Rabu, 16 Mei 2012 | 23:13 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Akhirnya Yaman Berganti Rezim
Headline
Ali Abdullah Saleh - guardian.co.uk
Oleh: Vina Ramitha
web - Rabu, 22 Februari 2012 | 18:52 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Sanaa – Pemilihan presiden pun digelar di Yaman, menyudahi kekuasaan rezim Ali Abdullah Saleh yang telah memerintah selama 33 tahun terakhir.

Rakyat terlihat amat antusias mengantri di TPS, menyebabkan aparat terpaksa membukanya dua jam lebih lama ketimbang jadwal. Berdasarkan sensus, negara berpopulasi 24,7 juta jiwa ini tercatat memiliki 10 juta pemilih.

“Kami ingin menyatakan berakhirnya era Ali Abdullah Saleh dan membangun Yaman yang baru,” ujar Tawakul Karman, aktivis perempuan Yaman yang baru saja memenangkan Nobel Perdamaian, saat berada di TPS Sanaa University.

Wapres Abd-Rabbou Mansour Hadi yang menjadi satu-satunya capres pesaing Saleh, ikut memberikan suaranya di TPS dekat rumahnya, di Ibukota Sanaa. Meski TPS itu sempat dipindah lokasinya pada saat-saat terakhir karena ancaman bom.

“Ini lompatan penting untuk Yaman yang baru. Akan ada perubahan besar dalam politik, ekonomi dan sosial yang merupakan jalan keluar dari krisis yang mencekik negeri ini,” ujarnya.

Hadi diperkirakan akan memenangkan pemilu ini, mengingat Yaman berevolusi untuk meminta Saleh turun jabatan. Kendati demikian, Saleh yang sudah berkuasa puluhan tahun, masih cukup kuat untuk menggoyang Hadi, begitu ia resmi menjabat.

Namun, tak semua tempat seaman Sanaa. Lihat saja Kota Al Hota, Ibukota Provinsi Lahej. Dua orang tewas, setelah polisi menembaki pengunjuk rasa yang melemparkan batu ke TPS untuk memboikot jalannya pemilu.

Sementara di Kota Makala, 16 orang cedera setelah bentrokan antara polisi dengan pengunjuk rasa. Sementara jalanan di Kota Aden nyaris kosong bak kota mati, meski samar-samar terdengar suara tembakan.

Tak lama, pemuda bersenjata yang mengenakan penutup wajah melintas. Mereka berpatroli, mencegah rakyat pergi ke TPS. Meski banyak halangan, menurut pantauan media asing, total suara mencapai 80% pemilih.

Sebagian besar suara yang tidak masuk berasal dari selatan, tempat yang banyak terjadi boikot. Untuk alasan keamanan, beberapa juga menolak meninggalkan rumahnya untuk menuju ke TPS. Hasil resminya baru diketahui beberapa waktu mendatang.

Penduduk di selatan menuding bagian utara negara tersebut merampas sumber daya mereka serta melakukan diskriminasi. Mereka menuntut berpisah dari wilayah utara, seperti keduanya pernah melakukan perang sipil pada 1994, setelah bersatu pada 1990.

KPU Yaman menyatakan, pemungutan suara dihentikan di sembilan titik dari total 301 titik karena terjadi kekakacauan. “Beberapa gangguan sengaja dilakukan di TPS pada sembilan titik itu,” ujar pejabat KPU Yaman, Khamis Al Dayani. [ast]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.