Rabu, 19 Juni 2013 | 06:16 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Tutup  
Bangkok dan Sukhumbhand
Headline
inilah.com
Oleh: Karim Raslan
web - Rabu, 20 Juni 2012 | 08:03 WIB

Sengketa politik dan birokrasi yang tidak bergerak tidak harus menjadi alasan bagi sebuah kota untuk punya infrastruktur yang tidak memadai.

Di Bangkok - kota yang gubernurnya anggota partai oposisi nasional - segala kebutuhan kota masih terpenuhi dengan baik walaupun politik Thailand sedang resah.

Sukhumbhand Paribatra adalah nama sang gubernur, dan kota seluas 1.568 kilometer ini dihuni oleh lebih dari delapan juta jiwa. Sekitar enam juta orang lagi hidup di luar batas kota, tapi bekerja di ibukota Thailand ini setiap hari. Sebagai perbandingan, Jakarta disesaki 9,6 juta jiwa dalam wilayah 661 kilometer.

Sukhumbhand, yang juga merupakan sepupu jauh dari Raja Bhumibol Adulyadei yang saat ini bertahta, akan sampai di akhir masa empat tahun pemerintahannya. Dia tidak terlalu cocok dengan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra, dan dia akan mendapatkan perlawanan sengit pada pemilihan gubernur berikutnya pada awal tahun depan.

Saat saya menemuinya di kantornya, dia bilang, "Saya mendapat kecaman verbal setiap hari. Saya rasa itu artinya mereka khawatir."

Semua sudah tahu, pendapatan dan aspirasi urban yang makin meningkat telah membuat politik perkotaan Asia Tenggara semakin kompleks, dan hanya dua ibukota - Bangkok dan Jakarta - yang memilih gubernurnya secara langsung. Hal ini menjadi sumber ketegangan secara langsung di antara para pemimpin nasionalnya.

Situasi kemelut yang parah tahun lalu membawa Perdana Menteri Yingluck pada konfrontasi langsung dengan Sukhumbhand. Mereka berebut kendali atas sarana pengontrol banjir yang sangat penting bagi Bangkok: kanal, gorong-gorong, pintu air dan kolam wadah.

Di luar masalah banjir dan kemelut politik, infrastruktur Bangkok - dengan jalan layang, jalur monorail dan transportasi bawah tanahnya - akan membuat pengunjung dari Jakarta tercengang.

Tapi, seperti yang dijelaskan Sukhumband tentang infrastruktur pencegahan banjir di Bangkok: "Bangkok mengalami banjir parah 27 tahun lalu.

Akibatnya, pemerintah kota mengembangkan serangkaian sarana pencegahan dan perbaikan yang canggih - termasuk kolam wadah air, atau yang disebut oleh Yang Mulia Raja sebagai "Monkey Cheeks". Dinamakan demikian karena bila monyet punya makanan ekstra, mereka tidak menelan semuanya sekaligus, tapi disimpan di pipi untuk dimakan di waktu lain."

Bangkok, seperti juga Jakarta, punya "tantangan kembar" yang sama - hujan deras dan arus pasang tinggi, tapi Sukhumbhand menjelaskan lebih jauh, "Sistem kami bisa menanganinya dengan cukup baik. Masalahnya adalah bila hujan deras turun di wilayah utara, dan jutaan kubik air datang dan harus dialihkan ke laut. Bangkok ada di jalur pengalihan itu. Itu hukum fisika."

Ketika ditanya bagaimana Bangkok bisa begitu cepat pulih dari kerusuhan politik tahun lalu, jawabannya menarik: "Kunci bagi pemulihan cepat adalah bawah kawasan pusat bisnis dan area industrial tidak ikut rusak."

Namun, Sukhumband tidak suka dengan pendahulunya yang mengacuhkan masalah mass rapid transport. "Berpuluh tahun yang lalu, kami mengambil keputusan yang salah. Kami memprioritaskan fasilitas lalu lintas," katanya.

“Setelah mengalami sendiri kemacetan Bangkok yang parah luar biasa di awal dekade 90-an, saya mau tidak mau memang setuju,” lanjutnya.

"Selama 12 tahun terakhir, kami menempuh jalan yang benar. Sekarang kami punya rel transportasi sepanjang 70 km. Akan ada 300 km lagi dalam 20 tahun ke depan, dan 500 km dalam 30 tahun ke depan.

"Walaupun pemerintah Bangkok mampu membayar pengembangan ini, pemerintah pusat ingin mengambil kendali. Sekarang saya fokus kepada sistem feeder bus. Lebih dari 17 juta perjalanan dalam kota yang terjadi setiap harinya - 60%-nya dengan kendaraan pribadi, dan hanya 40% yang menggunakan transportasi publik. Kita harus membalikkan persentase ini."

Sukhumbhand juga bertekad meningkatkan rasio area "hijau" per orang - meningkatkan angka rasio dari 3,7 m2 menjadi 4,2 m2 dalam masa pemerintahannya.

Tetap saja, seperti pemimpin kota yang lain, Sukhumbhand terpaksa bekerja di bawah restriksi: "Bangkok, tidak seperti pemerintah lokal lain, tidak bisa menaikkan pajaknya sendiri. Kami tidak bisa mengalami defisit anggaran. Ini baik karena kami tidak bisa bangkrut, seperti yang dialami New York beberapa dekade yang lalu, tapi ini juga membatasi opsi pendanaan kami.”

“Singkatnya, kami butuh kerjasama dari yang berwenang, dengan tanggung jawab yang dibebankan pada kami, juga ekspektasi dari rakyat pemberi suara."

Dalam perjalanan saya kembali ke Jakarta dari Bangkok, saya terkagum-kagum atas cara Sukhumbhand yang metodis dan penuh keyakinan. Dia fokus pada pemecahan masalah, apakah itu transportasi urban atau pembagian layanan pemerintah. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.