Novel trilogi Millennium karya Stieg Larsson tercatat telah terjual sebanyak 65 juta kopi – itu hampir tujuh kali lipat dari jumlah populasi Swedia (sekitar 9,3 juta jiwa). Ketiga buku ini (juga adaptasi filmnya) adalah fenomena budaya global.
Sedihnya, novelisnya meninggal tahun 2004, tepat sebelum karakter bukunya – Lisbeth Salander, seorang periset muda dan moody yang selalu berpakaian hitam-hitam dengan dandanan punk rock – mengisi imajinasi pembaca di seluruh dunia.
Stieg Larsson terobsesi dengan sisi gelap dari kehidupan di negeri Skandinavia – sebuah dunia di balik kesempurnaan IKEA, Volvo dan ABBA.
Di luar kondisi sosial demokratik dan gagasan ideal “kesejahteraan negara” yang dianut Swedia, Larsson memberi peringatan tentang kehadiran dan pengaruh yang semakin besar dari sejumlah kelompok ekstrem sayap kanan anti-imigran.
Dengan peristiwa pembunuhan massal yang terjadi tahun lalu di Norwegia yang memakan 77 korban tewas, kekhawatiran sang novelis terasa pas dan terdengar seperti sebuah profetik.
Bahkan bisa dibilang, penembak berdarah dingin bernama Andres Behring Breivik yang meneror Oslo dan Utoya tahun 2011 bisa saja menjadi salah satu penjahat dalam novel-novel Larsson.
Trilogi Millennium terdiri atas tiga novel: The Girl with the Dragon Tattoo (2005), The Girl who Played with Fire (2006) dan The Girl who Kicked the Hornet’s Nest (2007).
Seperti yang saya sebutkan tadi, seri novel ini telah diadaptasi menjadi tiga film Swedia yang bagus di tahun 2009 (dengan bintang Michael Nyqvist dan Noomi Rapace), dan kemudian diadaptasi lagi oleh Hollywood dengan bintang si James Bond, Daniel Craig dan Rooney Mara, yang akhirnya mendapatkan nominasi Oscar. Film-film tidak terlalu family-friendly, jadi jangan sekali-sekali menontonnya bersama Ibu anda.
Fokus dari ketiga novel (dan film) ini selalu berpindah-pindah dari tokoh utama kita, Lisbeth Salander yang berpembawaan cuek, dan si editor/jurnalis, Mikael Blomkvist, dalam petualangannya mengungkap kasus pembunuhan, jual beli senjata, pencucian uang dan perdagangan manusia, yang semuanya membawanya pada sejarah keluarga Lisbeth yang tragis dan brutal.
Cerita membawa kita menelusuri masyarakat Swedia, mengikuti peristiwa-peristiwa dengan latar belakang lanskap kawasan rural Skandinavia yang suram dan dingin.
Hasil penemuan dari investigasi si jurnalis memicu sejumlah kejadian yang membuka tabir masa kecil Salander yang traumatis, dan terkait dengan sebuah cabal – negara di dalam negara – yang mengguncang fondasi ranah Swedia.
Trilogi Millennium ini menyoroti bias jender bahkan di dalam masyarakat yang paling egalitarian sekalipun. Sejak kecil, Salander mengalami siksaan mengerikan secara seksual, emosional dan psikologis.
Yang membuat lebih buruk lagi adalah negara juga terlibat. Musuh-musuhnya memanipulasi situasi untuk menghukum dan menyiksanya demi memastikan rahasia mereka tidak terbongkar.
Swedia yang digambarkan Larsson penuh inkonsistensi dan kemunafikan – sebuah dunia di mana neo-Nazi dan kaum ekstremis lain tampak berkuasa sementara musuh mereka diberangus dan dibungkam.
Swedia Larsson adalah sebuah tempat yang hidup seseorang bisa dihancurkan bila pihak yang berkuasa menganggap itu perlu demi 'keamanan negara'.
Dengan melambatnya ekonomi Swedia dan goyahnya welfare state, seperti negara-negara Eropa lainnya (tahun ini kemungkinan terjadi resesi walaupun Riksbanken memperdiksi pertumbuhan sebesar 0,7%, sementara OECD menyebutkan bahwa ketimpangan pendapatan telah naik empat kali lipat dari Amerika Serikat), kita otomatis bertanya apakah visi Larsson yang mengerikan itu akan menjadi kenyataan?
Tapi menurut saya, Lisbeth Salander bukan korban. Seperti kebanyakan pribadi penyendiri lainnya, ia mempunyai kemampuan untuk mengorek data rahasia di komputer sesukanya, memecahkan kode dan menembus server dan protocol.
Dia adalah karakter kuat yang mampu melawan kekerasan dan ketidakadilan yang mengancamnya, membalaskan dendamnya sebagai perempuan dan menuntut pertanggungjawaban dari masyarakat, mencari keadilan seperti seorang Dirty Harry di era Internet atau seorang avatar penjaga keadilan.
Trilogi Millennium menyoroti dengan sangat terang masalah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Larsson memperingatkan kita bahwa bahkan dalam masyarakat paling terbuka dan demokratis sekalipun, pasti ada kekuatan-kekuatan yang ingin merampas hak kita.
Siapapun yang membaca novelnya dan mengenal sejarah dan masyarakat Indonesia akan menemukan persamaan yang nyaris membuat bulu kuduk berdiri.
Kekerasan terhadap perempuan dan kaum tertindas, juga usaha untuk membungkam aktivis yang ingin membuka kebenaran yang ingin disembunyikan oleh kaum kaya dan berkuasa, terdengar sebagai skenario yang tak asing lagi bagi kita.
Demonstrasi melawan proposal kenaikan harga BBM yang menghebohkan Indonesia bukan hanya tentang ekonomi. Ia juga merefleksikan kemarahan yang semakin besar di kalangan wong cilik, akan ketimpangan dan ketidakadilan sosial-ekonomi di negara ini, di mana kaum elit tampaknya bisa melakukan apa saja tanpa bertanggung jawab.
Ini membuat kita bertanya: apakah Indonesia membutuhkan sosok seperti Lisbeth Salander? [mor]