Rabu, 19 Juni 2013 | 21:18 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Tutup  
Catatan dari Universitas California Berkeley
Gugatan Moral-Etis Prof Tariq Ramadan (tamat)
Headline
inilah.com
Oleh: Ahluwalia
web - Jumat, 20 April 2012 | 07:00 WIB

INILAH.COM, Berkeley - Prof Tariq Ramadan akhir-akhir ini terus menggugah masyarakat internasional, untuk mengutamakan etika dalam berbagai sendi kehidupan. Cucu Hasan Al-Banna, sang pendiri sekaligus Bapak Ikhwanul Muslimin Mesir, itu memberikan ceramah di Universitas California Berkeley, beberapa waktu lalu. Berikut intisarinya.

Di seluruh Eropa, meningkatnya jumlah sengketa antara Muslm dan lingkungan social Eropa, semakin membuat banyak orang mempertanyakan kompatibilitas cita-cita Eropa dan Islam. Inggris, misalnya - tempat domisili dan bekerja Tariq Ramadan - sempat tenggelam dalam perdebatan sengit selama berminggu-minggu tentang apakah perempuan Muslim harus diizinkan pemerintah untuk memakai cadar/jlbab ataukah tidak

Menantang tokoh kuat, seperti Osama bin Laden, yang berusaha mengadu Muslim melawan Barat, Ramadan telah fokus pada upaya mendorong Muslim Eropa untuk tetap setia pada iman mereka dan setia kepada masyarakat sekuler di mana mereka tinggal. Itu adalah tugas yang mendesak, katanya.

Pada awal abad 21 ini, Ramadhan berpendapat, 15-20 juta penduduk Muslim di Eropa - kebanyakan dari mereka sudah menjadi warganegara Eropa - tidak bisa lagi melihat diri mereka sebagai orang asing di tanah air baru mereka itu. Sebaliknya, kata Ramadan, mereka akan melihat Eropa sebagai "rumah kesaksian" di mana umat Islam menjadi saksi pesan agama mereka dengan hidup damai di dunia modern.

Untuk melakukannya, kata Ramadan, umat Islam harus kembali ke akar Islam, tetapi dengan tujuan yang sama sekali berbeda dibandingkan dengan kaum Salafi literalis yang berusaha untuk menciptakan kembali "kemurnian" Islam awal. Tujuannya adalah "untuk kembali ke akar tradisi, menemukan universalitasnya sehingga dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan hari ini.’’ Reformasi etika Islam bukanlah kompromisme dengan situasi sekarang, namun suatu langkah untuk menjawab tantangan kekinian dengan pendekatan adaptif dan tranformatif agar umat Islam mampu berkembang di tengah modernitas , tidak jumud dan tidak mandeg atau teralienasi modernism," katanya.

Dalam pandangan Ramadhan, pendekatan ini bukan hanya sebuah pilihan, melainkan keharusan. Norma-norma sosial dan budaya dari abad 8 suku Arab - beberapa di antaranya telah erat terjalin ke dalam praktek Islam selama berabad-abad - jelas tidak relevan untuk Muslim Eropa hari ini.

"Tidak ada jalan lain selain membaca ulang, reunderstanding, menjadi kritis terhadap diri sendiri," tegas dia. Bahwa Alquran adalah firman Allah, seperti yang diwahyukan kepada Muhammad.Tetapi ini berarti melihat Alquran sebagai "pesan abadi bertemu dengan realitas sejarah," katanya. "Pendekatan dogmatis ke teks tidak ada hubungannya dengan teks, tetapi dengan pikiran pembaca," tambahnya.

Pada tingkat yang lebih praktis, Ramadhan mendorong Muslim Eropa untuk tidak menjauhkan diri dari masyarakat tempat mereka hidup tetapi untuk merangkul mereka dan berkiprah dengan peran penuh dalam perkembangan mereka. "Etika Islam harus memelihara komitmen untuk masyarakat," katanya.

