Kamis, 28 Agustus 2014 | 14:05 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Mengapa Kita Belum Go Green?
Headline
guardian.co.uk
Oleh: Vina Ramitha
web - Sabtu, 18 Februari 2012 | 09:08 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Meski sadar bumi yang tua ini terus tercemar, manusia belum juga menghentikan sifat merusaknya. Apa sebenarnya yang menyebabkan kita belum mau ‘go green’?

Jawaban dari persoalan tersebut di atas, sebenarnya cukup sederhana: kita butuh target. Hal inilah yang diusulkan pekerja di Bandara Internasional Schiphol di Amsterdam, Belanda. Mereka memiliki cara yang kreatif membuat orang lebih bersih.

Misalnya di toilet pria, dipasang gambar lalat rumah di bagian dalamnya yang menjadi target untuk mengarahkan air seni. Dalam waktu sehari, jumlah air seni yang ‘salah arah’ turun hingga 80%.

Contoh ini merupakan ‘sentilan’ yang dibutuhkan, cara halus untuk mempengaruhi sikap seseorang tanpa menawarkan insentif berupa materi atau bahkan menerapkan hukuman jika mereka tidak melakukannya.

“Biasanya untuk membuat seseorang melakukan sesuatu, pemerintah atau orangtua membuat peraturan atau menawarkan hadiah,” ujar ekonom Richard Thaler, rekan akademik Cass Sunstein yang mempopulerkan konsep ‘sentil’ atau nudge.

Sadar atau tidak, sentilan ini banyak terjadi dalam keseharian kita. Mulai dari garis pembatas jalan yang membuat pengendara berjalan di dalam lajurnya hingga bungkus permen yang menyolok dan membuat tertarik orang membelinya.

Setiap pengaruhnya, bukanlah hal baru. Tapi Thaler dan Sunstein setuju sentilan ini bisa dilakukan dalam skala yang lebih besar demi tujuan bersama. “Bayangkan lingkungan Anda didesain untuk membantu membuat keputusan,” lanjut Thaler.

Lalu bagaimana kita menyentil orang agar mau peduli terhadap lingkungannya? Menurut filsuf tingkah laku University of Southern Denmark Pelle Hansen, tingkah laku manusia umumnya berasal dari kebiasaan.

“Kita berlama-lama mandi, meninggalkan benda elektronik dalam keadaan nyala dan membuang sampah sembarangan. Ini bagian dari kebiasaan yang tak membutuhkan banyak pemikiran,” ujar pria yang juga mengepalai Danish Nudging Network (DNN).

Tingkah laku otomatis ini, lanjutnya, bahkan tak lagi menarik bagi orang yang melakukannya. Apalagi demi planet ini. Misalnya membuang sampah sembarangan, yang mengurangi kualitas lingkungan bersama.

Sebuah studi dilakukan Hensen dan DNN di Ibukota Denmark, Copenhagen. Mereka membagikan seribu permen di jalanan dan memeriksa tempat sampah. Hal sama kembali dilakukan, dengan sedikit perbedaan.

Kali ini, tim Hensen memasang stiker jejak berwarna hijau yang mengarah ke tempat sampah. Hasilnya, bungkus permen yang dibuang sembarangan berkurang 46%. “Ini menarik perhatian mereka,” ujarnya.

Langkah serupa dicoba oleh sebuah gedung kantor di Amsterdam, yang merancangnya sedemikian rupa sehingga pengunjung memilih naik tangga ketimbang menggunakan elevator yang boros energi.

Mereka memasang stiker merah di lantai yang mengarahkan pengunjung ke tangga. Hasilnya, terjadi peningkatan 70% dari jumlah pengunjung yang naik tangga, dalam waktu 24 jam pengambilan sampel.

“Jadi, ada kekuatan yang mengendalikan. Penasaran, hal-hal baru dan efek bola salju akan terjadi jika Anda tiba-tiba melihat orang ramai-ramai naik tangga,” pungkas Thaler. Lalu, siapa yang harus disentil, pemerintah atau seluruh manusia? [ast]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA POPULER