Seni kontemporer bukan hanya sekadar karya yang kita gantung di dinding ruangan atau kita pajang di tengah ruang tamu. Sebuah karya seni tidak seharusnya steril dan diam mematung.
Juga tidak seharusnya jadi tempat pamer harga – sesuatu berbau Damien Hirst yang nilainya ditentukan oleh sukses atau tidaknya si seniman dalam sebuah lelang.
Alih-alih, karya seni yang kita pandang, beli atau jadi hiasan di tempat tinggal kita seharusnya dapat ‘memperkaya’ kita sebagai individual.
Tapi untuk melakukan itu, seorang kolektor atau pecinta seni harus mengambil peran yang lebih aktif dan personal dalam karya yang dibeli dan dinikmatinya.
Dua pameran baru-baru ini menunjukkan bagaimana dua pecinta seni (keduanya dokter) – Dr Oei Hong Djien dan Dr Melani Setiawan – telah memberikan kontribusi pada komunitas kreatif yang lebih luas, membuat seni menjadi relevan dan menanamnya dengan lebih dalam di kehidupan kita sehari-hari.
Dr Oei adalah seorang dokter anak yang tinggal di Magelang, yang kini menjadi pelaku bisnis tembakau dan juga patron dunia seni. Dia telah membeli lebih dari 2000 karya seni, termasuk karya maestro-maestro Indonesia seperti Affandi, Widayat, Hendra Gunawan, S. Sudjojono hingga Lee Man Fong.
Karya Hendra yang dimiliki Dr Oei benar-benar luar biasa. Karya-karya ini menangkap aura Jawa yang kental dan meletup-letup dengan bahasa estetika yang memukau (jari kaki berwarna hijau, jari tangan berwarna ungu dan tubuh-tubuh yang berlekuk-lekuk).
Karya yang tertuang di kanvas ini sampai sekarang masih tetap mempesona sama seperti ketika pertama kali dilukis sekitar 40 atau 50 tahun lalu.
Dr Oei yang awet muda ini, dengan gaya tawanya yang keras dan khas, baru-baru ini merayakan ulang tahunnya ke-73 dengan membuka museum baru – museum ketiga miliknya – di kotanya.
“Museum OHD” baru di Jalan Jenggolo ini tidak seperti dua museum lain yang didirikan Dr Oei di belakang rumahnya di Jalan Diponegoro. Yang satu didirikan 1997, yang satu lagi 2006. Kedua museum ini lebih merupakan institusi pribadi, sementara galeri yang baru saja dibuka ini terbuka untuk publik.
Namun saya tidak bisa menghadiri pembukaannya, tapi saya cukup beruntung mendapat kesempatan mengunjungi dua museum lainnya beberapa tahun lalu. Ditambah lagi, saya juga beruntung karena Dr Oei secara pribadi membawa saya melihat-lihat museumnya – menjelaskan signifikansi dari masing-masing karya seni juga bagaimana ceritanya sampai dia bisa memiliki mereka.
Dr Oei adalah orang yang sangat berkecukupan. Untungnya – dan ini membuatnya berbeda dari banyak kolektor seni lain di Indonesia yang terobsesi dengan harga sebuah karya seni – Dr Oei tidak mencampuradukkan uang dengan karya seninya.
Bagi Dr Oei dan museumnya, yang penting adalah seni itu sendiri: kita berada di sini untuk menikmati, untuk disentil, diprovokasi, ditantang dan distimulasi.
Baginya, manusia, tempat, peristiwa dan tema – baik yang personal maupun publik – sangat penting. Dan dengan membaginya, dia telah menyuntikkan hidup dan gairah ke dalam karya-karya seninya. Lukisan-lukisan miliknya bukan sekadar ornamen pasif dan bosan dalam diam, tergantung di dinding rumahnya.
Tentu saja, ini makin diperkuat lagi dengan kepribadiannya yang meluap-luap. Dengan energi dan keriangannya yang mengalir lepas, Dr Oei seperti tidak punya tempat untuk energi negatif. Dia adalah seorang humanis sejati: selalu bersemangat, antusias dan ingin tahu – tak henti mencari dan mempertanyakan proses di mana seni diciptakan dan diapresiasi.
Kemurahan hati dan keterbukaannya menjadi semangat yang menjiwai museumnya. Menariknya, prolog dari kumpulan essay dan pemikirannya “Art and Art Collecting” diberi judul: “Let’s keep learning and sharing”.
Saya rasa tidaklah berlebihan kalau mengatakan bahwa koleksinya yang sulit ditandingi ini suatu hari nanti akan membentuk nukleus dari masa depan galeri nasional seni modern Indonesia.
Dr Melani Setiawan lain lagi. Dia bukanlah kolektor seperti Dr Oei. Tapi, namanya telah berpuluh tahun dikenal di komunitas seni Indonesia, dan dengan kameranya, tak terhitung banyaknya pembukaan pameran dan karya seni yang telah didokumentasikannya.
Sebuah pameran baru-baru ini di Galeri Nasional (Indonesian Art World: The Archive 1977-2011) menampilkan arsip fotonya yang mencapai lebih dari 45.000 foto, dengan tema dokumentasi dan kenangan personal.
Ketika kita mengeksplorasi arsip personalnya – yang mendokumentasikan pembukaan galeri dalam rentang waktu puluhan tahun, sekelompok seniman (total berjumlah 60) dikumpulkan untuk menciptakan karya yang terinspirasi dari arsip pribadi mereka sendiri.
Ini merupakan pameran menarik yang menembus batas bentuk seni, dari instalasi, lukisan, fotografi dan pertunjukan, yang semuanya dihubungkan dengan semangat Dr Melani akan dunia seni.
Jadi, dengan Dr Oei dan Melani, kita dipertemukan dengan dua pecinta seni yang lebih dari sekadar pemilik karya seni. Mereka menjadikan kecintaan mereka terhadap seni sebagai sesuatu yang nyata, tertanam dalam dan sangat hidup pada komunitasnya.
Seperti yang saya katakan di awal tadi, seni kontemporer tidak pernah boleh menjadi steril. [mor]