INILAH.COM, Jakarta - Guna meminimalisir kerusakan air tanah yang saat ini kian memprihatinkan, Pemprov DKI Jakarta membangun sanitari pengolahan limbah domestik raksasa. Tak tanggung-tanggung pembangunan ini menghabiskan anggaran sekitar 500 juta US Dollar.
"Pembangunan proyek ini tidak sepenuhnya dibiayai oleh anggaran daerah. Namun juga pihak swasta melalui obligasi daerah. Dan saat ini rencana pembangunan telah melalui tahap refiew masterplan yang dilakukan Februari lalu. Kemudian akan dilanjutkan melalui study kelayakan. Ditargetkan pengerjaan fisik sanitari pengolahan limbahan ini akan dimulai pada 2015 mendatang," kata Asisten Perekonomian DKI Jakarta, Hasan Basri Saleh, Minggu (3/6/2012).
Ia menambahkan pembangunan sanitari sebagai upaya Pemprov DKI memperbaiki kualitas air tanah yang saat ini telah tercemar bakteri ecoli. Sehingga tidak lagi laik dikonsumsi. Melalui proyek yang tahap awal mencakup wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Barat diharapkan pada 2020 sebanyak 20 persen limbah telah diolah.
"Saat ini baru 2,5 persen limbah yang tertangani. Mengingat saat ini Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dimiliki Pemprov DKI Jakarta baru satu yakni di Setiabudi, Jakarta Selatan," ungkapnya.
Guna menunjang hal tersebut, Pemprov DKI akan membangun dua IPAL baru. Salah satunya di Pejagalan, Jakarta Utara.
Hasan menambahkan, bahwa pembangunan sanitari ini merupakan pemikiran dari Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, melihat kondisi air tanah di ibukota. Dengan adanya sanitari ini nantinya setiap limbah domestik yang dihasilkan warga tidak lagi dibuang melalui septic tank. Namun langsung ke IPAL. Sehingga tidak lagi mencemari lingkungan.
Pembangunan sanitari ini juga merupakan rangkaian tahapan penyediaan air bersih bagi warga. Jika nantinya, pencemaran bakteri e-coli sudah dapat diatasi maka pengolahan air bersih dengan menggunakan air tanah kembali dapat dilakukan. “Di kota-kota besar juga melakukan hal yang sama. Proyek ini merupakan bagian dari penyelematan lingkungan Jakarta dalam jangka panjang,” ucap Hasan.
Saat ini pengelolaan air limbah baru terpusat di Setibabudi, Jakarta Selatan. Tiga kecamatan yang sudah terlayani, yakni Kecamatan Setiabudi, Kecamatan Tebet, dan Kecamatan Tanahabang. Rencananya akan ada lima zona pengolahan air limbah terpadu yang akan melayani pembuangan limbah dari 700 ribu jiwa warga Jakarta. Salah satunya adalah zona sentral yang akan dibangun Pemprov DKI bekerjasama dengan Departemen Pekerjaan Umum.
Di zona sentral ini akan dibangun pipa penyalur air limbah berdiameter 1,8 meter di sepanjang kawasan Setiabudi dan jalan-jalan di Jakarta Pusat, menuju ke Gajah Mada-Hayam Wuruk lalu terpusat ke Pluit. Nilai proyeknya mencapai Rp 3,8 triliun yang berasal dari pemerintah pusat sebesar Rp3,1 triliun dan dari APBD DKI Jakarta sebesar Rp700 miliar.[dit]