INILAH.COM, Singapura - Wafatnya taipan Liem Sioe Liong pada Minggu 10 Juni lalu menjadi magnet berita media Singapura dan Indonesia. Om Liem terakhir bermukin di kawasan Mounbatten, Singapura, sejak krisis finansial melanda Asia Tenggara dan meninggalkan rumah besar namun sederhana di Jl Gunung Sahari, Jakarta.
Jejak korporasi Soedono Salim bukan hanya kuat menancap di Indonesia, tapi juga di Singapura dan negara-negara lain. Koran Singapura The Straits Times menerbitkan iklan ucapan bela sungkawa dari dari para partner bisnis dan anak-anak usaha grup Salim serta pribadi-pribadi yang dekat dengan taipan yang meninggal pada usia 97 tahun itu di Raffles Hospital.
Koran-koran terkemuka Indonesia juga kebanjiran iklan obituari Om Liem yang panjangnya juga berhalaman-halaman. Kerajaan bisnis Om Liem, Salim Group, dikendalikan oleh putera bungsunya, Anthoni Salim.
Salim Group memiliki perusahaan yang bergerak di industri kelapa sawit, Indofood Agri Resources, yang tercatat di bursa Singapura dan memiilki nilai pasar S$1,8 miliar. Sedangkan PT Indofood Sukses Makmur dipercayakan kepada menantunya Franciscus Welirang, yang tercatat menjadi pabrik mi terbesar di dunia
Andree Halim, putera kedua Om Liem, mengendalikan bisnis di Singapura. Andre yang semula memiliki sekitar 55 persen saham QAF, perusahaan roti yang sudah masuk bursa Singapura, pada 1993, mulai tahun ini ia menggenggam saham 62 persen. QAF kini memiliki market value S$ 350 juta dan menjual roti dengan merek Gardenia dan Bonjour.
“Keluarga Salim semakin hari semakin menggunakan Singapura sebagai basis operasi internasionalnya, dan cukup substansial,” ujar Dr Marleen Dieleman, Associate Director di Centre for Governance, Institutions and Organisation, School of Business, di National University of Singapore, seperti dikutip The Straits Times.
Pada 1994, majalah Asia Week menobatkan Om Liem sebagai taipan keturunan China yang terkaya di Asia Tenggara yang memiliki kekayaan sebesar US$3 miliar. Pada Juni ini Anthoni Salim dinobatkan oleh majalah Globe Asia sebagai orang terkaya Indonesia nomor tiga dengan kekayaan US$8,5 miliar.
Bisnis Om Liem yang semula banyak dan kurang berfokus, pada 1996-1998 mulai dikonsolidasikan di bawah bendera Salim Grup yang terdiri dari pabrik semen (Indocement Tunggal Perkasa), makanan (Indofood Sukses Makmur), pabrik tepung terigu (Bogasari), properti dan dulu bank BCA (setelah masuk BPN dikuasi grup Djarum).
“Om Liem adalah pribadi yang visioner, sederhana, pekerja keras dan juga setia,” ujar Werianty Setiawan, Direktur Indofood Sukses Makmur. “Banyak orang yang sedih atas kepergian Om Liem, karena mereka kehilangan seorang role model yang mereka puja. Om Liem seorang pemimpin yang positif, yang selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Indofood.”
Di Singapura, Om Liem dikenang baik oleh kalangan pebisnis atas sampai sopir-sopir taksi Singapura. Dua kali Om Liem merayakan pesta penting di Singapura. Pada 2005, ketika merayakan ulang tahun ke-90, Om Liem mengundang 2.000 tamu dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Hong Kong, Thailand, China, Jepang dan para rekan bisnis dari negara-negara Barat. Pesta di hotel Shangri-La Singapura itu dikabarkan menghabiskan biaya S$2 juta, termasuk ongkos pesawat, kamar hotel dan lain-lain.
Setahun sebelumnya, Om Liem merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-60 dengan Lie Kim Ni. Keluarga Om Liem berhasil mengarungi bahtera rumah tangga bak di laut yang tenang dan bersyukur dikarunia putera-putri yang baik pula.
Mereka adalah Albert Halim (menikah dengan Liliana D Kurniawan), Andree Halim (menikah dengan Wen Qiu Lan, setelah isteri pertamanya Hui Tjie Kim meninggal dunia), dan Anthoni Salim (menikah dengan Margareth Salim). Puteri tunggal Om Liem Mira Salim menikah dengan Franciscus Welirang.
Kabarnya Om Liem sangat dekat dengan puteri tunggalnya ini. Dan karena itu, Mira Salim sangat terpukul dengan kepergian ayahandanya ini. Franciscus Welirang mengenang mertua tersayangnya dengan mengatakan, “Setiap orang merasa sedih kehilangan Om Liem. Mereka sangat mencintai beliau, dan putera-puterinya juga sangat dekat dengan beliau. Sampai sekarang mereka tetap baik dengan Om Liem.”
Bekas Presiden Megawati Soekarnopoetri, yang juga melayat ke rumah duka Mount Vernon Funeral Parlour di Jalan Aljunied Atas, juga menyimpan kenangan dengan Om Liem. “Kami berjumpa dengan Om Liem di rumah ibu saya (Jl Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta). Beliau itu pendiam, hidup di dunia bisnis, dan bisnis adalah kehidupan beliau.”
Philip Yeo, bekas kepala Economic Development Board Singapura (semacam Bappenas di Indonesia) yang pernah bekerja dengan Anthoni Salim di Batam Industrial Park pada 1990, juga ikut mengomentari almarhum om Liem. Katanya, “Dia (Anthoni) beruntung ayahnya panjang umur. Om Liem orangnya sangat baik. [Dari berbagai sumber]