Rabu, 19 Juni 2013 | 05:16 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Tutup  
Majalah InilahREVIEW Edisi ke-40
Rupiah Meriang
Headline
inilah.com
Oleh: Latihono S, Iwan P, dan Vinsen
web - Senin, 4 Juni 2012 | 06:00 WIB
Berita Terkait

Yunani hanyalah sebuah negeri kecil, nun di benua Eropa sana. Namun, negara yang luasnya hanya seperempat-belas dari Indonesia itu, kini sedang menjadi pusat perhatian dunia.

Semua merasa prihatin, sekaligus khawatir terhadap krisis finansial yang melanda Negeri Dewa tersebut. Sebab, jika Yunani tidak ditolong, negeri itu akan bangkrut. Dan, dampaknya akan menjalar ke mana-mana, tak terkecuali Indonesia.

Salah satu yang akan terkena dampak negatif dari krisis Eropa adalah sektor keuangan. Contohnya sudah jelas sejak dua pekan lalu, ketika investor ramai-ramai menjual saham, lalu membeli dolar AS, yang dianggap sebagai safe haven(penempatan sementara yang aman).

Sejak pekan kedua bulan Mei, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus tergerus. Dan,sejak saat itu pula, asing selalu mencatatkan net sell. Kini, IHSG, berkubang di bawah 3.900. Padahal sebelumnya, selama 2,5 bulan, IHSG anteng di atas 4.000.

Aksi jual oleh investor itulah, yang membuat rupiah meriang. Nilainya terus anjlok hingga mencapai Rp 9.500 per dolar AS. Banyak yang menduga, kalau waktu itu Bank Indonesia tidak melakukan intervensi pasar, kurs dolar AS akan bertahan di level Rp 9.500. Bahkan, mungkin bisa melambung lebih tinggi lagi. Memang, pada penutupan Jumat pekan lalu, rupiah sudah menguat menjadi Rp 9.350 per dolar AS. Namun, ini bukan jaminan, di hari-hari mendatang rupiah tak bakal tertekan.

Tengok saja, aksi investor asing pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jumat sore pekan lalu. Saat transaksi ditutup, dana asing sebanyak Rp 700 miliar melayang ke luar. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) amblas 33,058 poin (0,87%) ke level 3.799,766.

Menurut Menteri Keuangan Agus Martowardojo, sepanjang bulan Mei, dana asing yang hengkang dari Indonesia sudah mencapai Rp 5,86 triliun. Dana itu berasal dari pasar saham dan surat utang negara (SUN).

Terkuras US$ 3 Miiar

Keadaan bisa semakin memburuk, bila krisis di Eropa, terutama Yunani tak ada penyelesaian. “Kita lihat saja hasil pemilu di Yunani tanggal 17 Juni nanti, apakah negeri itu tetap di zona euro atau keluar. Kalau keluar, dampaknya akan lebih besar lagi,” kata ekonom dari Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan kepada InilahREVIEW.

Banyak kalangan memprediksi, saat ini saja tekanan terhadap rupiah masih akan besar. Sebab, investor global masih menghindari kawasan pasar baru. “Peluang menuju Rp 10 ribu terbuka. Apalagi ekonomi China belum pulih sepenuhnya,” ujar Apressyanti Senthaury, analis dari Divisi TreasuryBank BNI.

Untuk menahan agar rupiah tidak terperosok jauh, Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi pasar. Akibatnya, sudah bisa ditebak cadangan devisa yang ada di kas BI terkuras. Kalau sebelumnya US$ 116 miliar, kini sudah berkurang US$ 3 miliar menjadi US$ 113 miliar.

Bukan cuma itu. BI sebentar lagi juga akan mengeluarkan instrumen baru berupa Term Deposit (TD) valas atau deposito berjangka valuta asing. Dengan instrumen ini bank diharapkan tidak lagi memutar valas di Pasar Uang Antar Bank (PUAB) luar negeri. Begitu pula eksportir bisa melepas valas ke BI.

Hanya saja, tertekannya rupiah, semata-mata tak hanya karena krisis di Eropa, terutama Yunani. Melemahnya rupiah juga akibat meningkatnya permintaan dolar AS oleh perusahaan-perusahaan yang utangnya jatuh tempo pada akhir Mei lalu. Selain itu, perusahaan yang dimiliki asing mulai mengirim dividen ke negara asalnya. Dan,yang tak kalah penting, menurut Gubernur BI Darmin Nasution, adalah naiknya permintaan dolar AS di setiap pertengahan tahun.

Jangan Anggap Enteng

Tapi, faktor utama meningkatnya pembelian dolar AS, tetap saja lantaran krisis di Eropa yang terus memburuk. Maka tak begitu salah kalau Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengingatkan, jangan anggap enteng krisis di Benua Biru tersebut. Sebab, turunnya kepercayaan pasar finansial, kata Hatta, bisa membuat krisis keuangan menjadi pemicu krisis ekonomi.

Keterpurukan rupiah memang menjadi trauma besar bagi Indonesia. Krisis moneter tahun 1997/1998 adalah mimpi buruk yang tak bisa dilupakan. Saat itu, rupiah terperosok hingga mencapai Rp 16 ribu per dolar AS. Akibatnya, perekonomian Indonesia porak-poranda. Begitu juga krisis tahun 2008, yang sempat menyeret rupiah ke level di atas Rp 10 ribu per dolar AS.

Tapi, harus diakui, pada krisis 2008, ekonomi Indonesia relatif lebih kebal terhadap gejolak ekonomi dunia. Ekonominya terus tumbuh di kisaran 6% saban tahun. Faktor penggerak utamanya adalah konsumsi dalam negeri yang kuat, yang menyumbang lebih dari 50% angka produk domestik bruto.

“Indonesia memiliki sumber pertumbuhan ekonomi yang tak terlalu tergantung kepada ekonomi global,” ujar Wakil Presiden Boediono dalam wawancara dengan The Wall Street Journal beberapa hari lalu.

Apa yang diungkapkan Boediono, tampaknya lebih cocok disebut sebagai pil penenang. Sebab, pernyataan yang dikemukakan sang wakil presiden, tidak selaras dengan langkah-langkah yang tengah dipersiapkan pemerintah saat ini.

Lihat saja, untuk menghadapi guncangan yang lebih buruk, pemerintah menyiapkan sejumlah jurus baru. Salah satunya, menyiapkan pinjaman siaga sebesar Rp 5,5 miliar atau sekitar Rp 46 triliun. Langkah ini diambil untuk menyelamatkan sektor keuangan nasional, sekaligus menjaga nilai tukar rupiah.

Maklum, sebanyak 40% pendanaan perbankan di Asia, datang dari Eropa, sehingga kemungkinan terjadinya penarikan dana besar-besaran, cukup terbuka. Selain itu, pemerintah terus melakukan koordinasi moneter dan fiskal agar momentum investasi terpelihara, dan tingkat inflasi serta neraca pembayaran tetap terjaga.

Langkah lainnya, mengurangi belanja yang tidak perlu, demi menjaga kesehatan APBN. Artinya, akan ada lagi anggaran kementerian dan lembaga yang dipangkas. Padahal, sebelumnya pemerintah telah memotong anggaran sejumlah kementerian dan lembaga hingga Rp 19 triliun.

Tapi, tak apalah. Ini demi menjaga rupiah agar tidak terus meriang.

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-40 yang terbit Senin, 4 Juni 2012. [tjs]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.