INILAH.COM, Jakarta - Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengakui, program penghematan yang dilakukan pemerintah tidak akan cukup kuat menahan jebolnya anggaran.
Hal tersebut terutama disebabkan batalnya penaikan harga BBM bersubsidi. "Kita masuk ke era yang menantang, yaitu karena kita tidak bisa menaikkan harga BBM. Sehingga dalam menjalankan APBNP, pengeluaran-pengeluaran tentu tidak bisa sebesar kalau seandainya penyesuaian BBM dapat dilakukan," paparnya di Jakarta, Jumat (25/5/2012).
"Walaupun kita telah komit potong anggaran Rp18,9 triliun, walaupun kita tidak akan menggunakan dana kompensasi Rp30 triliun. Tapi tiap kenaikan harga minyak dunia, membuat porsi subsidi menjadi besar," jelas Agus Marto.
Di sisi lain, ia berharap, kementerian lembaga dapat menekan adanya kebocoran anggaran agar belanja negara tidak semakin menjulang, hanya karena faktor tersebut.
"Kalau pengelolaan kita sudah dipotong Rp18,9 triliun masih tidak cukup arahkan pemerintah seluruh Indonesia, untuk melakukan penghematan, sangat tidak bisa diterima adanya pemborosan-pemborosan ataupun kebocoran-kebocoran," ungkapnya.
"Kita dengan bagaimana anggaran belanja dinas bisa bocor 30-40 persen, itu tidak bisa diterima kami minta semua jajaran semua yang ada di wilayah-wilayah itu betul-betul mengingatkan institusi di K/L agar hal tersebut tidak terjadi," paparnya. [rus]