INILAH.COM, Kairo - Mohamed Mursi Eissa al-Ayat, dialah presiden mesir pertama yang terpilih secara demokratis. Mursi melibas dukungan pada pemilu lalu dengan perolehan 51,7% suara dan keluar sebagai pemenangnya mengalahkan, Ahmed Shafik mantan penguasa di era Hosni Mubarak.
Mursi tampil di pemilu mesir diusung oleh Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan Muslim), sebuah organisasi Islam di Mesir yang berpengaruh di dunia. Ia berjanji akan menegakkan demokrasi di negeri Firaun itu.
Pria berusia 60 tahun itu mencuat namanya, terutama di kalangan Barat setelah melontarkan julukan “ “Vampir” dan “Pembunuh” untuk para pemimpin Israel. Analis menilainya sebagai ikon bagi mereka yang mencari “agenda ekstrem”.
Bagi rakyat Mesir, terutama di kalangan pembaru, nama Mursi sangat dikenal baik. Ia pernah melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Hosni Mubarak. Akibat aksinya itu, ia berulang kali ditangkap dan berurusan dengan polisi dan sempat mendekam di penjara selama tujuh bulan.
Mursi adalah pemimpin Partai Kemerdekaan dan Keadilan yang merupakan sayap politik dari Ikhwanul Muslimin. Partai ini juga memenangkan pemilu parlemen dan menyabet mayoritas kursi. Namun, kalangan militer membekukannya pada 14 Juni 2012.
Dalam kampanyenya, Mursi menyerukan slogan”Islam adalah Solusi”. Akibat slogannya ini, kalangan barat menduga Mursi akan menerapkan sistem teokrasi Islam fundamentalis. Namun, ketakutan Barat itu ia bantah saat diwawancarai oleh CNN. Ia menyatakan hanya ingin mendapatkan cabang di pemerintahan yang mewakili keinginan murni rakyat Mesir dan ingin membela kepentingan publik.
“Tidak ada istilah demokrasi Islam. Yang ada hanya demokrasi.... rakyat adalah sumber kekuasaan,” kata Mursi.
Ia juga menyatakan akan menegakkan hak-hak perempuan dan menempatkannya sejajar dengan laki-laki.
Ditanya CNN mengenai kemungkinan dia akan menerapkan perjanjian Mesir dengan Israel pada 1979, Mursi menjawab, “Tentu saja. Saya akan menghormatinya dan mengajak Israel untuk menghormatinya pula.” [CNN/tjs]