Senin, 20 Mei 2013 | 09:46 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Ibu Ani dan Dokter Lokal
Headline
Derek Manangka - inilah.com
Oleh: Derek Manangka
web - Rabu, 20 Juni 2012 | 14:09 WIB

Operasi terhadap penyakit saraf yang mendera Ibu Negara Ani Yudhoyono, pekan lalu berhasil dilakukan secara baik oleh tim dokter sebuah rumah sakit di Pittsburg, Amerika Serikat.

Kesehatan Ibu Ani pun dkabarkan sudah pulih. Sehingga Ibu Ani tidak langsung kembali ke tanah air, melainkan langsung bergabung dengan sang suami.

Secara kebetulan pekan ini Presiden SBY mengadakan kunjungan ke beberapa negara di Amerika Latin yang dimulai di Meksiko - negara yang berbatasan langsung dengan Amerika Serikat. Sehingga sangat mudah dan cepat bagi Ibu Negara untuk menyeberang ke Meksiko.

Banyak yang bersyukur dan berterima kasih atas keberhasilan tim dokter Amerika Serikat didalam menyembuhkan penyakit yang mendera Ibu Ani. Terutama kalangan pendukung pencapresannya dalam Pemilu 2014.

Sebab secara psikologis politis, keberhasilan atas operasi kecil penyakit Ibu Ani, tidak dapat digunakan alasan untuk mengatakan Ibu Ani tidak cukup fit untuk bertarung dalam perhelatan Pilpres.

Tetapi di sisi lain ada juga yang menyindir soal keputusan membawa Ibu Ani ke Amerika Seriikat. Seperti yang terkuak dalam dialog di forum Indonesa Lawyers Club, TVOne, Selasa malam 19 Juni 2012.

Sindiran itu tidak disampaikan secara panjang lobar oleh salah salah searing pembicara. Tetapi sediikitnya sindiran itu menjadi sebuah fakta bahwa ada yang melihat keputusan mengobati Ibu Ani ke Amerika Serikat, tidak sepenuhnya diterima oleh rakyat Indonesia. Bahkan mungkin ada rasa kecewa.

Sebagaimana penjelasan Jubir Presiden, di rumah sakit AS, Ibu Ani hanya menjalani sebuah operasi kecil.

Nah, di sisi inilah yang kelihatannya menjadi fokus sindiran. Esensinya, kalau memang hanya sebuah operasi kecil, mengapa pekerjaan medis itu tidak diserahkan kepada dokter-dokter warga negara Indonesia yang bekerja di Indonesia?

Pilihan keluarga Presiden untuk menetapkan dokter mana yang dapat dipercaya menangani penyembuhan penyakit Ibu Ani, memang merupakan salah satu hak azasi atau "hak prerogatif" keluarga Cikeas.

Tetapi penggunaan hak azasi ini menjadi berubah maknanya, sebab keluarga Presiden, secara protokoler sudah memiliki sekian banyak hak yang tak bisa diganggu oleh masyarakat.

Hak azasi menjadi isu setiap individu, ketika tinggal hak itu saja yang melekat dalam dirinya. Hak lainnya, tidak bisa digunakan atau terlalu lemah.

Sebetulnya keluarga Presiden bisa mengudang dokter ahli dari Amerika Serikat untuk ke Jakarta dan melakukan pekerjaan mereka di depan para tim dokter Kepresidenan RI.

Jadi dalam hal yang satu ini, keputusan keluarga Cikeas itu lebih menegaskan kekurangpercayaan keluarga Presiden terhadap para dokter di dalam negeri. Sebaliknya keputusan itu justru lebih mempromosikan kehebatan dokter dan rumah sakit di Amerika Serikat.

Dan yang akan menjadi dilema, langkah keluarga Cikeas mengobati penyakit Ibu Ani ke negeri Paman Sam, dapat dijadikan alasan oleh orang-orang kaya, tokoh nasional untuk ikut-ikutan, bergaya seperti keluarga Presiden.

Jika ini terjadi, berapa banyak devisa lagi yang akan tersedot ke luar negeri untuk keperluan pengobatan.

Bisa pula terjadi, Ibu Negara diwajibkan oleh dokter yang merawatnya untuk melakukan pengecekan berkala di Amerika Serikat.

Keputusan sudah diambil. Tetapi ke depan, hendaknya ada kebijakan yang mengatur soal perawatan bagi pejabat negara dan keluarga. Pejabat negara tidak sembarangan berobat ke dokter dan rumah sakit asing. Rahasia negara bisa dideteksi melalui data dari para pejabat negara yag sedang dalam perawatan.

Sebagai Ibu Negara, Ibu Ani, seharusnya dilindungi oleh semua pemangku kepentingan di Indonesia. Termasuk rahasia penyakitnya, tidak patut diketahui oleh para dokter yang bukan masuk tim dokter kepresidenan.

Tirulah apa yang pernah dilakukan oleh Presiden kedua RI, almarhum Soeharto. Selama 32 tahun berkuasa, Soeharto tidak pernah terdengar mengirim keluarga berobat ke luar negeri. Jangankan ke Amerika Serikat yang jaraknya lumayan jauh. Ke negara tetangga Singapura saja, tidak pernah terdengar.

Mungkin saja keluarga Soeharto pernah berobat ke luar negeri, tapi kalau pun itu dilakukannya, pasti secara diam-diam.

Dan almarhum Soeharto tidak pernah melakukan pengobatan di luar negeri. Di eranya, Soeharto membangun Rumah Sakit Pertamina. Di rumah sakit itulah Soeharto mempercayakan segala penyembuhan penyakitnya. Mulai dari pengecekan rutin hingga perawatan terberat. Dan Soeharto menghembuskan nafasnya yang terakhir di RS Pertamina di hadapan tim eks dokter kepresidenan yang semuanya orang Indonesia.

Jadi untuk Soeharto - dalam hal mempercayai dokter Indonesia, rakyat dan bangsa Indonesia patut memberi acungan jempol.

Soal kedekatan dengan Amerika Serikat, Soeharto pasti tak ada yang bisa menandinginnya. Soeharto pada Perang Dingin, mungkin tergolong tokoh Asia yang diam-diam dijuluki sebagai "boneka Amerika". Sebab yang membantu Soeharto naik ke posisi puncak di Indonesia dan terus menjaganya selama tiga dekade, ditengarai adalah pihak Amerika Serikat. Tetapi ia tidak larut dengan segala bantuan yang datangnya dari negeri Paman Sam itu.

Dalam tahun 2012 ini, Ibu Negara sudah dua kali jatuh sakit. Yang pertama terjadi pada Maret, menjelang rencana pemerintah menaikan harga BBM per bulan April.

Yang kedua, menjelang lawatan Presiden SBY ke beberapa negara Amerika Latin pekan ini.

Di perawatan pertama yang dilakukan di RSPAD Jakarta, Ibu Ani juga menjalani operasi kecil dan berhasil. Demikian berhasilnya pekerjaan dokter Indonesia, maka sekalipun baru beberapa hari keluar dari RSPAD Ibu Ani sudah bisa menyertai Presiden SBY mengadakan lawatan ke RRC.

Semoga kesehatan Ibu Negara akan terus baik. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.