Ramadan mengingatkan lagi, keberadaan Muslim di Amerika Serikat adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa kita abaikan. Setiap hari kita akan melihat umat Islam di Amerika, mereka ada yang berprofesi sebagai dokter yang menyelamatkan pasien di rumah sakit atau ruang operasi, atau pengusaha sukses yang mempunyai uang jutaan dollar di Wall Street, bisa juga kita akan mendapatkan seorang muslim yang berprofesi sebagai pengacara kaya. Tetapi, ada hal yang masih menjadi menjadikan pertanyaan, apakah mereka (umat Islam) bisa memberikan kontribusi yang lebih banyak lagi?

Tariq Ramadhan ketika memulai wawancara selalu menyatakan apa yang terpenting harus dilakukan untuk menjadi Muslim dalam realitas yang jelas buat menjalani hidup di Amerika Serikat, bahkan sangat merugi jika umat Islam tidak tampak memberikan kontribusi nyata bagi negeri tersebut. Ia mengatakan bahwa seorang muslim harus terlibat dalam arus utama pembangunan dan menahan diri dari berbagai pembicaraan mengenai diri mereka yang saat ini masih dia anggap minoritas, karena sesungguhnya umat Islam di Amerika itu bukan minoritas.

Jika dikalkulasikan antara Prostestan dan Katolik, jumlah umat Islam di Amerika hampir menyamai jumlah jamaat Katolik dan mengalahkan jumlah jamaah protestan. Tetapi kaum atheis lebih besar jumlahnnya.

Tariq Ramadan berpendapat bahwa Umat Islam di Amerika mesti ikut berbagi tanggung jawab, sebagaimana seperti warga Amerika pada umumnya. Sudah seharusnya umat Islam di Amerika memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengubah masyarakat Amerika agar bisa lebih baik lagi, sebagaimana fitrah seorang muslim untuk selalu menjadi para da’i (penyeru) dalam kebaikan.

Tetapi, ia menyatakan bahwa tantangan dan bahayanya, seringkali seorang Muslim yang bekerja dengan mereka (warga amerika) terkadang seorang muslim lupa mengenai Tuhan dan esensi etika. Sehingga mereka didorong oleh kecenderungan ingin meraih kekuasaan dan uang yang melimpah dengan cara tidak etis. Menurut dia, tantangan itu harus dilengkap dengan mengingatkan umat Islam bahwa setelah seorang muslim terlibat dalam kegiatan masyarakat, mereka harus dilengkapi dengan pengetahuan agama Islam yang kuat, supaya agama menjadi prioritas mereka.

Dia memastikan bahwa, pertama umat Islam di Amerika Serikat, Kanada, dan beberapa negara Eropa telah mampu memberikan kontribusi yang nyata. Tetapi selayaknya mereka juga harus mampu memberikan kontribusi terhadap spiritualitas muslim yang menjadi pedoman hidup mereka. Oleh karena itu sangat penting bagi kontribusi umat Islam untuk menunjukkan rasa spiritualitas, etika, nilai-nilai dan penghormatan terhadap manusia, baik laki-laki dan perempuan.

Kedua, Umat islam perlu terlibat dalam pendidikan, mereka perlu dilibatkan dalam sistem di sekolah umum, dengan menjadi guru, siswa maupun orang tua. Ketiga, bahwa umat Islam perlu terlibat dalam berbagai kegiatan pembelaan hak-hak warga sipil. Mereka perlu tahu mengenai hak-hak setiap warga sipil, serta mempelajari sisi hukum dan keadilan. Ini bukan hanya untuk individu seorang Muslim, tetapi ini merupakan tuntutan untuk menjadi pembela umatyang lainnya ketika terkena masalah. Seharusnya, umat Muslim perlu memperjuangkan mengenai hak-hak mereka dan hak orang miskin umumnya yang terpinggirkan.

Demikian catatan saya atas kuliah Prof Tariq Ramadan di UC Berkeley dengan bacaan yang saya peroleh seperlunya. (tamat)

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.