INILAH.COM, Jakarta - Liga Arab tadinya dinilai sebagai komunitas tak bergigi yang didirikan ala kadarnya. Namun kini, seiring meningkatnya kekerasan revolusi di kawasan, Liga Arab menunjukkan taringnya.
Dengan alasan meningkatnya kekerasan, pekan ini Liga Arab menghentikan misi monitoring yang dilakukan di Suriah. Pengumuman ini dibuat beberapa hari setelah pemerintah Suriah setuju misi itu diperpanjang sebulan lagi.
Perubahan kebijakan ini tentunya mengejutkan bagi Suriah. Sekaligus, mensinyalkan fase baru yang dilakukan oleh lembaga yang didirikan pada 22 Maret 1945 ini dalam menangani krisis di wilayahnya.
November lalu, Liga Arab membekukan Suriah dari peringkatnya. Beberapa pekan kemudian, sanksi dijatuhkan terhadap Suriah. Baru di penghujung 2011, dikirimkan tim pengawas ke negara itu.
Tak mempan, langkah selanjutnya yang mereka ambil tak tanggung-tanggung. Liga Arab meminta bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya Dewan Keamanan, untuk mempertimbangkan rancangan resolusi dari mereka.
Isi resolusi yang disusun salah satu anggota Liga Arab, Maroko, yakni meminta Presiden Suriah Bashar Al Assad segera turun dari jabatannya dan menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya.
“Liga Arab sudah lelah dengan opsi-opsi internal yang terbatas. Mereka kini melakukan aksi sendiri untuk memecahkan krisis tersebut. Ini berarti, Liga Arab menjadi sebuah badan yang besar,” ujar Chris Phillips, dosen Timur Tengah di Queen Mary, University of London.
Enam dekade lalu, lembaga ini didirikan untuk mendekatkan hubungan negara-negara di kawasan secara politik, ekonomi, budaya dan sosial. Anggota pertamanya hanya enam, yakni Mesir, Irak, Libanon, Arab Saudi, Suriah dan Transjordan yang kini Jordania.
Per awal 2012, tercatat 22 negara sebagai anggota Liga Arab. Termasuk Palestina yang oleh Barat disebut Palestine Liberation Organization (PLO) karena belum diakui kedaulatannya. Di dunia, keberadaan Liga Arab sudah diketahui dan diakui legitimasinya.
“Sayangnya, dalam sebagian besar sejarahnya, Liga Arab dikenal sebagai organisasi ompong. Sebab itulah saya kaget saat 18 dari 22 anggotanya sepakat menjatuhkan sanksi ke Suriah,” ujar Phillips.
Awal 2010, Liga Arab juga membekukan keanggotaan Libya menyusul kekerasa di negara itu untuk memprotes rezim Muammar Khadafi yang menyerang pengunjuk rasa. Dalam beberapa bulan, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi untuk Libya.
Lalu apakah kini kita menyaksikan Liga Arab yang bertaring? Menurut Paul Kinsinger yang dosen di Thunderbird School of Global Management dan 19 tahun bekerja untuk Badan Intelijen AS (CIA), Liga Arab memang berubah.
“Kita menyaksikan organisasi ini melakukan intervensi atas nama rakyat. Ini sesuatu yang tidak mereka lakukan di masa lalu, apapun alasannya. Ini satu gerakan yang disebabkan gelombang revolusi Arab,” ujar Kinsinger, merujuk pada ‘Arab Spring’.
Sejak mengintervensi Libya, Yaman dan kini Suriah, cara orang memandang Liga Arab sudah berbeda. Meski begitu, masih banyak yang harus dilakukan Liga Arab agar benar-benar dianggap sebagai organisasi bertaji.
“Tadinya, kita tak melihat mereka. Kini mereka mendapat momentum dan kita melihat Liga Arab juga bisa serius dan berinisatif,” kata Mohamed Alsiadi, koordinator Arabic Language and Cultural Studies Program di Fordham University yang berasal dari Suriah. [mdr]