"Kapan ketemu? Besok Sore? Okey. Kita ngopilah. Sampai besok, yah", demikian salah satu potongan percakapan singkat yang terdengar dari seorang lelaki parlente yang sedang berjalan di lobi sebuah mal di daerah Senayan, Jakarta.
Lelaki berusia sekitar 45 tu terkesan sangat sibuk. Dengan dua smartphone merek Blackberry di tangan, seusai menelpon, ia langsung memencet-mencet keyboard ponselnya. Lelaki itu terkesan seorang profesional atau direktur perusahaan swasta yang cukup sukses. Ini terlihat dari caranya berbusana.
Caranya memadukan warna pakaian, cukup serasi. Berkemeja lengan panjang warna abu-abu dengan dasi merah hati, tubuhnya yang dibalut blazer warna biru langit, memberi impresi ia seorang lelaki yang matang dalam berpikir.
Rupanya lelaki itu merupakan pengunjung tetap di mal papan atas tersebut.
Beberapa karyawan cukup kenal wajah laki-laki tersebut, sekalipun mereka tidak tahu siapa namanya dan apa profesinya. Ia mudah dikenal, antara lain karena penampilannya cukup rapih. Selain berwajah simpatik, dengan potongan tubuh yang cukup atletis, lelaki itu, kalau berjalan di koridor mal, cukup menarik perhatian.
Pada sebuah akhir pekan, belum lama ini, saya buat janji dengan sahabat lama bertemu di mal, tempat saya melihat lelaki tersebut.
Kami berdua sepakat makan siang di sana. Saat sedang menuju ke restoran, saya lihat kembali lelaki parlente itu sedang duduk mengahadap meja makan dengan dua sahabatnya.
Yang mengejutkan, ketika kami menuju ke restoran terebut, sahabatku ini tiba-tiba minta saya berhenti. Ia berbalik arah sambil terburu-buru membuat panggilan telepon. keluar. Ia memberi kode kepada saya untuk berjalan ke arah lain.
Kami kemudian menuju car call dan sahabatku ini memanggil sopir pribadinya. Kami pindah ke restoran di luar mal tersebut.
Di dalam kendaraannya, sahabatku menceritakan pengalamannya yang tidak enak dengan lelaki parlente yang diceritakan di awal artikel ini.
Intinya lelaki parlente itu, sebetulnya seorang pengacara. Sang pengacara nyaris menipunya.
Lantas ada apa sehingga ia tidak suka bertemu dengan si pengacara? PIkir saya, bukankah punya teman pengacara di zaman sekarang ini cukup enak? Tapi rupanya pengacara itu hanya nama plesetan. Makna sebenarnya adalah Pengangguran Banyak Acara (Pengacara).
Si pengangguran ini rupanya suka mencari mangsa di mal tersebut. Ia suka menawarkan sejumlah proyek bisnis fiktif. Disebut demikian karena proyek yang dimaksudkan itu memang tidak ada. Sampai-sampai sahabatku menggambarkannya dalam bahasa luar biasa sarkastisnya : proyek mengecat langit atau mengosongkan air samudera.
Biasanya si pengacara sembari duduk di sebuah kafe atau restoran, tapi kedua matanya tetap awas kesana-kemari. Kalau ada orang yang dia kenal yang ke toilet, ia ikuti orangnya dari belakang. Di ujung toilet, si pengacara lalu menawarkan proyek fiktif.
Pada pembicaraan pertama ia tawarkan untuk membicarakan bisnis bersama. Nilainya di atas Rp50 miliar. Bisnis yang ditawarkannya itu katanya, bersifat quick yielding dan tanpa saingan.
Tertarik dengan gagasan itu maka dibuatlah janji bertemu. Dalam pertemuan perdana kemudian tidak hanya satu peluang bisnis yang ditawarkan.
Ia akan menyebut sejumlah nama yang punya kewenangan di pemerintahan yang bakal memperlancar bisnis tersebut, jika sudah tercapai kesepakatan. Dan seterusnya. Maksudnya, ia memberi jaminan bisnis itu sangat menjanjikan.
Kadang-kadang dalam pertemuan perdana ini lahir ksepakatan bertemu kembali. Dan jangan kaget, setelah pertemuan kedua, si pengacara mulai bertingkah. Ujung-ujungnya dia minta bantuan pinjaman uang.
Tidak banyak. Hanya sekitar Rp20 juta. Disebut tidak banyak sebab jika dibandingkan dengan bisnis yang sedang dibicarakan, angka duapuluh juta tersebut hanya 0,0 sekian prosen.
Tapi akhirnya kalau sudah tidak diberi, angka itu akan diturunkannya. Bila tidak diberi, akhirnya, sembari memelas, si pengacara minta dipinjami uang taksi Rp200.000 saja.
Aneh bukan? Ketika bicara bisnis, yang dibahas soal volume yang mencapai puluhan miliar rupiah. Tetapi uang taksi saja dua ratus ribu saja, tidak punya.
Ceritera lain, pernah si pengacara minta bantuan pinjaman beberapa ratus ribu dengan alasan menebus resep obat di apotik yang ada di mal tersebut. Juga aneh bukan? Bisnis yang dibicarakann menyangkut puluhan miliar rupiah. Tapi untuk beli obat seharga ratusan ribu rupiah, juga tidak punya.
Jadi rupanya si pengcara ini tergolong penganggur terselubung yang menjadikan mal sebagai tempatnya beraktifitas. Sebuah fenomena baru di ibukota yang mungkin belum terdeteksi oleh petugas Biro Pusat Statistik.
Mal-mal di ibukota Jakarta, terutama yang masuk kategori papan atas, memang mampu menutupi semua tingkah laku dan kebohongan para pengunjung yang berprofesi sebagai 'pengacara'. Wewengian atau parfum, cukup kuat menutupi perbuatan 'busuk' para 'pengacara' yang beroperasi di sana.
Pesan moral dari tulisan ini, jika Anda termasuk yang suka membuat janji pertemuan di kafe dan restoran mal, sebaiknya lebih berhati-hati.
Waspadailah orang-orang yang berperilaku aneh dengan menawarkan berbagai peluang bisnis yang menggiurkan. Proyek itu hanyalah pepesan kosong.
Sejauh ini memang tidak ada pengaduan yang sampai ke aparat kepolisian dengan modus operandi seperti yang diceritakan.
Tetapi ini tidak berarti, anda tak perlu pasang mata dan buka telinga. Jangan sampai anda tertipu oleh pengacara seperti yang digambarkan di atas. [mor]