INILAH.COM, Jakarta – Pelemahan rupiah dinilah sebagai masalah utama bagi IHSG. Sebab, hal itu indentik dengan aksi net sell dari investor asing dan indeks pun tertekan.
Analis Sekuritas Ekokapital Cece Ridwanullah mengatakan, pelemahan rupiah ke level 4.500-an per dolar AS, jadi salah satu kekhawatiran pasar. Menurutnya, rupiah juga yang membuat indeks berkutat pada penguatan tipis jelang akhir sesi kemarin.
Pelemahan rupiah, menurut dia, identik dengan aksi net sell dari investor asing sehingga jadi tekanan negatif bagi IHSG. Karena itu, dia, merekomendasikan positif delapan saham-saham yang tidak terpengaruh oleh pelemahan rupiah dari sektor perkebunan, properti, dan consumer goods. “Saya rekomendasikan buy on support,” katanya kepada INILAH.COM.
Pada perdagangan Selasa (29/5/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup menguat tipis 0,38 poin (0,01%) ke angka 3.919,065 dengan intraday tertinggi3.924,26 dan terendah 3.892,998. Begitu juga degnan indeks saham unggulan LQ45
yang naik 0,29 poin (0,04%) ke angka 660,923.Berikut ini wawancara lengkapnya:
IHSG menguat tipis 0,38 poin ke 3.919,65. Bagaimana Anda melihat arahnya Rabu (30/5/2012) ini?
Jika indeks Dow Jones menguat, IHSG pun bakal menguat. IHSG memiliki support 3.860 dan resistance 3.950.
Faktor apa yang membuat IHSG mendarat di teritori positif kemarin?
Indeks berhasil menguat kemarin seiring penguatan beberapa saham seperti PT Telkom (TLKM) akibat pembagian dividen sebesar Rp350-an per saham. Ada juga beberapa saham yang cum dividen kemarin seperti PT Bukit Asam (PTBA) dan PT Adaro Energy (ADRO) dan ditopang oleh beberapa saham yang ditarik pada akhir sesi.
Dari regional, Hang Seng Index (HSI) sudah naik pada posisi 1,42%, Nikkei juga naik 0,74%, dan bursa Eropa dibuka menguat. Artinya, masih ada sinyal positif yang juga bisa menentukan pergerakan indeks Rabu ini.
Mengapa penguatan IHSG tipis dibandingkan regional?
Ada beberapa aspek yang mempengaruhi tipisnya kenaikan indeks domestik kemarin sehingga sangat kontras dengan kenaikan beberapa bursa regional Asia dan pembukaan bursa Eropa. Salah satunya dipicu oleh investor asing yang terus berposisi net sell sebesar Rp414,4miliar.
Pada saat yang sama, rupiah melemah ke level 4.500-an per dolar AS. Beberapa kekhawatiran inilah, yang membuat indeks berkutat pada penguatan tipis jelang akhir sesi kemarin. Sejak pekan lalu, merebak isu kemungkinan terjadinya kekeringan likuiditas saat rupiah melemah ke 9.350 per dolar AS.
Ada rumor, untuk menahan pelemahan rupiah, BI Rate kemungkinan bakal dinaikkan oleh Bank Indonesia (BI). Tapi, sebenarnya, selain BI rate naik, BI memiliki pertimbangan lain dengan mengintervensi pasar agar rupiah tidak terlalu berfluktuasi signifikan. Sejauh ini, BI telah melakukannya.
Hingga level berapa potensi pelemahan rupiah?
Penentu pergerakan rupiah adalah saat pemilu ulang di Yunani pada 17 Juni 2012. Jika partai pendukung bailout menang, saya kira rupiah akan menguat. Sebaliknya, jika pemenang pemilu adalah partai antibailout, rupiah akan terus melemah tajam.
Jika pemenang pemilu Yunani adalah partai antibailout, rupiah akan melemah tajam dan bisa bertahan di 9.500 bahkan 9.900-10.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah identik dengan aksi net sell dari investor asing sehingga jadi tekanan negatif bagi IHSG.
Selain faktor rupiah yang jadi tekanan negatif bagi IHSG?
Penurunan harga batu bara di pasar berjangka Inggris membuat saham-saham komoditas di Bursa Efek Indonesia (BEI), juga ikut turun. Karena itu, saham-saham batu bara tak mendapat rekomendasi positif. Apalagi, harga batu bara mingguan di Newcastle turun 5,2% ke level US$90 per metrik ton.
Karena itu, IHSG masih butuh sinyal positif dari pergerakan Dow Jones Industrial Average (DJIA) semalam. Sebab, pada awal pekan ini, bursa AS libur. Belum lagi, saham PT Astra Internasional (ASII) yang tidak mendukung penguatan indeks karena faktor pelemahan rupiah.
Saham-saham pilihan Anda?
Saya rekomendasikan positif delapan saham-saham yang tidak terpengaruh oleh pelemahan rupiah dari sektor perkebunan, properti, dan consumer goods. Saham-saham pilihan adalah PT London Sumatera Plantation (LSIP), PT Sampoerna Agro (SGRO), PT Astra Agro Lestari (AALI), PT Bukit Sentul City (BKSL), PT Summarecon Agung (SMRA), PT Agung Podomoro Land (APLN), PT Gudang Garam (GGRM), dan PT Unilever Indonesia (UNVR).
Bagaimana strategi trading pada saham-saham tersebut?
Saya rekomendasikan buy on support.