusaha tetap berkarya di dunia yang sedang dilanda globalisasi. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.