Rabu, 16 Mei 2012 | 22:52 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Catatan Harian Davos
Headline
Karim Raslan - Foto : Ist
Oleh: Karim Raslan
web - Selasa, 14 Februari 2012 | 00:27 WIB

Saya bukan seorang tipikal Davos Man, tapi saya menikmati berada di World Economic Forum (WEF), ketika saya memimpin Global Agenda Council on Southeast Asia.

Ini bukan hanya merupakan kesempatan untuk bergaul dengan para elit global, tapi juga kesempatan merasakan bagaimana perkembangan zaman di dunia yang semakin beragam ini.

Tapi Davos tahun ini agak kabur. Mungkin karena jadwal saya yang sangat padat, mungkin juga karena saya sedang melalui masa penyembuhan dari flu. Apapun sebabnya, seminggu di Switzerland ini bagi saya terasa sebagai kelebatan pemikiran, kesan dan sensasi.

Pertama, ada rasa prihatin di antara para pemain dunia ini, yang telah menjadi semacam kewajiban setelah menyaksikan laju pertumbuhan yang lambat dari tahun ke tahun.

Tapi, ini tidak menahan macam-macam bank, perusahaan multinasional dan konsultan untuk terus mengadakan pesta-pesta networking yang mahal. Saya rasa keprihatinan ini tidak berlaku bagi golongan kaya dan berkuasa.

Ketidakhadiran delegasi China yang banyak juga terasa, karena sedang dalam masa Tahun Baru China. Ini memberikan kesempatan bagi bangsa Asia Timur lainnya untuk bersinar.

Perdana Menteri Yingluck Shinawatra datang dengan delegasi yang besar dan disambut dengan baik. Setelah dua peristiwa konflik politik dan bencana alam, Thailand tampaknya bersemangat untuk mencapai posisi perekonomian yang prima.

Indonesia juga datang dengan kontingen besar, walaupun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak hadir. Ini adalah tanda bahwa para pemimpin korporat Indonesia siap berjuang sendiri untuk menaklukkan tantangan di dunia.

Saya juga melihat rombongan kecil dari Burma, sebuah tanda yang jelas dari rehabilitasi negara ini. Bahkan ada pemutaran khusus film biopik tentang Aung San Suu Kyi; The Lady, yang juga dihadiri oleh bintangnya asal Malaysia; Michelle Yeoh.

Kemanapun saya pergi, saya melihat tanda-tanda kekuatan global yang tidak kentara. Delegasi dari negara-negara Afrika cukup besar, walaupun bobotnya tidak sebesar India atau Brazil.

Pidato atau sesi yang menampilkan Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Menteri Keuangan AS Timothy Geithner cukup menarik perhatian. Menteri Luar Negeri Brazil Antonio Patriota juga berbincang tentang bagaimana para teknokrat Uni eropa melobi BRIC untuk bantuan menyelamatkan Eropa.

Namun tetap ada semacam rasa cemas yang terasa, bahwa jatuhnya Eropa akan membuka jalan bagi bengkitnya Jerman. Kita bisa melihat produk Jerman dimana-mana, termasuk mobil-mobil Audi yang mengkilap menjadi transportasi para VIP dari Davos ke Klosters, dan van VW bagi anggota delegasi yang lain.

Saya juga mengambil sebuah edisi pesial dari majalah Stern, yang merayakan ulang tahun ke-300 Raja Frederick Agung dari Prussia, yang menyebut dirinya sebagai "uber-Prussian".

Ada nostalgia yang semakin besar tentang Frederick di antara orang-orang Jerman yang mensolidasi kekuasaan Prussia, tapi juga dikenal karena pencapaian intelektual dan kulturalnya, termasuk mendirikan Potsdam dan menjadi patron bagi Voltaire.

Mungkin dia mengingatkan orang-orang Jerman pada suatu masa ketika mereka juga berada di ambang kekuasaan yang besar, walaupun dihantui rasisme dan fasisme.

Apakah lebih dari sebuah kebetulan bahwa Kanselir Angela Merkel mendeskripsikan dirinya sebagai "sangat Prussia" dan tidak ragu-ragu mempromosikan "nilai-nilai Jerman"? Apapun kasusnya, Berlin, dan Prussianya mungkin akan mendapat tempat sebagai pusat finansial dan politik dari benua Eropa.

Ada juga sejumlah pertemuan, baik yang kebetulan maupun yang direncanakan. Pada Malam Indonesia di Davos, saya menyantap nasi goreng bersama Mukhlis dari Antara dan Uni Lubis dari ANTV, mendiskusikan kemungkinan Indonesia mengembangkan "kekuatan halus"-nya sendiri.

Kemudian, di sebuah pojok yang sepi di sebuah bar, saya bergosip dengan teman saya seorang kolumnis Financial Times, Gideon Rachman. Dia bercerita tentang tiga pertemuan dengan para pembuat kebijakan penting dari Eropa.

Semuanya memperkirakan bahwa zona Eropa akan jatuh, walaupun Merkel dan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy sudah mengerahkan segala upaya.

Saya juga ingat bagaimana saya mencoba menemukan rumah igloo Occupy WEF. Saya menghabiskan waktu satu jam menembus salju (yang tingginya bisa mencapai beberapa meter itu), sebelum akhirnya menyerah karena kedinginan.

Akhirnya, ada satu momen ketika saya sedang mengambil mantel saya di hotel Morosani Schweizershof, saya berhenti sejenak karena saya ingat disinilah setahun lalu saya bertemu Saif Al-Islam Gaddafi, putra dari mendiang diktator Libya, Muammar Gaddafi.

Waktu itu, Gaddafi tidak disukai negara-negara Arab dan Afrika, sementara Saif adalah putra Gaddafi yang penuh dengan semangat modernisasi, dan disukai oleh para pemerhati kebijakan dimana-mana. Sekarang, sang ayah terkubur di suatu tempat di gurun pasir Libya, dan Saif berada dalam penjara di Zintan.

Ini adalah tanda bagaimana waktu berganti, tapi juga tanda begitu cepatnya Davos berubah. Kita bisa saja menjadi favorit semua orang di satu waktu, dan dikucilkan di waktu berikutnya. Tapi begitulah dunia berputar. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.