INILAH.COM, Paris – Di tengah belitan krisis ekonomi Eropa, Prancis mengganti pucuk kepemimpinannya. Francois Hollande terpilih menjadi presiden dalam pilpres Prancis, Minggu (6/5/2012).
Hollande yang pemimpin Partai Sosialis mengalahkan incumbent Nicolas Sarkozy dengan perolehan suara 52%, sesuai jajak pendapat yang digelar beberapa lembaga. Ia menjadi pemimpin sosialis pertama, setelah Francois Mitterrand turun pada 1995 lalu.
Pria kelahiran 12 Agustus 1954 ini memiliki tiga gelar diploma elit. Yakni dari Ecole des Hautes Etudes Commerciales de Paris (HEC), Institut d`Etudes Politiques de Paris (Sciences Po) dan Ecole nationale d`administration (ENA).
Hollande pernah menjabat Sekretaris Partai Sosialis pada 1997-2008. Ia juga pernah menjadi Walikota Tulle, kota di wilayah tengah Prancis, pada 2001-2008, sekaligus anggota parlemen untuk wilayah Correze.
Selama kampanye, ia menonjolkan diri sebagai seorang presiden yang cool dan calm. Karakter yang berlawanan dengan Sarkozy yang selalu dianggap hiperaktif. Rakyat yang sudah kecewa dengan Sarkozy pun memilihnya.
Hollande berjanji akan menekan angka pengangguran Prancis yang sudah tinggi. Salah satunya dengan mempekerjakan 60 ribu guru, sejalan dengan penciptaan 150 ribu lapangan kerja di bidang lain.
Sebagaimana kalangan sayap kiri lainnya, Hollande menentang kebijakan penghematan (austerity measure) yang diwajibkan Uni Eropa, agar kawasan ini keluar dari krisis. Oleh sebab itu, ia ingin fokus pada pertumbuhan dan terciptanya lapangan kerja.
Ia berjanji, anggaran belanja negara imbang per 2017 dan mendesak pembentukan Badan Suku Bunga Eropa. Hollande mengusulkan pajak 75% bagi warga dengan pendapatan diatas 1 juta euro (Rp11,7 miliar) per tahun dan peningkatan upah minimum.
Dalam kebijakan luar negeri, Hollande mengatakan akan menarik pasukan Prancis dari Afghanistan hingga akhir tahun ini, serta mengintervensi urusan negara lain di bawah mandat yang diberikan Perserikatan Bangsa Bangsa.
Pada pilpres putara pertama dua pekan lalu, Hollande sudah berada di puncak dan mengalahkan Sarkozy dengan 28,6%. Ini adalah kejutan bagi kubu incumbent. Apalagi dari sosok pria pendiam yang tiba-tiba unjuk kemampuan berdebat. [ast]