INILAH.COM, Tripoli – Rakyat Libya merayakan setahun revolusi penggulingan rezim mendiang Muammar Khadafi. Kini, apa yang mereka nantikan?
Selebrasi sedang direncanakan di hampir seluruh kota di penjuru Libya. Beberapa hari ini, penduduk Kota Benghazi yang menjadi titik mula pergolakan, juga telah banyak membicarakan peringatan setahun.
Sayangnya, peringatan bakal digelar di tengah kekhawatiran adanya ketidakstabilan yang terus berlangsung di negara Afrika Utara ini. Ratusan militan memadati negara ini, sementara pengamat mempertanyakan kekosongan institusi negara.
Pemimpin sementara Libya, Mustafa Abdul Jalil, pekan ini berjanji akan memberi hukuman sekeras mungkin pada siapapun yang mengancam keamanan negara saat peringatan setahun revolusi digelar pada Jumat (17/2) waktu setempat.
“Pemerintah kami terbuka terhadap seluruh rakyat Libya, baik pendukung revolusi maupun tidak. Namun toleransi ini bukan berarti kami tak bisa menjaga keamanan dan stabilitas negara,” ujarnya.
Belum ada pengumuman akan digelar peringatan secara resmi, untuk menghormati ribuan orang yang tewas dalam upayanya membebaskan Libya. Hanya ada sejumlah event lokal yang dipersiapkan dimana-mana.
Media melaporkan, Benghazi sudah merayakan lebih dahulu. Warga membakar kembang api dan mercon, membunyikan klakson mobil serta mengunjukkan dua jari mereka membentuk huruf ‘V’ untuk victory atau kemenangan.
Sementara ratusan lainnya berkumpul ke pusat kota yang kini disebut Freedom Square, meneriakkan yel-yel anti-Khadafi. Mereka meneriakkan yel sarkasme, “curly, we’re sorry,” yang kemungkinan merujuk pada rambut keriting Khadafi.
Di ibukota, pembatas jalan dipasang dimana-mana untuk mencegah upaya mereka yang hendak merusak perayaan. Seorang warga Tripoli, Naima Misrati mengatakan, banyak polisi dan satuan antihuru-hara berjaga.
“Mereka mengultimatum mereka yang hendak merusak acara. Tapi saya tak ada kata-kata untuk mengungkapkan kegembiraan ini, kebahagiaan terlihat di seluruh penjuru Tripoli,” lanjutnya.
Pada 17 Februari 2011, terjadi unjuk rasa besar-besaran untuk pertama kalinya di Libya, menentang kepemimpinan Kolonel Khadafi. Sejak saat itu, kekuatan pemberontak terus membesar.
Unjuk rasa yang kemudian dipenuhi darah ini mengisap kian banyak pendukung yang berujung pada intervensi militer Barat yang dipimpin NATO. Khadafi akhirnya tewas di kota kelahirannya, Sirte, pada 20 Oktober 2011.
Pemerintah Libya yang saat ini berkuasa, dianggap belum mampu mempertahankan stabilitas nasional. Masih banyak rakyat dan militan bersenjata bak koboi yang berkeliaran di jalan, hal yang berbahaya bagi sebuah negara. [ast]