Rabu, 22 Mei 2013 | 21:31 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Sukhoi dan Reputasi
Headline
Syafiq Basri Assegaff - IST
Oleh: Syafiq Basri Assegaff
web - Jumat, 11 Mei 2012 | 08:18 WIB

Pesawat Sukhoi Superjet 100 yang dibuat Rusia sejak runtuhnya Uni Soviet tiba-tiba jatuh di kawasan Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/5). Jatuhnya pesawat ini tentu mengancam reputasi pembuatnya.
Belum jelas apa sebabnya. Semua pihak pasti tidak sabar menunggu hasil penelitian Komisi Nasional Keselamatan Transportasi.
Dua pihak terkena dampak Superjet naas itu. Pertama, ia mencoreng nama baik industri penerbangan Indonesia yang sedang berjuang untuk mendongkrak reputasi.
Kedua, yang tampaknya paling terpukul, adalah reputasi industri penerbangan Rusia. Superjet itu membawa harapan besar bagi Rusia, yang tengah ngotot berupaya meningkatkan nama baik industrinya dengan sejumlah prestasi membanggakan.
Apa boleh buat, jatuhnya Sukhoi ini – sekitar satu pekan setelah inagurasi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk ketiga kalinya – jelas memperdalam ‘luka’ industri penerbangan Rusia yang selama ini harus berurusan dengan berbagai masalah keamanan, kerusakan dan beberapa ‘crash’ yang membawa banyak kematian, sehingga sulit menjualnya di luar wilayah bekas Uni Soviet, Iran, Kuba dan sebagian Afrika.
“Mereka harus cepat menjernihkan masalah (kecelakaan) itu, benar-benar segera,” kata Richard Aboulafia, analis penerbangan dari perusahaan Teal Group di Fairfax, Virginia, AS, sebagaimana dikutip The Newyork Times, Kamis kemarin. ”Pesawat ini telah membawa harapan bagi Rusia untuk bangkit kembali, memperbaiki apa-apa yang sebelumnya mereka alami.”
Superjet 100 diproduksi oleh perusahaan pemerintah Rusia, Sukhoi, yang lebih dikenal sebagai produsen pesawat tempur. Pesawat Superjet itu berharga sekitar US$31,7 juta (sekitar Rp285 milyar), yakni sekitar 30% lebih murah ketimbang harga pesawat jet jarak-pendek sejenis yang diproduksi Kanada. Itu sebabnya, Sukhoi berharap dapat menjual seribu unit selama dua dasawarsa ke depan.
Dalam rangka road-show di depan para eksekutif penerbangan di enam negara Asia yang dimulai pekan sebelumnya, Sukhoi telah melalukan joy flight di Myanmar, Pakistan dan Kazakhstan. Rencananya, setelah Indonesia, Superjet 100 itu akan mengunjungi Laos dan Vietnam.
Ada kabar bahwa sesungguhnya sebelum terbang dari Bandara Halim Perdanakusumah pada Rabu siang, pesawat itu menjalani pengecekan ‘preflight’, dan bahwa demonstrasi yang dilaksanakan pagi harinya telah berjalan secara baik, tanpa ada masalah teknis. Dikatakan pula, bahwa pesawat tersebut telah melengkapi 500 penerbangan tanpa ada laporan mengenai masalah teknis serius.
Namun, apa boleh buat, kecuali jika nantinya terbukti bahwa penyebab kecelakaan adalah kesalahan pilot (human error) -- dan bukannya kegagalan mekanis -- maka mungkin sekali sekian banyak calon pembeli akan menunda transaksi mereka dengan pihak Sukhoi.
Sesungguhnya, kecelakaan saat demo ini bukan tanpa preseden. Sebuah Airbus 320 pernah mengalami kecelakaan serupa saat melakukan ‘demonstration flight’ pada 1988 lalu, menewaskan tiga orang dan melukai 50 lainnya.
Hasil investigasi memastikan bahwa penyebabnya adalah kelalaian sang pilot, dan tidak ada bukti penyebab teknis. Sesudah itu, A320 menjadi salah satu model pesawat paling banyak dijual.
Jika nanti analis menemukan ‘human error’ sebagai penyebab jatuhnya pesawat di Cidahu itu, boleh jadi rencana pembelian 240 unit oleh berbagai pihak akan berjalan lancar. Sebaliknya, jika nantinya ditemukan cacat dalam desain pesawat, maka bukan mustahil semua order pembelian yang ada bisa batal.
