INILAH.COM, Bangkok - AirAsia akan memindahkan operasi penerbangannya dari bandara Suvarnabhumi ke bandara Don Mueang per 1 Oktober. Bagi Thai AirAsia pemindahan ini akan membuatnya leluasa menambah armada menjadi 48 pesawat.
Tassapon Bijleveld, CEO Thai AirAsia, kemarin (25/6) terlihat bersama para pejabat Otoritas Bandara Thailand, menegaskan armada Thai AirAsia siap dipindahkan ke Don Mueang.
Bandara ini sebenarnya milik Angkatan Udara Thailand yang tadinya juga dioperasikan untuk penerbangan sipil. Persis seperti Bandara Halim Perdana Kusumah di Jakarta yang dimiliki TNI AU dan dulunya melayani penerbangan internasional.
Setelah Suvarnabhumi dioperasikan, Don Mueang ditutup untuk penerbangan sipil. Nah, sekarang Don Mueang dibuka lagi untuk penerbangan berbiaya murah seperti AirAsia. Tassapon menilai keputusan Thai AirAsia pindah ke Don Mueang dilakukan dengan cermat sesuai dengan pertumbuhan bisnis maskapai ini.
Bagi AirAsia, pemindahan ini tentu memberikan manfaat positif untuk pengembangan bisnisnya. Dengan bandara khusus AirAsia seperti di Bandara Soekarno-Hatta atau di Kuala Lumpur Low Cost Carrier (KLCC), para penumpang menjadi lebih nyaman karena terhindar dari antrean yang mengular di tempat check-in dan imigrasi.
"Bandara Don Mueang pasti bemanfaat bagi AirAsia saat meningkatkan jumlah armada Airbus A320 menjadi total 48 pesawat, serta meningkatkan jumlah penumpang. Lokasi bandara yang lebih dekat dengan Kota Bangkok juga lebih nyaman bagi para penumpang AirAsia,” ujar Tassapon.
Sebelumnya, Tassapon mengatakan bahwa relokasi ini bisa menghemat 1 juta baht yang dikeluarkan untuk biaya bahan bakar per hari, karena pesawat AirAsia harus berputar-putar selama 10 menit atau lebih di atas bandara menunggu giliran pesawat-pesawat lain yang mengudara dan mendarat. Apalagi landasan pacu timur Suvarnabhumi ditutup untuk pemeliharaan.
Perdana Menteri Yingluck Shinawatra dua bulan yang lalu sempat sewot dan memerintahkan semua penerbangan berbiaya murah dipindah ke bandara lama Don Mueang, karena sesaknya bandara Suvarna Bhumi. Bandara Suvarnabhumi tak mampu lagi menyambut 50 juta penumpang pada tahun ini, padahal kapasitasnya terbatas pada 45 juta penumpang. .
Bagi penumpang berasal dari Indonesia, bandara Don Mueang menyimpan sejarah pembajakan pesawat “Woyla” milik Garuda Indonesia pada 1980-an, yang dibajak para teroris Indonesia, tapi berhasil dilumpuhkan oleh pasukan Indonesia. [mdr]