Reputasi.
Sejak awal, tampaknya awan hitam banyak menyelingkupi Superjet. Ketika tahun lalu pesawat pertama masuk ke dunia komersial lewat perusahaan airline Rusia Aeroflot, Superjet itu sempat dilarang terbang (grounded) akibat adanya kerusakan alat pendeteksi kebocoran pipa-pipa yang mengalirkan udara sejuk ke dalam kabin.
Itu semua tentu menurunkan reputasi Superjet. Sehingga ia makin sulit bersaing dengan perusahaan sekelas Airbus dan Boeing.
Tapi apakah memang Rusia seolah tidak peduli pada reputasi perusahaan penerbangan mereka? Belum tentu. Masalahnya, di banyak negara lain pun soal reputasi masih menjadi kendala bagi banyak perusahaan.
Para pimpinan dan CEO perusahaan memang menyadari pentingnya ‘nama baik’, tapi hal itu tidak menjamin mereka melaksanakan program untuk meneliti reputasi mereka sendiri.
Sebuah survei oleh konsultan komunikasi Amerika Burson-Marsteller menemukan bahwa, 95% pimpinan bisnis yakin bahwa reputasi perusahaan ‘memegang peran sangat penting’ dalam upaya meraih tujuan usaha. Tetapi anehnya hanya 19% yang memiliki sistem formal untuk mengevaluasi nilai reputasi perusahaan mereka.
Di antara penyebabnya adalah karena reputasi itu ‘intangible’, dan ia sebuah konsep yang kompleks. Selain itu, nilai uang bagi perbaikan tumbuhnya reputasi – yang merupakan konsep jangka panjang – sulit dikuantifisir, sementara pimpinan usaha sering disibukkan mengurusi kegiatan operasional yang mendesak.
Selain itu, berhubung masalah reputasi mencakup area yang luas di dalam organisasi, maka sulit mengalokasikan tanggungjawab secara spesifik pada fungsi kerja masing-masing bagian.
Boleh jadi, karena itulah urusan ‘nama baik’ Sukhoi jadi terkendala. Saat memasuki produksi Superjet tahun lalu, stasiun televisi Rusia NTV melaporkan bahwa, 70 insinyur di pabrik pesawat itu kedapatan telah menggunakan ijazah palsu dengan cara menyuap sebuah sekolah teknik.
Tetapi pihak Sukhoi menyanggah, dan mengatakan bahwa, “mereka tidak terlibat secara langsung dalam proses assembling pesawat.”
Sebelum itu, tempo hari sejumlah pesawat Tupolev -- yang dibuat salah satu divisi United Aircraft Corporation, induk perusahaan Sukhoi -- juga terlibat dalam berbagai kecelakaan.
Menurut para analis, berbagai kecelakaan yang dialami pesawat-pesawat pada era Soviet dulu juga membawa ‘luka lama’ bagi reputasi Sukhoi. Belum lagi bila menghitung pesaingnya dalam dunia aviasi, Airbus dan Boeing. Keduanya menjadi penghalang terbesar bagi Sukhoi, karena Airbus dan Boeing telah memiliki catatan keamanan (safety record) yang tinggi dan sejarah panjang.
Apa boleh buat, perusahaan seperti Sukhoi seharusnya sadar bahwa segala biaya dan rintangan tidak boleh menghalangi mereka dalam membangun ‘nama baik’ itu, khususnya karena manfaat amat besar yang bakal dipetik berkat reputasi yang baik.
Di antara manfaat itu adalah, pertama, ‘customer preference’: semua pembeli akan bersemangat melakukan bisnis dengan Anda saat banyak produk dan jasa perusahaan lain tersedia dengan harga dan kualitas yang sama.
Selain itu, perusahaan bisa menjual produknya lebih mahal ketimbang pesaing dengan reputasi buruk.
Namun kini kita ragu, apakah Sukhoi masih bisa menjual Superjetnya setinggi Rp285 milyar, mengingat bahwa satu kecelakaan saja sudah bisa memerosotkan nilai saham perusahaan. Contohnya, saham Exxon pernah anjlok 20% segera setelah insiden kapal Exxon Valdez pada 1989.
*) Konsultan komunikasi, dosen komunikasi di Universitas Paramadina, dan di STIKOM London School of Public Relations, Jakarta. www.syafiqb.com.
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.